Dari Johar 8: Manusia Merek

DALAM sebuah keluarga metropolitan di kawasan kebayoran baru, azan Subuh baru selesai. Pemilik rumah masih terlelap dalam tidur. Dari ruang dapur, Simbok Minah baru saja bangun dan menyalakan lampu, lalu mengambil wudhu untuk shalat.

Hari itu, Simbok Minah diminta masak semur jengkol, pesanan Budhe Prada, juragannya. Jam 7, Budhe Prada sudah bangun. Ia dandan mlipis. Sambil turun tangga, wanita paruh baya itu menggendong Hermes Cibaduyut di tangan kirinya. Batik cokelat Danarhadi yang melekat ditubuhnya, membuat Budhe Prada tampak anggun.

Budhe Prada ini suka pergi antarakota, antaraprovinsi. Maklum, pebisnis kain terkenal. Ia sering ke luar kota, menyambangi rekan bisnis. Ya, meski tamatan SMP, bukan berarti ia tak paham merek-merek internasional, makanya butiknya diberi nama: “Budhe Prada”. Sudah 10 tahun ia memulai bisnis itu, sampai-sampai, anak buahnya dan pelanggan, sudah lupa nama juragannya dan menggantinya dengan: Budhe Prada. Namun, Watiningsih, nama aslinya, tidak marah, ia malah senang karena sedikit bau kebarat-baratan.

Wati, begitu dulu dipanggil, cukup lihai dan terampil di kalangan penjual kain. Ia memadukan merek lokal dan luar negeri untuk menarik minat pelanggan. Ia pun membuat nama-nama merek yang tak lazimnya di Tanah Abang, misalnya Batik Armani, Batik Prada, Kain Hermes, Koko Dolce & Gabbana, Sarung Tenun Chanel, dan lain-lain.

Tapi, Wati selalu pe-de dengan ide-idenya itu. “Jaman sekarang, orang-orang suka sekali dengan merek luar,” katanya. Makanya, ia tak mau ketinggalan. Ia melakukan siasat perang merek.

Kain-kain yang ia jual adalah kualitas nomor satu lokal. Ia menyambangi banyak daerah di Nusantara ini, untuk dimintai kerjasama. Tapi untuk masalah jualan ia menggunakan merek lain.

Masalah merek itu, ia ingat kata-kata David F. D’Alessandro, seorang CEO John Hancock Financial Service, sebuah perusahaan asuransi dan finansial terkemuka di Amerika Serikat, “Dalam bisnis dewasa ini, kemenangan tak lagi berpihak pada “badan besar” tapi berpihak kepada mereka yang lebih cekatan, lebih cerdas, dan menguasai teknologi yang muncul.”

Dan wasiat itu dilakukan betul oleh Budhe Prada. Alhasil, ia berhasil dengan empat kios, yang mendatangkan omset ratusan juta rupiah. Dengan menyelipkan merek-merek luar itu, Budhe berharap, konsumen yang ketemu di jalan, akan bilang, “Saya baru dari Budhe Prada beli Kain Hermes”. Karena, ia yakin secara primitif, setiap orang itu begitu canggihnya selalu ingat dengan namanya sebuah merek.

Dan Budhe Prada tak lupa nasihat D’Alessandro bahwa, “Merek terkemuka mampu ‘menyampaikan pesan’ pada para calon konsumen bahwa ‘dirinya’ adalah produk yang paling tepat untuk dipilih.”

Hal ini pula yang dilakukan Sariayu Martha Tilaar membangun usahanya yang dirintis sejak 1970-an. Salah satu yang menarik, Martha Tilaar adalah cintanya pada produk lokal. Meski sekolah dari Amerika sampai akhir 1960-an, ia tak luntur semangatnya untuk memajukan kekayaan lokal.

Bermodal riset kecil-kecilan, ia mendirikan salon pertamanya yang nebeng di garasi rumah orang tuanya. Salon inilah yang menjadi cikal bakal Sariayu Martha Tilaar, yang kini menjadi salah satu produk unggulan Martha Tilaar Group (MTG).

Dalam “Marketing in Venus” (2003), Hermawan Kertajaya bercerita bahwa, Martha Tilaar memperoleh pendidikan kecantikan dari Barat, namun menariknya, ia memulai Sariayu dengan konsep kecantikan yang menggali kekayaan budaya Timur untuk mempercantik perempuan Indonesia.

“Ide ini agak aneh karena industri kosmetik waktu itu di kuasai merek-merek dari Barat dan konsep kecantikan selalu berpaling ke Barat,” tulis Hermawan. Berkat ketekunannya, merek-merek Martha Tilaar merajai di Indonesia, bahkan bersaing dengan produk luar negeri di mal-mal besar.

Sembari makan, Budhe Prada nyamber koran Jurnal Nasional di meja makan. Dalam beberapa pekan terakhir, orang-orang ribut beli Blackberry, I-Pad, I-Phone, Hermes KW-1, KW-2.  p

Semua rela antri berdesak-desakan, demi sebuah produk yang dianggap modern itu. Lucunya, orang-orang Jakarta juga suka mencari produk-produk KW-1 atau KW-2. Meski barang-barang itu ada di Pasar Jangkrik, tapi Homo Jakartensis paling ogah blusukan ke tempat yang becek, bau, dan yang banyak ojeknya itu.

Mereka tetap saja memilih mal, yang dianggap pasar modern. Dengan merek di mal, barang yang dibeli pasti dijamin yahud. “Makin banyak alternatif merek, makin besar keterikatan konsumen pada merek tertentu saja,” kata D’Alessandro.

“Ya namanya juga manusia merek,” kata Budhe Prada sambil nyeplus jengkol kesukaannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s