Ketika Pak Raden Merindu “Si Unyil”

PENCIPTA boneka “Si Unyil”, Drs Suyadi atau dikenal dengan “Pak Raden” merasa tak memiliki apa-apa lagi semenjak hak cipta tokoh “Si Unyil” itu ‘hilang’ dari tangannya.

Hak cipta “Si Unyil” diambil alih oleh Perum Produksi Film Negara (PFN). Makanya, ia meminta agar PFN mengembalikan serial yang ditayangkan di stasiun TVRI era 1980-an itu kepada dirinya

“Saya tidak punya apa-apa sekarang,” kata Pak Raden saat ditemui di rumahnya, Jalan Petamburan III, RT03/RW04 No.27 Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang Jakarta Pusat, Jumat (13/4).

“Dulu saya tidak memperhatikan soal ini, tapi sekarang, bertahun-tahun saya kerja, sama sekali saya tidak memetik hasilnya. Tapi orang lain dan senang pakai nama ‘Si Unyil’ dan nama ‘Pak Raden,” ujarnya.

Saat datang ke rumahnya, kondisinya sungguh memprihatinkan. Sosok yang terkenal dengan dunia anak-anak, tenar sejak bertahun-tahun tapi tak memiliki rumah.

Sejak tahun 1980-an, tiga kali pindah rumah kontrakan. Rumah terakhir ini adalah milik kakaknya. Kondisinya pun tak layak untuk sekelas Pak Raden; dari atap bocor, sirkulasi udara buruk, berada di gang sempit, sampai rekaman kaset “Si Unyil” dan buku-buku koleksinya yang tak terurus.

Bahkan, rekaman kaset “Si Unyil” sudah banyak yang rusak karena tak memiliki ruang penyimpanan ber-AC. Beberapa lukisan kesayangannya pun masih terpajang, sebagian juga sudah terjual untuk menyambung hidup.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, ia melukis. Memang beberapa anak buahnya, yang sudah ikut sejak 1980-an, membantu membuat boneka dari tokoh yang diambil dari serial “Si Unyil”

Dari hasil itu, baru ia bisa membeli beras, sayur, peralatan lukis, dan berobat ke dokter. “Sudah sejak dua tahunan ini Pak Raden sulit jalan,” kata Nanang, yang sehari-hari mengurusi Pak Raden.

Jalannya agak merayap dengan bantuan tongkat “Kata dokter, dengkulnya sudah keropos,” ujar Nanang.

Meski badannya tambun, kata Nanang, memori otaknya masih kuat. “Selain dengkulnya, semuanya dalam kondisi sehat: jantung, matanya juga sehat. Dia enggak pakai kacamata,” kata Maman, anak buah Pak Raden yang sehari-hari membuat boneka.

Setiap hari ia ditemani Nanang, Maman, dan Fain. Nanang bertugas menyiapkan makan, memasak, atau mengurus hal lain yang menjadi kebutuhan Pak Raden. Sementara Maman dan Fain membuat boneka dan properti syuting serial Unyil di stasiun Trans 7.

“Itu lagi buat pesawat UFO untuk episode terbaru,” kata Maman. Disela-sela itu, ia juga membaca skenario episode yang akan datang.

Di usia yang senja Pak Raden berharap ia bisa menikmati hasil karyanya. Ia ingin “anak kandungnya” itu kembali ke pangkuannya.

“Memang saya pernah menyerahkan ke PFN karena sesuatu hal pada akhir 1995. Dan perjanjian itu cuma berlaku 5 tahun, harusnya sekarang sudah kembali,” katanya.

“Tapi sekarang digunakan untuk apa saja yang mendatangkan uang, dan saya tidak punya apa-apa (sekarang). Itu persoalannya, pokoknya hak cipta kembali ke saya.”

Ia juga sedang memperjuangan hak cipta ke Direktotrat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) Kementerian Hukum dan HAM. “Jadi saya ingin hak saya dikembalikan kepada saya. Jadi saya bisa cari makan denga kreasi karya saya itu.”

“Kan yang memanfaatkan itu orang lain semua. Ada televisi, sebuah studio animasi di Batam, untuk iklan, dan lain-lain. Saya ingin supaya hak cipta ke saya, sehinga saya pun bisa menikmati (hasil karyanya).”

