Hobi Politisi Senayan: Dari Menyanyi Hingga Bermain Gaple

POLITISI di Senayan memiliki kesukaan yang boleh dibilang sedikit lucu, bahkan mewah, seperti koleksi mobil mewah,jam tangan, bahkan sampai keris. Sementara yang lainnya, ada yang menjajal untuk masuk dapur rekaman dengan menghasilkan album musik. Yang lainnya, menulis novel atau buku.

Sebelum menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Tantowi Yahya sudah dikenal sebagai penyanyi dan artis. Aktivitasnya sebagai penyanyi bukan karena persoalan ekonomi, tapi lebih karena hobi. Ia menyukai musik bergenre country sejak umur 7 tahun. Saat itu, ia sudah mendengarkan lagu-lagunya Tom Jones, yang dikiranya musik pop.

Makanya, musik country sudah mendarah daging dalam jiwa mantan pembawa acara kuisWho Wants to Be a Millionaire itu. Ibaratnya mau menyanyi dangdut pun, cengkok nadanya Tantowi tetap country.

“Saya nyanyi Halo-halo Bandung saja jadi country ha..ha..,” ujar politisi Partai Golkar ini saat ditemui di Gedung DPR, Rabu (24/10).

Akan tetapi, hobi menyanyinya itu kini tak bisa diteruskan, semenjak menjadi anggota DPR pada 2009. Ia memutuskan untuk tidak bernyanyi karena masalah etika. “Saya tidak lagi (menyanyi) di depan publik dan dibayar. Ya, etikanya enggak etis saja. Saya sudahcommitted masuk DPR, profesi saya dulu, saya tinggalkan,” ujar peraih Best Traditional Album Singer pada 2004 dalam ajang AMI-Samsung Awards.

Di luar tugas sebagai wakil rakyat, Tantowi masih suka bermain musik bersama bandnya. Apalagi, dia sejak 2003 mendirikan Country Music Club of Indonesia (CMCI). Anggota klub itu sudah mencapai ribuan, yang tersebar di 11 provinsi. “Kalau sudah 30 provinsi saya bisa ikut pemilu tuh,” katanya sembari tertawa. Menurutnya, untuk anggota di Jakarta saja sudah mencapai 2.000 orang.

Beberapa waktu lalu, ia juga mengadakan acara bersama klubnya di sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan. Bahkan, ia mengundang beberapa duta besar negara sahabat seperti, Dubes Amerika Serikat, Inggris, Selandia Baru, dan Australia.

“Saya enggak jual tiket, itu untuk komunitas saja. Infonya ya lewat SMS atau mailing list, 500 orang bisa datang,” ujar Tantowi, yang juga membuka gerai pakaian Western berlabel namanya, TY Western Wears. Produk pakaiannya terdiri atas produk garmen, kulit, dan aksesori.

Selama karier menyanyinya, Tantowi sudah menghasilkan lima album. Pada 2000, Tantowi melempar album perdananya, Country Breeze. Album ini mampu menembus angka penjualan 300 ribu kopi. Stasiun TVRI pun menawarinya chanel khusus Country Road.

Kemudian, 2002, ia memproduksi Southern Dreams dan Country Manado, yang mengambil lagu-lagu daerah. Album ini mengantarkannya pada 2002, meraih AMI-Sharp Awards sebagaiBest Ballad and Country Singer. Tahun itu pula, Metro TV memintanya menjadi host di acara musik Goin‘ Country.

Beda lagi yang dilakukan Dewi Aryani, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Ia mengaku memiliki hobi mengoleksi buku dan menyanyi. Tetapi, urusan menyanyi berbeda dengan Tantowi, kalau Dewi sekadar menyalurkan hobi semata. Meski sekadar hobi, ia cukup serius bahkan di sela-sela kesibukannya mengurusi Komisi Energi mampu mengeluarkan album perdana berjudul Jalan Terjal Reformasi akhir Oktober ini.

Menurutnya, album tersebut sebagai bentuk kampanye reformasi birokrasi di Indonesia. Tapi, masih menyelipkan lirik-lirik romantis. “Minggu depan mulai diputar di radio-radio,” ujar lulusan tercepat doktoral bidang Administrasi Kebijakan Publik dan Bisnis pada 2012 di Universitas Indonesia.

