Dari Johar 8: Bocor

SUDAH sepekan ini hujan terus turun, meski tidak begitu deras, lumayan bikin kesal. Pagi hari, di saat orang Jakartensis berangkat kerja, hujan gerimis mengguyur sehingga menyebabkan jalanan makin mentok. Perempatan jalan pun terkunci.

Kalau sudah seperti itu saya lebih suka menunggu di bawah kolong jalan layang, bersama pesepeda motor lainnya. Ya meski kemudian diopyak-opyak sama Pak Polisi untuk pergi, tetap saja tak digubris. Mau pakai mantel, sayangnya mantelnya bocor. Apalah fungsi kalau mantelnya bocor.

Sambil menunggu, saya membaca Jurnal Nasional. Di era serba teknologi canggih, tak perlu pusing untuk membaca koran. Sekali pencet layar smartphone, muncul teks-teks beritanya, apalagi pakai ai-pet lebih enak lagi membacanya. Sudah seperti membaca buku, tinggal geser-geser screen-nya pakai tangan.

Berita pagi itu, ada yang menarik “Anggaran Perjalanan Dinas Bocor 40 Persen”. “.., itu tidak bisa diterima. Kami minta semua jajaran yang ada di wilayah-wilayah itu betul-betul mengingatkan institusi kementerian/lembaga lain agar hal tersebut tidak terjadi,” kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo (Lihat Jurnal Nasional, Sabtu 26/5/2012)

Sebagai menteri perduitan, Agus berlagak kebakaran jenggot, karena duit-duit yang diaturnya pada ngelayap enggak jelas. Seperti baru kali itu, anggaran perjalanan dinas bocor, padahal kalau mau jujur anak buah-anak buah di kementerian itu kalau sedang di luar kota (luar Jakarta), sebelum sang menteri datang menggunting pita acara, mereka malamnya makan-makan di restoran. Paginya, kalau sudah selesai acara, jalan-jalan cari oleh-oleh buat keluarga. Nanti seketika di kantor lagi, mengurus surat perjalanan dinas.

Tidak bisa suatu negara dikendalikan, jika pengeluarannya lebih besar dari penerimaan. Reputasi kita sebagai negara yang kredibel dan sehat sedang dipertaruhkan,” ujar Agus.

Pak menteri ini sepertinya baru setengah sadar. Maklum, saking padatnya rapat-rapat, sampai lupa duit negara bablas angine, tanpa pertanggungjawaban. Ya memang, bukan pak menteri yang salah, kroco-kroconya di jajaran bawah itu yang tak tertib. Apalagi di tingkat provinsi.

Ya enggak usah jauh-jauh menengok daerah, Pemprov DKI Jakarta sajalah atau di DPRD DKI. Masalah penggunaan anggaran apa ada yang beres? Dan kalau anda-anda semua melihat anggarannya tentu akan geleng-geleng kepala, tapi bagi si pembuat anggaran ya itu wajar saja.

Suatu kali saya berlagak sebagai detektif, saya lihat-lihat duit di APBD 2012. Sebentar lagi Jakarta mau ulang tahun yang ke-485 tahun. Biasanya, setiap perayaan dirgahayu itu, DPRD selalu menggelar rapat paripurna, dan kali ini dilabeli istimewa. Saking istimewanya duit untuk rapat sehari dan paling hanya berjalan sejam itu juga istimewa. Tahun ini, duit yang dianggarkan sebesar Rp880.770.000, itu naik dibanding tahun lalu yang sebesar Rp816.562.500.

Yang lucu, saya juga baru tahu kali ini, acara rapat paripurna ini semacam acara konser Lady Gaga saja. Acara rapat negara tapi di event organiser-kan, karena ada panitia pelaksana kegiatan? Maksudnya apa sih? Jadi dalam rapat itu, setiap orang yang terlibat akan dapat duit penyelenggaraan acara itu, padahal mereka pegawai negeri, tapi kan kali ini sebagai: p.a.n.i.t.i.a.

Misalnya, panitia yang menjadi “pengarah”, entah pengarah gaya atau pegimane, itu satu orang saja. Nah dia dapat duit Rp1,2 juta. Ngitungnya? Gini: 1 orang x 10 hari x 2 kegiatan x Rp60 ribu. Nah, bingung kan itu 10 hari, dua kegiatan dan Rp60 ribu dari mana mulanya, saya juga bingung.

Mereka juga sewa kesenian, yang enggak murah juga. Gambang Kromong Rp30 juta, Ondel-ondel Rp20 juta, Marawis Rp20 juta, Orkestra Rp250 juta. Nah yang paling beruntung ya pembawa acara, dia dapat honor Rp25 juta sekali ngecap acara. Apa tidak maknyuusss?? Dan terakhir, pembaca doa, kadang-kadang juga masih PNS, dapatnya Rp1,5 juta. Oh ya kelupaan, belanja pakain jas/safari untuk petugas protokoler 12 stel sebesar Rp42 juta. Nah, itu semua hanya untuk rapat paripurna sekali dan paling sejam doang. Pertanyaanya, itu semua masih dikerjakan oleh PNS, kok dibayar? Bukankah mereka sudah dapat gaji tiap bulannya? Ssssttt...itu uang lelah jadi panitia, loh!.

Duit negara, duit rakyat. Jadi, maklum kalau rakyat mengklaim uang negara itu uang rakyat, sehingga siapa saja bisa dapat jatah. Tapi kok tukang parkir di depan DPRD enggak dapat jatah uang rapat paripurna itu? Apa karena sifanyat istimewa jadi hanya orang-orang tertentu saja yang dapat? Soalnya tukang parkir itu enggak istimewa.

Tak terasa membaca koran di ai-ped membuat saya lupa kalau hujan sudah lama berhenti. Saya jadi ingat pesan dari Bude Prada, kemarin sore: “Kalau mau enak hidup jadi PNS saja, masa tuamu terjamin negara. Kalau jadi wartawan seperti ini, ya susah uripmu. Mau ngamplop? Duitmu itu enggak mungkin kumpul, bakal bocor terus. Dapat amplop Rp10 juta, tak lekas sehari, sudah raib ditelan setan. Enggak ada berkahnya.”

Meski sebagai penjual kain di Pasar Tanah Abang, Bude Prada ini orangnya kaya pengalaman. Bacaannya dari ekonomi sampai sastra, politik sampai buku primbon.

Dari tadi, saya tidak ngeh kalau motor sudah ditilang sama Pak Polisi. “Jadi saya ditilang Pak Polisi?”

“Kamu kelamaan mejeng di sini, bikin macet saja.”

“Damai saja pak?”

“Damai-damai, gundulmu.” Pak Polisi itu melihatku dari atas sampai bawah, kok ndilalah, melihat kartu persku. “Woalah….kamu ini wartawan?” ujarnya sambil cengengesan. “Wartawan kok minta damai. Kamu suruh orang lain menaati aturan, kamu sendiri mau berdamai sama pelanggaran. Ha-ha-ha.”

Pak Polisi itu malah ketawa ngakak, sambil memegang perutnya. Saya sendiri cuma mesam-mesem kecut, sambil pelan-pelan ngeloyor ambil sepeda motor.

Sampai saya pergi, Pak Polisi itu masih ketawa cekikikan dan masih memegang surat tilang, ia lupa diri untuk menilang saya. “Oalah wartawan, wartawan…,” ujarnya sayup-sayup terdengar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s