**

TOKOH Pak Raden dalam cerita boneka “Si Unyil” pastinya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Ia selalu identik dengan pakaian beskap hitam, blangkon, suara tawa yang berat dan serak, bertongkat dan tak lupas kumis tebal melintang.

Karakternya sangat kental Jawa. Segala sesuatu yang dikerjakan selalu mengacu pada primbon kesayangannya. Ia penyuka burung perkutut dan memiliki bakat melukis.

Dalam serial itu ia selalu berusaha menghindar bila ada kerja bakti dengan alasan penyakit encoknya kambuh.

Pak Raden ini juga memiliki sifat pelit terhadap tetangganya, sehingga seringkali buah mangganya dicuri. I juga orang yang cepat naik pitam.

Sebetulnya siapa pengisi suara Pak Raden? Suara tawa yang menggelegar itu adalah suara Drs Suyadi, pria kelahiran Jember, 28 November 1932.

Ia memang seorang pendongeng dan penyuka dunia anak. Sangking begitu tenarnya, nama Suyadi seakan hilang dan berganti dengan sendiri dengan Pak Raden, begitu orang memanggilnya.

Karakter Suyadi, tak jauh beda dengan Pak Raden. Sebagai orang Jawa, ia paling suka mendengarkan langgam atau gending Jawa. Hampir tiap hari, di rumahnya gending-gending itu diputar.

“Setiap hari lagu itu diputar, menemani Pak Raden melukis,” kata Maman.

Siang itu, sehabis makan siang, Pak Raden meminta salah satu anak buahnya menyetel kaset gending itu. Ia kemudian suntuk dalam pekerjaannya di dalam kamar depan berukuran sekitar 2 meter x3 meter itu.

Anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini juga penyayang binatang, bedanya di realitas ia memelihara kucing bukannya perkutut. Sebelum pindah rumah ke Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, ia memiliki banyak kucing. Sekarang hanya dua kucing yaitu Pussy (betina) dan Kacung (laki-laki).

“Kalau yang ini Pussy,” kata Pak Raden kepada saya. Pussy sedang melingkar tidur di meja, di belakang lukisan. Pak Raden sedang sibuk dengan lukisan pesanan; ia juga sedang menyiapkan konsep “pernyataan resmi” untuk acara “Koin untuk Pak Raden”, Sabtu (14/3) sore.

Sehari-hari, ia melukis seperti karakternya di serial Unyil. Apakah ia juga pemarah? Pelit? Maman mengatakan, Pak Raden tipe orang yang total dalam bekerja; ia ingin setiap pekerjaan selesai pada waktunya.

Maman pun pernah kena semprot Pak Raden, tapi baginya itu bukanlah amarah kebencian, tapi mengoreksi agar bekerja benar-benar serius. Dan untuk masalah pelit, itu bukan karakter Pak Raden di kehidupan nyata. Di depan rumahnya juga ada pohon buah, sayangnya bukan mangga, tapi klengkeng.

Dengan orang lain, ia ramah dan terbuka. Hanya saja terkadang ia kurang suka bila ada orang bertemu tanpa membikin janji. Meskipun ia akan tetap menerima kedatangan,  “Lain kali sebaiknya janjian dulu ya,” kata Suyadi kepada saya, yang datang hari itu tanpa janji. Sebab, ia memiliki kesibukan dari melukis, menulis buku, lagu, dan lainnya.

**

SUYADI menyelesaikan studi di Fakultas Seni Rupa ITB Bandung (1952-1960) lalu meneruskan belajar animasi di Prancis (1961-1963). Sejak masih menjadi mahasiswa Suyadi sudah mencipta sejumlah karya berupa buku cerita anak bergambar dan film pendek animasi.

Keistimewaan Suyadi tidak hanya membuat ilustrasi, tapi juga mempunyai kemampuan menulis ceritanya sendiri. Bahkan di usia senjanya kini, Suyadi tetap berkarya. “Tiap hari selalu orat-oret …” tulis Prasodjo Chusnanto Sukiman, penulis biografi Suyadi dalam situs www.pakraden.org.

Suyadi adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Sampai sekarang ia membujang alias belum menikah. “Enggak punya anak gimana, lah enggak punya istri, enggak ada yang mau,” katanya sembari ketawa.

