Hari Buruh yang Bersampah

“Wah ini bukan hari buruh, tapi hari sampah,” ujar Ruhani sambil menyapu sampah, kemudian dimasukkan ke gerobak yang ditarik Jamal.

ADZAN Subuh di sekitar Jalan Tanah Abang 2 telah usai berkumandang. Sadri (25) sudah terbangun dan siap berangkat bekerja. Saban hari, ia harus memulai kerjanya pukul 05.00. Hari itu, ia tahu akan bekerja agak lebih ekstra ketimbang hari biasa. Ribuan buruh bakal mengepung Istana Negara di Jalan Medan Merdeka Utara, memperingati Hari Buruh se-Dunia (May Day)

Tapi, Sadri tak terlalu cemas. “Ah biasa saja, setiap hari juga bekerjanya seperti ini,” ujar Sadri saat ditemui Jurnal Nasional di dekat Halte Monas, Selasa (1/5), di Jakarta. Sadri sehari-hari menjadi pekerja kontrak di Sarana Organ Resik (SOR), yang mengontrak beberapa orang untuk bekerja sebagai pembersih kota. Ada empat wilayah yang menjadi tanggungjawab SOR yaitu Menteng, Gondangdia, Gambir, dan Senayan. “Saya ditempatkan di Gambir,” katanya.

Sejak pagi massa buruh sudah mulai berdatangan ke pusat kota Jakarta. Mereka menuju di satu titik: Bundaran HI, kemudian long march (jalan kaki) menuju Istana Negara. Suara mereka sebagian besar menuntut penghapusan pekerja outsourcing (pekerja pihak ketiga), meningkatkan kesejahteraan pekerja kontrak, dan meminta setiap 1 Mei menjadi hari libur nasional: Hari Buruh Nasional.

Sampai Ashar, ribuan buruh masih belum meninggalkan Istana Negara, meskipun sebagian massa sudah mulai merangsek ke Stadion Gelora Bung Karno. Di tempat ini, akan ada orasi buruh, yang dihibur grup band Slank dan Srimulat.

Menjelang makan siang, sepanjang Bundaran HI-Istana Negara, massa buruh menyisakan sampah yang berserakan. Sampah makan siang itu hanya dibuang seadanya. Menumpuk di sudut sana-sini. Dan Sardi bersama kawan-kawan lainnya, mulai bekerja membersihkan selepas, massa buruh berangsur-angsur meninggalkan lokasi. Hari itu sebanyak 30 orang pekerja SOR turun ke jalan.

Ruhani (41) bersama Jamal (48), juga pekerja SOR, berjalan menyusuri pinggir Jalan Medan Merdeka Barat sejak depan Istana Negara sampai Patung Kuda depan kantor Indosat. “Wah ini bukan hari buruh, tapi hari sampah,” ujar Ruhani sambil menyapu sampah, kemudian dimasukkan ke gerobak yang ditarik Jamal.

Jamal bercerita kepada saya, bahwa sejak pukul 13.00, dia bersama Ruhani sudah mengumpulkan sampah sebanyak dua gerobak, kemudian dimasukkan ke truk yang diparkir di dalam Monas. Padahal saat itu baru jam 14.30. Mereka baru bekerja sejak jam 13.00, karena masuk shift siang dan baru kelar sampai pukul 21.00 malam. “Ini sepertinya akan sampai malam,” kata Jamal, melihat sampah yang dibuang oleh massa buruh.

Tiap hari mereka berjalan. Makanya, kulit muka Jamal dan Sadri terlihat gosong dan cepat menua. Sadri yang baru berumur 25 tahun saja, sudah terlihat garis-garis keriput di dahinya, mukanya juga tak sesuai umurnya. “Ah bohong umur segitu,” kata saya. “Enggak percaya, nih lihat KTP saya,” katanya sambil membuka dompetnya.

“Ah KTP-nya palsu nih?”

“Enggak, mungkin karena terlalu kepanasan (wajahnya),” ujar laki-laki asal Pandeglang, Banten itu sembari ketawa.

Di Hari Buruh ini, Sadri tak terlalu banyak menuntut. Meskipun sehari dia dapat Rp23.000, ia tak akan menuntut kenaikan gajinya itu. Selama bekerja dua tahun juga tak pernah menuntut kenaikan gajinya. “Karena merasa enggak mungkin naik. Susah,” kata Sadri yang tiap lima bulan sekali memperpanjang kontrak kerjanya. Melihat sampah hasil demo buruh, ia mungkin bakal lembur. “Mereka demo tapi tidak pengertian, harusnya membuang di tempat sampah. Ini mah sembarangan,” ujarnya.

Untuk uang lembur ia pun hanya mendapatkan Rp4.000 per jam. Tapi, ia masih beruntung karena perusahaannya memberikan Jamsostek. Ketika dia berobat ke rumah sakit, segala biaya pengobatan ditanggung kantornya.

“Wah ini parah, nambahin pekerjaan” ujar Yono ketawa.

Beda Sardi, beda pula Yono (40) yang menjadi pekerja lepas di Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta. Ia sehari-hari mengelola taman di jalur hijau depan Kementerian Perhubungan. Sepanjang jalur hijau sejak Patung Kuda Indosat hingga depan Silang Monas Utara, sampah begitu berserakan.

“Wah ini parah, nambahin pekerjaan” ujar Yono ketawa. Ia mengatakan, pekerja pembersih taman yang diturunkan sebanyak 13 orang setiap hari, termasuk hari ini. Yono hanya bisa menerima kondisi sampah-sampah yang berserakan itu. Ia terus menyapu setapak demi setapak sepanjang jalan itu. Tapi gaji Yono masih lebih baik daripada Sardi dkk karena ia menerima Rp50 ribu tiap hari.

Tapi Sadri, Jamal, Ruhani, dan Yono adalah buruh juga. Ia bekerja sebagai karyawan lepas dan kontrak. Mereka tak mengerti cara menuntut kenaikan gajinya. Mereka hanya menikmati pekerjaannya setiap hari sejak subuh tiba hingga petang menjelang.

Dan kini mereka harus memungut setiap sampah yang dihasilkan dari peringatan Hari Buruh. Dan, tetap buruh juga yang harus menanggung protes ribuan buruh. Petang ini, Sardi dan kawan-kawan belum akan pulang ke kontrakannya, sebelum sampah-sampah itu hilang dari jalanan ibukota…

Jakarta, 01/05/2012

One thought on “Hari Buruh yang Bersampah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s