Foke Tersandung Jari Tengah*

Foke mengacungkan jari tengah di depan publik saat foto bersama anak band. Ia mengaku tak paham arti gerakan itu. Ia dianggap gagap budaya terhadap jamannya.

HEBOH foto Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengacungkan jari tengah di sejumlah media dalam jaringan (daring), Senin (16/4) di Jakarta. Foto-foto itu konon awalnya beredar di jejaring media sosial, twitter. Mencari foto awal yang beredar itu cukup kesulitan, sebab hampir kebanyakan “masyarakat twitter” mengutip dari sejumlah media daring tersebut.

Foto memperlihatkan Fauzi Bowo bersama seorang wanita muda di sampingnya mengacungkan jari tengah, yang dilingkari lingkaran merah. Dilihat kualitas fotonya sangat buruk: semacam potongan (cropping) dari sebuah foto utuh atau rekaman video. Dan barangkali, orang akan menyangka bahwa itu foto itu palsu atau penuh rekayasa.

Tapi, setelah saya browsing di internet, ternyata stasiun televisi swasta RCTI memiliki rekaman kejadian, yang bikin heboh di dunia maya itu. Dan, sepertinya – dugaan saya – foto yang beredar itu adalah hasil jepretan seseorang saat RCTI menayangkannya.

Pada Minggu (15/4/2012), RCTI hadir di acara jual-beli mobil/motor bekas di Senayan, Jakarta Pusat. Acara itu diadakan oleh Harian Poskota. Setelah pengumuman, Foke pun foto bersama dengan beberapa orang, termasuk beberapa anak muda dari grup band.

Tanpa disadari, karena mungkin mengikuti gaya wanita di sebelahnya, ia pun ikut-ikutan mengacungkan jari tengah. Sementara laki-laki di sisinya ada yang mengacungkan jempol dan tiga jari ala anak rock n roll.

Kepada wartawan, Foke menyatakan tak mengetahui maksud simbol jari tengah itu. Ia hanya berkomentar, ”Saya enggak ngerti acara begituan. Sampai sekarang juga enggak ngerti. Memang semua anak band seperti itu,” ujar Foke, Senin.

Kepala Bidang Informasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Pemprov DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia membenarkan bahwa gubernur berfoto demikian bersama anak band.

“Pak Fauzi foto bareng sama pemenang lomba band dan mereka bergaya seperti itu. Pak Fauzi sendiri melakukan itu (acungkan jari tengah,red) spontan karena anak band yang disamping dia, gayanya seperti itu,” ujarnya kepada Jurnal Nasional melalui pesan pendek.

Ditanya apakah Foke tak paham arti dari acungan jari tengah? Cucu mengatakan, “Dia enggak terlalu paham. Tapi terlepas paham atau tidak itu benar-benar kejadian spontan,” katanya.

Di mata publik, bukan kali ini saja, Foke membikin kejadian kontroversial. Tahun lalu, ia berkomentar bahwa perempuan yang naik angkutan kota, jangan memakai rok mini karena bisa mengundang ‘syahwat’ laki-laki.

Ia menanggapi beberapa kejadian pemerkosaan di angkot. Para aktivis perempuan, menilai pernyataan itu melecehkan kaum perempuan, karena pemerkosaan bukan semata faktor rok mini tapi karena syahwat laki-laki.

Pengamat Politik dari lembaga Charta Politika Yunarto Wijaya menilai kejadian yang dialami Foke bisa saja  karena ketidaktahuannya atas simbol jari tengah. Dikarenakan gaya-gaya seperti itu cenderung dipakai anak-anak muda.

Makanya, ia sangat menyayangkan ketidaktahuan Foke atas simbol yang tidak etis itu. “Ini sebuah kegagapan seorang pemimpin dengan perkembangan jaman. Jika seperti itu, ini berbahaya sekali,” katanya.

Menurutnya, pemimpin khususnya di Jakarta, perlu proses pembelajaran terus-menerus agar mengetahui budaya dalam masyarakatnya yang terus berubah.

Ia juga menyarankan agar Foke lebih baik menjelaskan kejadian itu kepada publik. Hal ini untuk menetralisir opini atau persepsi publik terhadap Foke. “Saya harap Foke minta maaf atas ketidaktahuan itu, untuk menunjukkan sikap

kekhilafan dirinya. Karena ini efeknya sudah bergulir luas,” katanya.