Pada 1980 ia yang mencipatkan boneka Unyil dan ditayangkan di TVRI setiap Minggu pagi. Serial ini pernah mencapai lebih dari 603 seri film boneka. Konsep cerita sendiri ditulis oleh Kurnain Suhardima, dengan rumah produksi Produksi Film Negara (PFN). “Saat itu, Pak Raden jadi pekerja tim kreatifnya,” kata Chusnanto.

Bayaran Pak Raden pun sebatas pekerjaan biasa. Dari hasil di TVRI itu juga belum mampu untuk membeli rumah. Ia harus hidup kontrak dan pindah sebanyak tiga kali. Di rumah sekarang, ia menempati rumah milik kakaknya.

“Saya orang yang kurang pandai mengatur (uang),’ kata Suyadi kepada saya. “Saya seperti seniman jaman dulu, yang rejeki tak selalu ada tiap hari, kadang-kadang saja.”

Menurutnya, menjadi pengisi suara di televisi juga tak setiap hari karena tokoh Pak Raden tak mesti muncul dalam tiap episode “Si Unyil” yang tayang di Trans 7. “Saya sudah lama tak mengisi suara,” katanya.

Ia memang menjual lukisan, buku cerita anak, boneka, juga mengisi suara di program televisi. Tapi semuanya itu tak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Biaya berobat, sakit pengapuran di dengkulnya, lebih besar dibanding pendapatannya.

Belakangan, ia tak menyangka “anak kandungnya’ itu bakal melegenda dan mendatangkan royalti besar. Ia pun baru menyadari, jerih payah karyanya itu tak memberikan keuntungan baginya. Justru orang lain yang meraup kesuksesan dengan Unyil.

Sebagai pelukis, Suyadi lebih banyak melukis obyek manusia, dan kebanyakan berupa tarian Jawa dan karawitan, sosok Pak Raden, dan dunia anak. “Meski saya suka pemandangan saya tidak pernah melukis itu,” katanya.

Lukisannya sering ditawar oleh teman-temannya. Tapi itu tak selalu laku, terakhir dia menjual lukisan seharga Rp500 ribu. Tapi lain waktu ia pernah menjual lukisan sebesar Rp12 juta. Bahkan, kurator Agus Dermawan memintanya untuk pameran tunggal pada Juni mendatang, tepat di Hari Anak.

“Di Galeri Nasional rencananya. Dia mintanya 60 lukisan, tapi sepertinya saya tidak sanggup, terlalu banyak, he..he..” katanya. Ia menyadari kondisi fisik tak menopang aktivitasnya.

Menurut Chusnanto, Suyadi adalah salah satu tokoh yang sangat berpengaruh terhadap sejarah perkembangan awal animasi di Indonesia. Suyadi pernah mengajar seni akademik di seni ilustrasi di ITB, pengajar khusus animasi di IKJ Jakarta dan sebagai pembicara pada workshop dongeng dan animasi.

Puluhan buku cerita anak hasil karyanya beredar sejak tahun 70-an, bahkan hingga sekarang. Sejumlah penghargaan di bidang perbukuan telah ia raih. Dan hingga tahun 2008 ia masih menghasilkan buku anak berjudul Petruk Jadi Raja (2008).

“Hidup Suyadi sendiri mirip sebuah dongeng. Naik turun perjalanan kreatifnya terbelah dalam beberapa plot. Mungkin karena ia sendiri sebagai pendongeng ulung, ia menjalaninya dengan ikhlas,” tulis Chusnanto.

Sebagai pendongeng, Suyadi punya ciri khas mendongeng sambil menggambar. “Boleh dibilang, dialah pendongeng pertama di Indonesia, atau bahkan di Asia, yang menuturkan kisah dongeng sambil menggambar,” Chusnanto menambahkan.

Di usia yang senja, Suyadi hanya berharap ia ingin berkarya lebih baik lagi. “Kalau jarum jam diputar kembali, saya ingin tetap menjadi Suyadi. Tapi pinginnya Suyadi dengan karya yang lebih baik, Suyadi yang bisa lebih banyak berbuat untuk dunia anak-anak, Suyadi yang punya kondisi keuangan yang lebih baik…” katanya.

**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s