Dari Johar 8: Martabak

SELAMA tiga hari lalu Bude Prada mengajak seluruh keluarga ke Puncak, Bogor. Di salah satu villa, kami tinggal dan bercengkrama. Kata Bude, hidup itu sesekali perlu refreshing, tidak perlu serius-serius.

Sambil lesehan di teras villa kami berbincang ngalorngidul, pokoknya senang-senang sajalah. Sampai suatu kali, Simbok berucap,”Bude, dingin-dingin begini enaknya kalau ada martabak.”

Orang-orang yang ada di situ langsung setuju, tapi namanya di Puncak, mana bisa beli martabak. Mau cari keluar villa tentunya terlalu jauh. Jadi keinginan itu tidak bisa terkabulkan alias gagal. “Sudah-sudah. Simbok, kamu ini juga lucu, di tempat begini kok mintanya yang aneh-aneh. Mana ada martabak,” kata Bude menyela.

“Memangnya enggak boleh ya Bude, punya keinginan itu,” kata sopirnya Bude menyahut. Bude sambil mencomot ketela rebus kemudian mulai memberikan ceramahnya, seperti yang sudah-sudah dilakukan di rumah. Mula-mula ia bercerita bahwa seseorang itu perlu memiliki mimpi, dan itu perlu diraih dengan suatu cara.

Cara yang bagaimana? Tentu saja, katanya, dengan sungguh-sungguh melakukan segala daya upaya, agar mimpi itu bisa terwujud. Misalnya, ingin menjadi seorang pedagang, tentu saja perlu tahu ilmu berdagang. Mendengar itu si Sopir dan Simbok manggut-manggut. Sepertinya mereka memahami dan meresapi betul petuah-petuah Bude Prada.

“Atau kalau mau jadi penyanyi seperti Agnes Monica, ya kamu kudu latihan vokal dan tahu nada. Makanya belajar solmisasi-nya, penyanyi kok buta huruf sama buta nada. Pendengar radio bisa bubar itu,” kata Bude rada serius, tapi malah diketawain Simbok dan si Sopir.

“Tuh Mbok, dengerin. Kudu ngerti tangga nada. Kalau suaranya blero, yang dengar ini loh, rasa emosi,” ujar si Sopir sambil mencolek lengan Simbok.

“Halah, kayak sampeyan saja bener. Nyanyi di kamar mandi saja, dari hari ke hari kok Sewu Kuthoo.. terus. Basi-lah yaw!” ujar Simbok rada sinis.

“Ini kok malah jadi berantem toh,” sela Bude. Disemprot Bude, keduanya langsung diam sambil mencibir satu sama lain. Saya yang melihatnya, mau ketawa tapi sungkan sama Bude, terpaksa ditahan.

“Terus apa hubungannya martabak sama mimpi, Bude,” saya bertanya. “Pertanyaan cerdas, Dimas.” “Halah, pertanyaan gitu saja kok dibilang cerdas,” Simbok menyela sambil membuang muka.

Mimpi itu bagian dari dorongan hati dalam kesadaran jiwa manusia. Tapi itu perlu dikekang, jangan sampai menjadi mimpi di siang bolong dan sebuah keinginan kebablasan.  Sebab, katanya, ciri dari jiwa manusia itu medan pertempuran antara id dan ego. Sebuah mimpi baru terpuaskan ketika sudah ada pelampiasan. Di sinilah, ego bekerja. Jika ego lebih dikedepankan, tentunya berimbas pada hal yang sebetulnya tidak diinginkan. “Meski tak semua mimpi berubah menjadi penderitaan,” katanya.

Bude kemudian mengutip ajaran Buddhisme, meski seorang muslim, ia banyak pengetahuannya tentang ajaran falsafah hidup. Ada empat ajaran kebajikan kebenaran, katanya, yaitu duka, duka samudaya, duka nirodha, dan mangga (Pokok-pokok Filsafat Hukum Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia: 1995).

Ia kemudian menjelaskan satu per satu. Tapi ia lebih menjelaskan ajaran duka samudya. “Ajaran ini menyatakan bahwa sumber penderitaan adalah karena keinginan yang teramat menggoda, sehingga manusia menjadi egois dan terbawa hawa nafsu,” katanya.

“Kalau manusia sudah terselimut egoisme ia tidak akan lagi bisa memahami apa itu awidya alias kebenaran. Yang adalah samsara alias penderitaan.”

“Apa kamu mau menderita, karena mimpi atau keinginanmu itu, Mbok?” tanya Bude.

“Ya enggak mau toh, Ndoro,” jawab Simbok.

Makanya, Bude melanjutkan petuahnya, ” Kalau mau menghilangkan penderitaan atas keinginan kamu perlu berpikir dan berperilaku yang benar. Kalau orang jaman dulu itu semedi di gua-gua, nah kita cukup merenung di sepertiga malam.”

“Terus martabaknya gimana, Ndoro,” tanya si Sopir. Bude Prada, saya dan lainnya yang mendengar itu langsung ketawa. Tapi Bude tetap melanjutkan ceritanya di malam yang dingin itu.

“Martabak simbok tadi itu adalah sebuah mimpi, yang sebetulnya kepenginan sesaat. Kalau mimpi itu dipaksa ada di tempat begini, siapa yang mau ngasih? Iya kalau ada, kalau tidak ada, bagaimana? Simbok bisa enggak bisa tidur, mikiran martabak Pak Joyo depan gang rumah kita itu,” katanya.

“Bukan Pak Joyo, Bude. Tapi Martabak Jaya,” sanggah Simbok, dengan mimik serius.

“Hehe…tapi kan kalau dalam bahasa Jawa dibaca Joyo,” Bude ngeles.

“Ah, Ndoro ini bisa saja…Martabak tadi kan cuma bercanda, kok jadi serius begini toh”

Angin malam terus bergelayut di teras vila. Kami masih menyisakan teh hangat yang terus dijog oleh Simbok. Tak disangka obrolan sampai larut, ditingkahi kicauan jangkrik. Tiba-tiba, Bude Prada menanyakan kepada simbok soal mimpi lagi.

“Sebetulnya kamu itu punya mimpi apa sejak kecil, Mbok,” katanya.

Sambil mesam-mesem, Simbok malu mau mengatakan. Ia hanya meremas-remas ujung kebayanya sambil menggerakkan badannya kayak uler keket. “Nganu Ndoro, nganu…” katanya tergagap. “Saya itu dari dulu pengin jadi Ndoro.”

“Haha….” semue ketawa serempak. Saya melihat muka Bude Prada merah, terpingkal-pingkal ketawa. Simbok juga muka merah karena malu. Saya yang sedari tadi ngemil, kacang goreng jadi kerasa mules. Dan sepertinya, keinginan yang satu ini harus dipenuhi.

“Kamu mau kemana, Dimas?” kata Bude.

“Saya ingin ke toilet Bude, yang satu ini harus segera dilampiaskan kalau tidak malah menderita,” kata saya mesem.

2 thoughts on “Dari Johar 8: Martabak

  1. weih, ganti theme maneh pakdhe, martabak e ketoke enak nek mbengi2 urunan tuku😀.
    btw, sory suwe ra ngabari, progress tampilan yg diinginkanmu rodo lambat, ngedit e kae cukup akeh digarap dewe he3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s