Ibu Kembar pun Sampai Meyambangi ke Gedung KPK

SEPERTI ada sebuah kabar “kematian” di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (5/10) malam itu. Sejak pukul 21.00, satu per satu pegiat-pegiat antirasuah berdatangan.

Ini lantaran pemberitaan di sejumlah media online dan televisi bahwa ada sejumlah polisi yang mengepung KPK – sebetulnya tak jauh berbeda halnya tamu biasa lainnya – untuk mengambil paksa kelima penyidik Polri yang dianggap “membangkang” dari institusi asalnya.

Tapi, ternyata media keliru. Persoalan itu adalah upaya penangkapan terhadap Novel Baswedan, penyidik polri di KPK. Alasannya karena kejadian di tahun 2004. Saat masih menjadi Kasatreskrim Polres Bengkulu, Novel dituding menganiaya seorang tahanan sampai meninggal.

Direskrimum Polda Bengkulu, Dedi Rianto sengaja datang ke KPK sambil membawa surat penangkapan untuk membawa paksa Novel. Tapi upaya ini gagal. KPK mengklaim kasus itu sudah selesai. Tapi kepolisian menyatakan bahwa kasus ini masih berlanjut dan Novel menjadi tersangka utama dengan dugaan pelanggaran pasal 351 KUHP.

Perwakilan mahasiswa dan pelajar asal Sulawesi Selasan (Ikami Sulsel) pun ikut turun ke lapangan. Mereka ikut dalam semangat yel-yel antikorupsi. “Menolak penarikan penyidik KPK yang telah memiliki integritas tinggi,” salah satu sikap mereka.

Hari sudah berganti, Sabtu (6/10) dan di pukul 01.00 dini hari, teriakan-teriakan mahasiswa masih keras dari mulut speaker. Lagu “Indonesia Raya” itu berkumandang di luar gedung. Di sisi lain yang bersamaan, Ketua KPK Abraham Samad, Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto, Wakil Menkumham Denny Indrayana, anggota DPR, tokoh-tokoh pegiat korupsi sedang melakukan jumpa pers.

Dari seratusan orang yang ada, terlihat Ibu Kembar- Sri Rossyati (63) dan Sri Irianingsih (63)- dari Sekolah Kartini, Pademangan, Jakarta Utara. Berpakaian kembar motif bunga lengkap dengan topi bundar, Ibu Kembar datang sekitar pukul 23.00. Meski sudah berumur, semangat mereka masih seperti anak muda.

“Ya datang ke sini peduli terhadap KPK yang sedang tertekan. Karena ini lembaga yang dipercaya oleh rakyat untuk memberantas korupsi. Kalau tidak dukungan, bagaimana…?” ujar Rossyati saat berbincang dengan saya.

Mereka berdua sebetulnya sudah akan istirahat, karena sudah pukul 22.00 malam. Saat itu, Irianingsih sedang menerima telepon dari Basuki T Purnama atau Ahok, wakil gubernur DKI Jakarta terpilih 2012-2017, yang berencana membantu proses relokasi sekolah mereka. Tapi setelah itu telepon untuk meminta mereka datang ke KPK.

“Apalagi sekarang ada revisi UU KPK, itu juga bahaya. Kalau koruptor enggak diberantas negara akan bahaya,” ujarnya.

Sekolah Kartini sudah lama bekerjasama dengan KPK. Ini sejak pimpinan Antasari Azhar. Beberapa kali mereka mengisi acara bersama KPK, seperti bermain angklung. Bahkan KPK juga memberikan bantuan buku-buku yang berisi tentang pendidikan antikorupsi.

Rossyati mengatakan, dalam mengajarkan ke anak didik, mereka selalu menanamkan tentang aspek budi pekerti, seperti halnya kejujuran. Sikap jujur ini dirangsang melalui tanggungjawab piket masak, jika ada anak didiknya yang membolos sekolah. “Ini untuk menciptakan kesadaran tanggungjawab dalam diri anak-anak.  Kami sudah mengajarkan anak-anak soal kejujuran sejak tingkat playgrup sampai SMA,” ujar Rossyati, yang kini memiliki 621 anak didik yang kebanyakan anak gelandangan.

Rossyati mengatakan, meski sekolahnya sering dicibir oleh Dinas Pendidikan DKI Jakarta sebagai sekolah ilegal, tetapi semangat untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak masih tinggi. “Sebab kami ingin membangun karakter anak bukan hanya sekedar meraih nilai (mata pelajaran). Anak-anak lulusan kami sudah ada yang jadi karyawan kok,” ujarnya.

Sekitar pukul 23.45, keduanya berpamitan untuk pulang ke rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. “Saya yang menyetir sendiri,” ujar Rossyati.

Sampai pukul 02.00, Gedung KPK masih penuh orang yang mendukung. Fadjroel Rachman, salah satu pegiat antirasuah, membacakan semacam petisi, yang intinya menolak upaya-upaya pelemahan KPK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s