Dari Johar 8: Menciptakan Nilai*

MANUSIA tak lepas daripada nilai karena ia sebagai sebuah kualitas yang dihargai, dipegang, dikehendaki, dan dijunjung tinggi. Karena nilai pula itulah terkadang orang bertengkar untuk mendapatkannya. Dan itulah yang sekarang dialami oleh Pak Raden alias Drs Suyadi, pencipta si Unyil.

Di sini tidaklah berkaitan masalah nilai moralitas atau nilai hukum agama, tapi sebuah nilai estetis dari hasil kreativitas, yang memiliki nilai ekonomis. Pak Raden kehilangan nilai-nilai yang ada pada Si Unyil. Ia kehilangan segala bentuk klangenan-nya itu. Ia seperti terenggut separuh jiwanya. “Saya sudah tidak punya apa-apa,” katanya.

Dulu ketika mencipta boneka lucu itu, ia hanya memenuhi pekerjaan. Ia memang suka dengan dunia anak. Dia menciptakan tokoh idola anak-anak era 1980-an. Dengan tokoh itu, ia mendongeng; memberikan kisah-kisah kepada anak-anak tentang segalah hal, termasuk tentang nilai hidup: tidak boleh berbohong, mencuri, tapi untuk lebih mencintai sesama manusia.

Pak Raden tak pernah berpikir bahwa kelak karyanya itu akan mendatangkan sebuah nilai ekonomis. Sebuah penghasilan yang jutaan rupiah. Karena baginya, nilai yang ia ciptakan adalah sebagai wujud kesayangannya bagi anak-anak.

Di umurnya yang senja, ia mengeluhkan “anak kandungnya” itu telah direnggut dari pangkuannya. Ia berontak dengan segala ketidakmampuan fisiknya untuk merebut kembali. Ini karena nilai yang ia buat “disalahgunakan” orang lain.

Kisah hidup Pak Raden membuat semua orang mendadak mencintainya. Menteri BUMN Dahlan Iskan pun sampai merogoh koceknya untuk memberi “gaji” sebesar Rp10 juta per bulan, selama enam bulan ke depan. Calon Gubernur DKI Jakarta Alex Noerdin pun tergerak hatinya untuk membantu pengobatan Pak Raden.

Ini gara-gara sebuah nilai yang dibangun oleh Pak Raden. Itu barulah nilai yang dibangun dari Si Unyil? Bagaimana bila nilai itu dibangun dari rumah sakit, sekolah, rumah ibadah, jalan, kereta api, pesawat, mal, media massa, dan lainnya.

Sayangnya, kita tak pernah berpikir bahwa sesuatu yang kita bangun , justru sedang membangun sebuah nilai. Dan terkadang, nilai-nilai itu terlalu berlebihan dan menjadi nilai yang merugikan. Tak sulit untuk membentuk nilai pada diri manusia.

Saat ini, nilai itu dibentuk melalui budaya massa. Apa pun bisa seragam karena melalu satu media yaitu televisi. Ketika ada calon gubernur yang mempromosikan baju kotak-kotak sebagai ciri khasnya, hampir seluruh orang larut dalam hegemoni baju kotak-kotak. Ketika kali ketemu dengan orang berbaju kotak-kotak, secara tidak langsung ada yang berkomentar, “Wah Jokowi-Ahok nih.”

Dan sekali lagi, nilai-nilai yang dibentuk Jokowi-Ahok memang untuk sebuah nilai ekonomis. Mereka mengejar dukungan suara melalui penjualan baju kotak-kotak. Meskipun, Jokowi mengartikan bahwa kotak-kotak itu sebagai sebuah nilai pluralisme. “Baju Kotak-Kotak adalah salah satu bentuk perjuangan kita.”

Apakah semua yang kita bangun harus bermakna nilai ekonomis? Tentu saja tidak, kehidupan Bung Hatta dan Widjajono Partowidagdo mengajarkan tentang kesederhanaan dan kejujuran. Kita belajar kegigihan, keberanian, ketabahan dalam diri Prita Mulyasari. Ia melawan sebuah institusi besar, tapi ia tak lelah mendapatkan haknya. Ia mencari nilai yang menjadi cita-citanya: pelayanan kesehatan yang baik.

Dan apa yang dilakukan Prita itu, saat ini juga sedang dilakukan oleh Pak Raden. Ia mencari anak kandungnya, yang telah memberikan banyak nilai ekonomis bagi banyak orang. Sementara, Pak Raden tak sepeser pun menerima nilai yang ia ciptakan. Pak Raden bukanlah ingin mendapatkan uang. Ia sedang ingin meminta nilai yang ia buat, bisa menemani di akhir senjanya. Ini tak sekedar nilai ekonomis, tapi nilai sebuah kreativitas.

 

*(dimuat di Jurnal Nasional, Selasa (1/5/2012))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s