Dari Johar 8: Ngono Ya Ngono, Ning Mbok Aja Ngono

SEKITAR 16 tahun lalu penyair Emha Ainun Nadjib berkirim surat kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Ia berkeluh, mengapa umat Islam yang tiap tahun bermaulid Nabi, belum juga mengerti betul tentang ajarannya.

…Kami mencintaimu, namun kami belum benar-benar mengikutimu…,” tulis Emha dalam surat itu. Membaca surat itu, sepertinya kita ini sebagai muslim, kok belum pantas menjadi muslim. Yang makin saya sedih, di pemerintahan yang semakin korup ini, kok tiba-tiba: ada anggota DPR menjadi tersangka atas tuduhan terima suap dalam proyek pengadaan kitab suci Al Quran di Kementerian Agama. Astagfirullah!

Apa sudah tidak ada hal yang dikorupsi selain Kitab Suci? “Silahkan korupsi di tempat lain, tapi jangan Al Quran yang dikorupsi,” kata Wakil Menteri Agama Nasarudin Umar, beberapa waktu lalu di televisi.

Saya tak mengira, Pak Nasarudin, yang santri itu, berbicara seperti itu. Mungkin saking geramnya, sehingga kata-katanya tak terkontrol. Toh, korupsi apakah Kitab Suci atau bukan, dosanya pun sama saja.

Orang yang berlaku korupsi, tidak sedang dalam keadaan beriman. Kalau sedang beriman, tentu tidak akan mau. Alih-alih, malu kepada siapa yang menciptakan dirinya, hanya untuk dipertukarkan dengan selembar rupiah.

Kalau sudah begini, apa yang harus dipelajari atau diambil hikmahnya. Tentu saja, korupsi adalah perilaku laknatullah, sehingga perlu dibentuk penegakan hukum yang tegas dan tanpa pandang bulu.

Sebab kami masih bisa menjual iman dengan harga beberapa ribu rupiah. Kami bisa menggadaikan Islam seharga emblem nama dan segumpal kekuasaan,” keluh Emha kepada Kanjeng Nabi.

KPK sudah dibentuk sejak 2003. Puluhan koruptor dimejahijaukan. Toh, dari hal itu tak membuat jera yang lainnya. Masih banyak ruang dan celah yang terus disusupi koruptor ini. Ada yang menjanjikan sesuatu, ada yang diam-diam menguntit, atau menerima sesuatu atas nama “hadiah”.

Kami bisa memperdagangkan nilai Tuhan seharga jabatan kecil yang masa berlakunya sangat sementara. Kami bisa memukul saudara kami sendiri, bisa menipu, meliciki, mencurangi, menindas, dan mengisap, hanya untuk beberapa lembar uang,” Emha berseru.

Politisi Demokrat Sutan Bhatoegana, pekan lalu mengatakan, jika ingin negara ini menjadi sejahtera, wakil-wakil rakyat itu harus amanah atas apa yang diamanatkan rakyatnya. Kalau tidak, seterusnya perilaku korupsi akan tetap terjadi.

Ia mengatakan bahwa iming-iming uang ratusan juta sering menghampiri anggota DPR, lebih-lebih yang berkedudukan di Badan Anggaran. “Keluar rapat, ditawari duit ratusan juta. Minta agar proyek A jangan dibintangi, kalau berhasil ini ada hadiah dari pak bupati/gubernur. Sekali sih kuat, kalau dua atau tiga kali jebol juga iman. Kalau sudah begitu: kiamat,” katanya.

Kiamat, maksudnya adalah bakal kena jeratan KPK dan karirnya di Parlemen bakal berakhir: uang ludes, nama baik hancur, dan keluarga pun tak harmonis.

Wakil Gubernur Jakarta Prijanto termasuk salah satu pejabat berpikir religius dan progresif terhadap reformasi birokrasi. Ia tidak menyuruh orang berbuat baik, tapi ia mencontohkan terlebih dulu. Ia pun tidak memaksa, tapi memakai sindiran. Makanya, di ruangan kerjanya di lantai 3, ia memasang poster besar: “Tenang di gedung ini tidak ada CCTV dan tidak ada penyadapan KPK, tetapi di sini ada Tuhan, sang pencipta dan pemilik alam jagad raya bersama malaikat-Nya mendengar dan melihat polah tingkah laku kita.

Melihat kasus korupsi Kitab Suci ini, Sutan pun berseloroh mengutip filosofi Jawa: “Ngono ya ngono, ning mbok aja ngono,” katanya. Meski orang Batak, ia paham pepatah itu karena ia pernah tinggal di Yogyakarta.

Terjemahan, pepatah itu: “begitu ya begitu, tapi mbok jangan begitu”. Sastrawan Sufistik juga esais Danarto mengartikan petuah itu sebagai kata-kata yang biasanya digunakan untuk menyindir, tapi menjangkau hal-hal abstrak. Ia juga menunjuk suatu ajakan untuk berpikir atau bertindak, tetapi jangan berpikir dan jangan bertindak. Artinya berpikirlah dan bertindaklah dalam batas kewajaran. “Petuah itu menganjurkan suatu kesederhanaan dan kemoderatan dalam segala hal,” kata Danarto dalam “Begitu Ya Begitu Tapi Mbok Jangan Begitu” (1996).

Dalam pengantar di buku Danarto itu, Budayawan Umar Kayam menjelaskan, apa yang hendak dipakai Danarto melalui petuah itu, adalah menyentil kebiasaan yang cenderung mau tergesa-gesa untuk mencari nafkah. Dan dalam ketergesa-gesaan itu lupa untuk mencoba memahami fenomena kehidupan. “Bahkan, cenderung lupa bahwa fenomena itu tidak lepas dari ‘skenario’ yang ditulis Allah swt,” katanya.

Kalau Al Quran saja sudah dipertaruhkan, untuk kepentingan berlembar-lembar uang, terus apa yang akan kita berikan kelak kepada Tuhan. Tiap tahun, kita terus merayakan kelahiran Baginda Rosul, sang pembawa wahyu Al Quran. Yang menyebarkan wahyu kedamaian dan keselamatan umat sampai akhir zaman.

Kita terus bersalawat melalui nyaring speaker ke penjuruh mata angin:

Ya Nabi Salam Alaika
Ya Rasul Salam Alaika
Ya Habib Salam Alaika
Shalawatullah Alaika

Tapi, sebagian dari kita terus berkorupsi, malak saudara sendiri, lupa puasa Ramadhan, shalat dan zakat fitrah. Lebih senang berdekatan dengan judi dan berpesta alkohol. “Padahal kami mengaku sebagai pengikutmu, Ya Muhammad,” tulis Emha.

Jika Emha berkirim surat ke Kanjeng Nabi, Danarto pun berkirim surat kepada Tuhan. “S.O.S Indonesia!!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s