Si Mata Empat Hajriyanto: Antara Buku dan Cinta

google

MUKANYA selintas mirip dengan aktor Hollywood Philip Seymour Hoffman, yang bermain dalam Capote (2005) yaitu sama-sama memiliki wajah oval dan berambut putih. Apalagi, sehari-hari Hajriyanto Y. Thohari memakai kaca mata bulat Jhon Lennon.

Tapi, Hajriyanto bukanlah seorang bintang film. Laki-laki kelahiran 26 Juli 1960 itu adalah seorang aktivis dan politikus. Saat ini ia menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 2009-2014.

Hajriyanto termasuk orang yang “gila” buku. Sebagai kutu buku, ia sudah lakoni sejak kecil. Bahkan, sampai umur 52 tahun ini, daya bacanya cukup kuat. Di tengah kesibukannya sebagai politikus, ia masih mampu melahap satu buku dalam dua atau tiga malam, terkecuali buku tebal. “Saya biasa membaca kalau mau tidur,” ujar Hajriyanto.

Tak heran, bila ia sekarang mengidap mata silinder, akibat “kegilaan” membaca. Setiap membaca buku, ia selalu memakai kaca mata progresif – sejenis kaca mata baca yang memiliki multifokus pada satu lensa.

Hajriyanto kecil mengenal buku melalui koleksi milik ayahnya, juga aktivis Muhammadiyah di Karanganyar, Sala. Ayahnya berlangganan beberapa majalah dan surat kabar, seperti Majalah Panji Masyarakat, Adil, Penyebar Semangat, Kiblat, Nasihat Perkawinan, Harian Merdeka, Pelita dan Suara Karya.

Ada pengalaman menarik saat kecil yang terus diingatnya. Waktu itu, ia masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, diam-diam ia mengambil dan membaca Majalah Nasihat Perkawinan. Tak tahunya, sang ayah marah melihat dirinya membaca majalah orang dewasa. “Ayah saya marah dan mengambil majalah itu” ujarnya. Tapi, bukannya kapok, Hajriyanto malah penasaran dengan edisi berikutnya dan tetap “mencuri” kembali dari ayahnya dan menikmati isinya secara diam-diam.

Apa sebetulnya isi majalah itu? Hajriyanto mengatakan, “Ya tentang artikel perkawinan, hubungan suami-istri dan lebih dari itu, membicarakan misalnya hubungan seksual, bagaimana cara mengawali dan permainannya,” tuturnya sambil tertawa mengingat kejadian itu.

Dari bukulah, ia mengenal dan bermimpi menjadi seorang politikus. Adalah Tamar Jaya, seorang wartawan dan penulis, yang mempengaruhi Hajriyanto kecil. Saat membaca buku kisah-kisah para pejuang kemerdekaan karya Tamar Jaya, Hajriyanto juga memiliki tekad untuk menjadi seperti tokoh perjuangan tersebut. “Buku yang sangat berkesan dan karena itu ada keinginan untuk menjadi aktivis,” kata alumnus Pasca Sarjana Antropologi Universitas Indonesia 1993.

Ia kemudian mengasah talenta menulis saat menjadi mahasiswa di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Pada 1979, tulisan pertamanya dimuat di koran Masa Kini. Ia senang bukan main karena menerima honor Rp500, untuk judul artikelnya, Islam dan Pluralisme. Honor menulis itu dipakainya untuk ongkos pulang ke Karanganyar, yang biasanya dua pekan sekali.

Ia kemudian terus menulis karena honor semakin besar, ketika tulisannya lolos di Suara Merdeka, Semarang pada 1980. “Saya dapat Rp15 ribu,” ujarnya. Uang sebesar itu, baginya sudah begitu besar, apalagi ibunya setiap bulan hanya memberinya Rp10 ribu.

Keperigelannya dalam menulis, ia lantas menjajal beberapa lomba esai dan karya ilmiah. Alhasil, pada 1984 ia juara pertama lomba karya ilmiah yang diadakan Kementerian Agama. Dari artikel Keterlibatan Ulama Dalam Masyarakat: Dulu, Kini, dan Esok, ia menggondol uang saku sebesar Rp1 juta dan piala wakil presiden. Dan, yang membuatnya senang, ia juga diberangkatkan haji oleh Kementerian Agama. “Waktu itu berangkat kloter terakhir dari Jakarta dan bersama beberapa pejabat negara,” kata Hajriyanto, yang sejak 1984-1997 sebagai dosen tetap Universitas Diponegoro.

Sampai kini, ia sudah mengkoleksi buku sebanyak 16 ribu buah, yang tersebar di dua rumahnya. Ia memburu buku di mana saja, bahkan sampai ke India. Di negeri Bollywood itu, katanya, banyak buku murah karena penerbit di sana memegang lisensi penerbitan dari Eropa dan Amerika, yang hanya diterbitkan dan diperjuabelikan di India.

