Dari Johar 8: Dari Gang ke Gang

penjual sayur keliling di jaman kolonial belanda

SAMBIL ngobrol di teras rumah Bude Prada, saya disuguhi jus jambu. Suegeerr…!! jus buatan Simbok manisnya pas di lidah. Hari itu, Bude Prada sedang pergi ke luar kota. Maklum liburan empat hari sejak Kamis kemarin, dimanfaatkan Bude keliling beberapa kota, menemui rekan-rekan bisnisnya.

Saya mampir ke rumah Bude Prada, sehabis liputan dari rumah sakit Polri Said Soekanto: korban pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat dua pekan lalu.

Simbok memanggil tukang sol sepatu, yang melintas di jalan depan rumah. Ada sepatu milik Bude Prada yang perlu dijahit dan dilem lagi. Simbok mengeluarkan dua pasang sepatu. “Ini buatan Cibaduyut,” kata Simbok. “Juragan jarang suka made in Singapura atau Eropa,” lanjut Simbok, sambil cekikikan.

“Itu ngejahit sama ngelem, berapa?” tanya Simbok.

“Dua puluh lima ribu saja,” jawab Ujang, sebut saja begitu namanya, pelan.

Kotak perkakas yang dipikulnya kemudian diturunkan dan dibuka. “Bismillah..,” ucap Ujang. Peralatannya tidak begitu banyak. Ia cuma berbekal gunting, alat pelubang, lem, benang, karet, palu, dan besi penahan mirip cetakan sepatu. Beratnya, katanya,  sekitar 15 kilogram (kg).

Sambil menemani kerja, Simbok mengajaknya ngobrol, kadang-kadang malah menginterograsi kayak wartawan. Katanya, mau ikut-ikutan gaya pekerjaan saya.

Tukang sepatu itu bercerita bahwa setiap hari ia berjalan kaki dari kontrakannya berkeliling kompleks ini. Dalam sehari jarak yang ia tempuh sekitar 10 kilometer. Bahkan mungkin lebih. Bayangkan, membawa beban seberat 15 kg sambil dipikul, apa tidak membuat bahu kita gosong?

“Memangnya sudah berapa lama atuh kerja ginian, kang?” tanya Simbok sok gaya Sunda, yang ndeprok di depan Ujang.

“Ya hampir 10 tahunan,” kata laki-laki setengah baya asal Garut, Jawa Barat itu. Keterampilan soal sepatu ia dapat dari kerja di salah satu industri rumahan di Cibaduyut.

Tiap hari, ia melangkahkan kaki selepas fajar menyingsing. Ia keliling Jakarta, dari gang ke gang. “Tiap hari pasti ada yang ngesol (jahit/ngelem) sepatu,” katanya.

Tak banyak yang ia terima dari hasil ngesol itu. Ia tak bisa menghitung rerata per hari. “Hitungannya seminggu ya sekitar Rp500 ribu,” katanya.

“Lumayan besar ya pak,” kata saya. Ujang hanya senyum saja. Katanya, jumlah itu pas-pasan untuk hidup di Jakarta.  Jumlah itu juga tidak mesti ada setiap pekannya. Meski begitu, ia tak lupa mengirim uang ke istri dan anak-anaknya. Ia tak pernah mengirim uang lewat bank, katanya, terlalu lama. ATM juga tak punya. Uang itu dititipin ke temannya yang kebetulan pulang. “Enggak ditilep tuh duit, Kang? kata Simbok, menelisik.

“Tetangga sendiri kok, enggak mungkin,” katanya. “Ya namanya juga manusia,” ujar Simbok rada sinis. “Tapi saya percaya, kan ada hape,” katanya.

“Wah tukang sol juga punya hape,” Simbok terkaget-kaget. Ujang pun meringis. Jaman gini, kok enggak punya hape, barangkali batin Ujang.

“Emang Kang Ujang punya anak berapa? Tanya Simbok mengalihkan topik. “Tiga. Bulan depan anak pertama saya malah mau nikah. “Wah, selamat kalau begitu. Hebat ya,” Simbok menepuk lengan Ujang. Saya tersenyum. Melihat mereka seperti orang pacaran saja. Begitu akrabnya, padahal baru kenalan.

Mendengar kisah Ujang, adalah mendengar kisah kesabaran dan ketekunan. “Tidak semua orang bisa ngesol pak, ini juga butuh keahlian,” kata saya, ketika dirinya cerita suka-dukanya menjadi tukang sepatu.

Untuk memulai usaha keliling ini, ia tak butuh modal banyak, toh perkakas ngesol-nya, bisa dibuat sendiri. Pelubang dibuat dari bekas besi payung, kotak perkakas dari papan bekas, dan lainnya beli di loakan pasar. “Tak lebih dari Rp50 ribu,” katanya. “Modal utamanya ya cuma tenaga.”

Makanya, ia harus selalu fit. Tentu kalau ia sakit, tak ada uang masuk, tak ada uang kiriman ke kampung. Tiap langkah kakinya adalah harapan agar dapur di rumah tetap ngebul, anak-anak tetap sekolah. Ia ingin anak-anaknya tidak seperti dirinya. Ia punya mimpi bikin kios sol sepatu, tapi modalnya terlalu besar. “Makanya saya memilih berkeliling saja. Ini modal saya,” katanya.

Banyak orang di Jakarta ini, yang melangkahkan kakinya untuk hidup. Mulai tukang jamu, penjual gethuk, penjual buah, tukang bakso/mie ayam, sate keliling, tukang jam, tukang tensi keliling, tukang sayur dan lainnya.

Kaki-kaki mereka adalah roda-roda kreativitas. Ciri-ciri orang yang tidak berpangku tangan. Dengan berjalan kaki, mereka menciptakan fungsi bagi lainnya, meski tukang sol sepatu.

Alhamdulillah…ini sepatunya Mbok,” kata Ujang. Simbok segera menyerahkan uang yang ia ambil dari balik kutangnya.

“Apa ndak bau itu, Mbok,” seru saya, cekikikan. “Husss….,” Simbok memukulkan uangnya ke arah saya. Ujang pun bergegas pamit, melanjutkan perjalanan kakinya, dari gang ke gang di Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s