Dari Johar 8: Megap-megap karena Impor Buah

SORE itu di teras rumah, Budhe Prada sedang leyeh-leyeh di kursi malasnya, sambil membaca Jurnal Nasional, yang belum rampung dibacanya saat sarapan tadi.

Ditambah suasana sore yang cerah, cahaya senja yang menghias langit, rumah Budhe Prada yang bergaya kolonial dipadu ornamen keraton, terasa nyaman dan tenang. Saya hari itu mampir memberi buah tangan setelah pulang dari Medan, Sumatera Utara.

Kok repot-repot Dimas Andi. Simboookk, buat minuman untuk tamu agung kita ini,” kata Budhe Prada.

“Ah enggak seberapa Budhe, cuma duren Medan sama Bika Ambon,” kata saya.

Tak terasa perbincangan ngalor-ngidul, akhirnya Budhe Prada sedikit serius, apalagi menyangkut durian yang saya bawa. “Saya gregetan sama durian asli Indonesia,” katanya.

“Ada apa toh Budhe?” Saya mencoba ingin tahu.

“Gini Dimas, barusan saya baca koran, masak hampir kebanyakan buah-buahan, sayuran yang ada di pasar banyak impornya. Ini jelas tidak bagus bagi masyarakat petani kita.

“Bayangkan saja, coba nasib petani bawang putih, bawah merah, anggur, jeruk, apel, termasuk durian ini kalah bersaing di pasaran. Jelas-jelas, supermarket-supermarket milih beli dari impor karena murah dan bermerek. Tapi pemerintah enggak sadar-sadar dari kemarin.

“Baru sekarang, pemerintah mau memperketat impor buah-buahan dan sayuran, istilah kerennya itu ‘impor hortikultura’,” cerocos Budhe Prada.

Saya masih belum paham maksud omongannya. Tadi menyinggung soal durian kok sampai masalah istilah impor hortikultura. “Nuwun ngapunten, maksud Budhe hasil pertanian kita itu enggak dihargai begitu?” tanya saya.

“Persis. Tahu tidak, barusan saya baca, Hasan Jhonny Widjaja, dia itu ketua Asosiasi Eksportir Sayur dan Buah Indonesia, selama ini produk hortikultura kita itu masih terbatas untuk menembus pangsa pasar luar negeri.”

“Apa saja itu, Budhe?”

“Misalnya China, hanya mau beli produk buah Salak, Nanas, dan Pisang. Padahal kita itu kan buah-buahannya banyak, ada Apel Malang, Jeruk Bali, Durian Medan, seperti yang kamu bawa.”

“Sebetulnya kita itu punya potensi luar biasa untuk ekspor. Anggur, memang kalah sama Perancis. Tapi kalau Dimas merasakan Anggur Jawa Timur seperti Probolinggo, Pasuruan, dan Situbondo, juga tak kalah enaknya. Sayangnya mereka itu kan masih konvensional, belum banyak peralatan canggih untuk dibuat industri. Ini kan kudu pemerintah yang bantu.”

Saya yang dari tadi mendengarkan curhatan Budhe Prada, hanya manggut-manggut sambil berpikir. Memang benar kalau produk hortikulutra kalah dari segi merek, tapi sebetulnya tak jauh beda rasanya. Memang ada yang bercitarasa tinggi, seperti durian Montong asal Thailand. Dengan daging tebal, pencinta durian akan memilih jenis ini dibandingkan jenis Petruk asal Jepara, Jawa Tengah atau Medan. Kalau dari wangi dan gurihnya, kalau anak gaul sekarang bilangnya,”sebelas-duabelaslah.”

Tengok saja di Jakarta misalnya, di deretan lapak-lapak sepanjang Jl Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, jenis durian didominasi oleh Durian Montong asal Thailand, dengan harga per kilogram mencapai lebih dari Rp40 ribu. Kalau mau mencari durian Petruk, Medan ada sih ada tapi, sedikit.

Ada di daerah Purworejo, yang juga terkenal dengan buah Manggis dan Durian Somongari. Orang-orang Yogyakarta, pasti tahu kalau Purworejo itu terkenal dengan duriannya dulu, tapi sekarang keistimewaan kota kelahiran Jenderal Ahmad Yani itu, akan duriannya mulai pudar. Durian tidak begitu diperhatikan oleh pemerintah, sementara petaninya hanya memelihara ala kadarnya.

Pada tahun 2008, nilai impor produk hortikultura sebesar US$881,6 juta. Angka itu melonjak menjadi US1,7 miliar di tahun 2011. Gara-gara serbuan produk impor itu, Kementerian Pertanian seolah-olah kebakaran jenggot, yang kemudian menelurkan beleid (Peraturan Menteri Pertanian No.3/2012 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura) untuk memperketat impor buah dan sayur. Pemerintah pun hanya menetapkan tiga pelabuhan utama dan satu bandar udara yang menjadi pintu masuk impor untuk buah dan sayur. Yaitu pelabuhan Belawan, Makassar, dan Tanjung Perak dan hanya Bandara Soekarno Hatta. Aturan itu berlaku mulai 19 Juni mendatang.

Selain itu Kementerian Perdagangan juga mengeluarkan aturan Peraturan Menteri Perdagangan No.30/2012 soal mekanisme impor dan mulai berlaku pada 15 Juni mendatang.

“Tapi moga-moga beleid yang dikeluarkan pemerintah itu memberikan berkah bagi petani kita, termasuk petani durian ini. Karena, benar itu kata Pak Dirjen Perdagangan Luar Negeri Dedy Saleh, produk hortikulutra itu komoditas yang erat dengan ketahanan pangan,” kata Budhe ngutip dari berita koran-koran yang dibacanya itu.

“Memangnya buah apa saja yang diperketat impornya, Budhe?”

“Kalau kata Banun Harpini, dia itu kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, buah-buah impor yang mau diperketat itu seperti pisang, kurma, nanas, alpukat, jambu, mangga, manggis, jeruk, anggur, pir, durian, lengkeng, melon, dan pepaya.”

“Kalau jenis sayuran yang dibatasi, antara lain bawang bombai, bawang merah, bawang putih, prey, kubis, bunga kol, wortel, lobak, polong-polongan, dan cabai.”

“Kalau ini benar-benar dilakuken, wah petani kita bisa bergembira. Petani Bawang di Brebes, enggak merugi ketika panen tiba. Tapi, kalau pas panen terus pemerintah ngimpor bawang dari China, Amerika, dan Thailand, ya petani kita pasti megap-megap alias babak belur,” katanya.

“He..he..ya hidup senggan matipun enggan.”

Yowis, durennya monggo dicicipi, dari tadi ngobrol sampai lupa dimakan.”

Nggih, Budhe.” Budhe kemudian menjumput satu biji.

Opo toh kondoku, Dimas, duren kita ini memang, maknyusss, tenan!

Matahari sore sudah amblas dibalik cakrawala. Silih berganti adzan Magrib berkumandang dari masjid ke masjid. Selepas Magrib saya pun pamit pulang, sambil diberi oleh-oleh kain Batik Prada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s