**

EKSPRESI mengacungkan jari tengah ini sudah berumur ribuan tahun. Dalam artikel “When did the middle finger become offensive?” oleh Daniel Nasaw, dikatakan gerakan mengacungkan jari tengah dilakukan sejak abad ke-4 SM di Athena. Jari tengah dimaknai untuk menyatakan penghinaan dan pelecehan. “Itu salah satu gerak tubuh penghinaan paling kuno yang dikenal,” kata Antropolog Inggris, Desmond Morris seperti dikutip dari BBC (6/2/2012).

“Jari tengah adalah (menyimbolkan, maaf) penis dan jari-jari melengkung di kedua sisinya adalah testis. Dengan melakukan itu, Anda membuat simbol phallic, dan ingin mengatakan, ‘ini adalah lingga’ yang Anda katakan kepada orang-orang.”

Gerakan ini secara luas dikenal hingga Amerika sebagai membalikkan “burung” dan memiliki maksud menghina orang lain. Ada yang memaknai gerakan ini sebagai ungkapan “fuck off”. Dulu, Bangsa Romawi mengistilahkan itu sebagai “digitus impudicus” (jari tidak senonoh).

Menurut Morris, versi lain kemunculan ekspresi jari tengah di Amerika Serikat awal 1886. Ini bermula ketika tim bisbol Beaneaters Boston (BB) dan New York Giants (NYG) berfoto, salah satu pemain BB, Charles Gardner Radbour, mengacungkan jari tengah.

Versi lain, menurut Wikipedia, ekspresi jari tengah muncul ketika Perang Agincourt pada 1415. Itu dilakukan tentara Inggris kepada tentara Perancis yang kalah.

Waktu itu, banyak tentara Inggris yang tertawan dipotong jari tengahnya oleh Perancis. Ini upaya agar tentara tersebut tidak bisa menggunakan panah. Kenyataannya, Inggris kemudian mampu mengalahkan Perancis, sehingga sebagai ekpresi kemenangan, tentara Inggris mengacungkan jari tengahnya.

Hal serupa juga dilakukan beberapa selebritas dunia kepada para paparazi atau spontanitas mereka di depan khalayak. Terakhir, dilakukan selebritas Adele, penyanyi “Someone Like You” diajang Brit Awards 2012, di London (21/2/2012). Bukan karena Paparazi, ia mengacungkan jari tengah, tapi pidatonya dipotong oleh sang pembawa acara.

Pada 1994, pebalap F-1 dari tim Benetton (sebelum ke Ferari) Michael Schumacher cekcok dengan pebalap Damon Hill dari tim Williams. Ini lantaran, di GP Inggris, ia diacungi “jari tengah” oleh Damon Hill.

Saat sesi pemanasan sebelum start, keduanya keluar garasi, tapi secara kasar Schumi menggasak dan menyalip Hill. Schumi pun langsung terdiskualifikasi. “Sementara Damon Hill didenda 25.000 poundsterling (kurs sekarang: sekitar Rp375 juta) karena mengacungkan jari tengah dihadapan orang banyak,” tulis Wikipedia.

**

DI INDONESIA, hampir tak pernah ada tradisi masyarakatnya mengacungkan jari tengah, baik sebagai ekspresi kejengkelan/menghina atau sekedar meluapkan kondisi emosi tertentu seseorang. Ekspresi seperti ini dikenal masyarakat Indonesia, umumnya di perkotaan, melalui musik dan film barat. Dari situlah sebagian anak muda cenderung meniru mentah-mentah, tanpa mengerti makna sosiologisnya.

Dikarenakan sebagian dari mereka menganggap pose seperti itu, sebagai sebuah kebaruan/tren dalam “bergaul” dan lebih dekat pada “modernitas”, sehingga patut untuk ditiru. Padahal, simbol jari tengah mengisyaratkan ungkapan sangat kasar, jauh dari tata nilai susila dan moral budaya ketimuran.  Dan sayangnya, ketika itu dipraktikkan oleh mereka, orang-orang di sekitarnya malah menganggapnya sebagai lelucon belaka.

Persis seperti kejadian foto bersama Foke dan anak band itu. Pose itu justru direspon dengan ketawa. “Suasana di sana pada saat itu cair kok, yang nonton pada senang-senang saja tuh,” kata Cucu.

Kalau saja hukuman di Inggris dimiliki Indonesia, barangkali Foke wajib bayar sekitar Rp375 juta. Namun, sanksi sosial sepertinya lebih terasa ketimbang hukuman denda. Bagaimanapun nasi sudah jadi bubur…

*(versi lain dari berita yang sebelumnya dimuat di Jurnas.com (16/4/2012))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s