Dari Johar 8: Eling Lan Waspada

 

SELAMA sepekan kemarin orang-orang ribut, bahkan emosional lantaran Tari Tor-Tor dan Gordang Sambilan tiba-tiba diklaim Malaysia. Malaysia bilang bukan diklaim tapi mempromosikan dan melestarikan budaya tanah Batak itu.

Kelakuan negeri jiran tersebut memang berkali-kali membuat suasana jadi gaduh antara saudara Melayu. Dua tahun lalu, alat musik Angklung milik kebudayaan orang Sunda, diklaim pula sama mereka. Sebelumnya, Tari Pendet dan Batik. Bah, macam mana pula ini!

Tak cuma masalah klaim-mengklaim yang lagi di-blow-up media, juga masalah kondom. Sebagian masyarakat menghujat Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi lantaran pernyataannya yang ingin menyosialisasikan kondom kepada anak-anak remaja.

Apes, juga Ibu menteri ini. Belum ada sebulan menjabat, sudah diterpa kontroversi. Memang sebagian dari kita ini suka dengan kontroversi. Kalau enggak begitu, enggak seru sih, katanya. Apa iya, kita harus berkontroversi terus, tapi masalah utamanya tidak pernah diselesaikan.

Pantas saja banyak orang berseloroh bahwa negeri kita ini bangsanya suka pelupa. Kalau orang Jawa bilang, “manungso iku kadunungan lali“. Rakyat Besar di atas suka sekali dengan urusan-urusan sepele dibandingkan kemashlatan bersama. Ribut masalah urusan elektabilitas partai yang turun, kapan ketua umum turun, atau ribut soal Lady Gaga. Terus, kapan urusan rakyat diperhatikan: bencana Lapindo yang tidak kelar-kelar, pendidikan makin mahal, kesehatan tak semua terjangkau rakyat, sembako melejit gara-gara kebanyakan impor dan lainnya.

Kalau begini terus-menerus, apa masyarakat kita tidak makin “gila”. Ekonomi yang diperhatikan ekonomi ekspor dan impor, ekonomi pasar modal, berapa jumlah investor asing masuk dan menanam modal di sini, tapi tidak lekas ingat bahwa ekonomi Rakyat Kecil di pasar Kramat Jati (Jakarta), pasar Lambaro (Nanggroe Aceh Darussalam), pasar Gede (Solo-Jawa Tengah), pasar Petisah (Medan-Sumatera Utara),  pasar Los Maco (Bukit Tinggi-Sumatera Barat), pasar Jibama (Wamena-Papua) dan pasar lainnya.

Pergerakan ekonomi mereka adalah gerak ekonomi riil, yang tak memakai unsur politik. Mereka jauh dari hiruk-pikuk Ibukota, tapi ketika Jakarta ribut ekonomi, ekonomi rakyat kecil kalang kabut, menjerit. Tapi rakyat besar, ya bisanya menenangkan melalui media, bahwa dijamin stok barang ini dan itu akan aman sampai waktu sekian.

Kembali ke masalah kontroversi tadi. Apa yang dilakukan Malaysia adalah
Dalam kesempatan di Universitas Padjadjaran Bandung, Profesor Arief Rahman Hakim,  pernah mengatakan bahwa Indonesia harus segera membuat UU Kebudayaan. Ini salah satu cara melindungi unsur-unsur budaya kita, mengingat jumlah kebudayaan di Indonesia mencapai ribuan. Bahasa daerah saja mencapai 583 jenis.semacam pengelingatau pengingat, bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan kaya akan kebudayaan.

“Untuk itu, pemerintah kita perlu proaktif dalam memperkenalkan budaya kita ke masyarakat mancanegara,” kata Arief, selaku Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO seperti dikutip dari http://www.unpad.ac.id.

Menarik dicermati pula gagasan Analis Ekonom Serum Institute, Jusman Dalle. Menurutnya, permasalahan kita adalah ketidakmampuan memproteksi, merawat, mengembangkan, dan mengapitalisasi. “Tak ada politik budaya yang jelas dan terarah. Akibatnya generasi muda makin berjarak dari akar budayanya,” ujar Jusman dalam “Tor-Tor dan Ekonomi Kebudayaan Kita” (Fajar Online, 22/06/2012).

Menurutnya, budaya impor juga meminggirkan peran budaya lokal. Padahal, katanya, tak ada beda budaya Indonesia diklaim Malaysia dengan budaya asing
Makanya, kata Jusman, kekayaan budaya Indonesia semestinya menjadi salah satu penggerak ekonomi penting di negeri ini, yang bisa dikapitalisasi dalam satu kemasan even besar sehingga menjadi pemantik majunya industri kreatif dan pariwisata kita.menderas ke Indonesia. “Substansinya sama saja. Kita sama-sama kehilangan,” katanya.

Dengan begitu, kekayaan budaya kita terakui dan terlestarikan secara masif serta mendorong masyarakat produktif. Penting dilihat, data statistik penerimaan devisa pariwisata kita. Pada 2011 penerimaan devisa hanya sekitar satu persen yaitu sebesar US$ 8,5 miliar (sekitar Rp 77,86 triliun) dari Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar US$ 820 miliar (sekitar Rp7.427 triliun).

Dibandingkan di Malaysia (2011) sudah mencapai 58,3 Ringgit Malaysia atau sekitar Rp171 triliun, sedangkan Singapura (2010) malah mencapai S$18,8 miliar atau sekitar Rp139 triliun. Pendapatan kita jauh lebih kecil dari negeri sebelah.

Itu adalah fakta-fakta yang mau tak mau membuat kita harus kembali sadar diri. Apa yang dilakukan Malaysia beberapa kali mengklaim budaya, bukanlah mengajak “perang”, tapisentilan ketidaksadaran bangsa.

Jauh di abad 12, Raja Kediri Jayabaya sudah mewanti-wanti, bahwa: “begjane sing eling lan waspada” (beruntunglah orang yang masih ingat dan waspada).
Makanya kita disuruh selalueling lan waspada, tidak hanya pada Tuhan, tapi apa yang sudah Tuhan kasih kepada kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s