“Begitulah politik perbukuan di sana, itu pernah saya tulis di beberapa koran. Di sana ada gedung yang enam lantai isinya buku semua, dan tidak tertempel harga buku. Jadi kita tinggal nunjukkin buku ke kasir, dan harganya dikira-kira sama kasirnya,” katanya saat berbincang dengan saya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (23/10).

Buku jenis Handbook, yang tebalnya sampai ribuan halaman, katanya, cuma dihargai sekitar Rp150 ribu, padahal di Indonesia mencapai Rp750 ribu. “Itu tanda-tanda negara mau maju, bisa dilihat dari dunia perbukuan,” tuturnya.

Hajriyanto menyukai dunia sastra, budaya, dan antropologi. “Sekitar 10 persen dari buku saya adalah novel,” ujar mantan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadyah periode 1993-1997 itu.

Meski begitu suka dengan sastra, Hajriyanto hingga kini belum mampu menelurkan karya sastra. Ia ingin sekali menulis novel atau cerita pendek sejak dulu. Bahkan, sejak lima tahun lalu, ia sudah merancang kerangka untuk novelnya. Sayang, hal itu selalu tertunda karena kesibukan kerjanya.

“Menulis sastra itu memerlukan penghayatan dan konsentrasi, sekarang baru bisa menulis esai dan kolom,” kata Doktor Antropologi UI itu. Ada dua orang yang mendorongnya untuk menulis sastra. Yaitu Sastrawan Sufistik Kuntowijoyo dan Taufiq Ismail.

Menurut Hajriyanto, dirinya selalu ditagih soal karya sastranya ketika bertemu dengan Taufiq Ismail. “Dia selalu menagih, ‘Mana tulisan novel dan cerpennya’,” ujarnya ketawa.

Jatuh Cinta

Meski aktivis yang selalu sibuk dengan kehidupan serius, toh Hajriyanto kepincut juga dengan wanita. Ia mengaku sudah tak ingat berapa kali jatuh cinta.

“Saya jatuh cinta pertama dengan wanita yang umurnya sama dengan saya. Beberapa kali jatuh cinta, tapi tidak kesampaian, ha..ha..,” kata penyuka dalang Ki Narto Sabdo ini.

Tapi, dalam memilih seorang wanita, Hajriyanto lebih menyukai wanita yang berumur lebih tua darinya. Alasannya simpel, “Jadi saya ingin memiliki istri yang matang dan dewasa, sehingga dapat membesarkan anak-anak, karena saya banyak beraktivitas di  luar rumah,” katanya.

Istrinya, Riatin Hajriyanto adalah seorang apoteker, yang setahun lebih tua darinya. Dari perkawinan dengan Riatin, ia dianugerahi empat anak yaitu Nadila Shevila Thohari (Arsitek ITB dan S-2 di University of South Wales), Fahnida Zeydra Thohari (Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran), Ridho Gusti Thohari (Fak. Hubungan Internasional Universitas Parahyangan), dan Fadia Hasna Thohari (Fak. Kedokteran Universitas Padjadjaran).

Tapi dari empat anaknya, tak ada yang mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang politikus. “Mereka pernah berseoloroh, ‘Nanti didemo melulu’ ,” katanya.

Meski sibuk di dunia politik, Hajriyanto tetap meluangkan waktunya untuk bercengkerama dengan keluarga. Istrinya sudah memahami bagaimana kerja Hajriyanto, yang sejak muda sebagai aktivis, sehingga jarang di rumah.

“Beberapa kali sih anak-anak ada yang komplen, kenapa ayah pergi terus. Ya sesekali menuruti permintaan mereka,” kata Ketua DPP Golkar ini. Sesekali bila ada waktu libur panjang, ia pergi rekreasi ke luar negeri, seperti Hongkong, China, Kuala Lumpur, Singapura. Ia memilih tujuan dekat, “Biar tidak terlalu besar biayanya, he..he..kan kalau ke Eropa dan Amerika terlalu jauh,” katanya.

Selain itu, istrinya juga sudah menyiapkan home theater yang biasa mereka gunakan untuk berkaraoke bersama. Bahkan, ada teman-teman istrinya datang diundang untuk bernyanyi. “Ya teriak-teriak di rumah, (dibelikan itu) mungkin agar saya tidak karaoke di luar rumah, ha..ha..,” katanya.

Dalam keluarga, ia selalu menekankan hidup yang bersahaja. Karena, menurutnya, dengan hidup seperti itu dapat berbuat sebanyak mungkin bagi orang lain. “Khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak mamfaat bagi orang lain,” kata Hajriyanto, mengutip hadis Nabi Muhammad saw.

 

#tulisan ini belum diedit redaktur. di muat pada Rabu 24 Oktober 2012 di Jurnal  Nasional

One thought on “Si Mata Empat Hajriyanto: Antara Buku dan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s