Dewi menyukai musik sejak kecil dan menyanyi hanya sebatas untuk relaksasi. Ia kemudian sempat memberikan contoh lagunya berjudul Langkahku, yang berduet dengan penyanyi asal Papua Edo Kondologit. “Dengerin baik-baik liriknya, saya yang menciptakan lagunya. Dari lima lagu, tiga di antaranya ciptaan saya,” ujar Ketua Harian Pengurus Pusat Ikatan Sarjana NU itu.

Selain menyanyi, wanita kelahiran Magelang, 16 Januari 1973 itu juga menulis buku Jalan Terjal ReformasiCatatan Kritis Legislator, yang berisi kumpulan sejumlah artikelnya yang tersebar di media massa. “Baru diluncurkan November nanti,‘ ujar penyuka belanja buku dan baju ini. Suatu kali, tak tanggung-tanggung, ia memborong enam koper buku di Boston, Amerika Serikat. “Saya sangat menyukai buku dan hobi membaca,” katanya.

Koleksi keris dan bermain gaple

JANGAN berprasangka buruk terlebih dulu dengan dua politisi kali ini. Meski memiliki hobi yang sepintas terdengar aneh, tapi itu sekadar penghilang kepenatan dari rutinitas “mengurus” jagat politik negara. Politisi Demokrat Gede Pasek Suardika, misalnya, memiliki hobi mengoleksi keris.

Ia menyukai keris bukan karena mitos atau energi tertentu yang terkandung dalam keris itu. “Saya koleksi sekitar 50-60 keris,‘ ujar Ketua Komisi Hukum itu. Ia mengatakan, ada unsur seni yang tinggi dalam sebuah keris. “Ada hal-hal unik dan cerita historis dari sebuah keris. Satu benda diam, yang bernilai ratusan tahun memiliki cerita panjang,‘ katanya.

Selain itu, baginya sebuah keris juga memberikan inspirasi tersendiri. Karena seseorang empu yang membuat keris, katanya, selalu didasari dengan tirakat dan pengorbanan, agar hasilnya bagus dan awet. “Filosofinya, jika kita ingin berkarya bagus, yang harus kita lakukan adalah kita ikhlas, fokus, dan berikan yang terbaik, pasti usia karya itu panjang. Keris kanbegitu, usianya mencapai ratusan tahun,” ujar laki-laki asal Bali ini.

Dari koleksi kerisnya, Pasek memiliki keris berbahan dasar dari batu, yang didapat di Bali. “Ya kalau di air itu mengambang. Ya bahannya batu apung. Cara membuatnya kan unik aja. Kan biasanya bahannya dari besi,‘ kata penyuka bulu tangkis ini.

Saat ini, Pasek tak memiliki waktu lagi untuk mengurusi hobinya itu. “Enggak ada waktu lagi sekarang,‘ katanya. Ia menyempatkan diri untuk mencuci koleksi kerisnya setiap enam bulan sekali, bertepatan dengan upacara Tumpek Landep.

Sementara itu, politisi Partai Golkar Agus Gumiwang Kartasasmita memiliki kebiasaan yang memang terkesan negatif. Tapi, ia mengatakan bahwa bermain gaple, bukan karena untuk berjudi. “Jangan dilihat dari perspektif negatif ya. Demi Allah, itu tidak judi,‘ kata Wakil Ketua Komisi Pertahanan dan Keamanan ini.

Untuk melepaskan kepenatan rutinitas kerja, Agus kumpul bersama teman-temannya sambil mendengarkan musik. “Habis itu segala kepenatan hilang,‘ kata laki-laki kelahiran 3 Januari 1963 itu.

Kebiasaan main gaple itu, ia lakukan sejak masa kuliah dan sampai sekarang bermain bersama kawan-kawan lamanya. “Saya punya Gaple Club yang anggotanya teman-teman lama, bukan anggota Dewan. Kami biasa main sampai pukul 12 malam sambil makan malam,” ujar anak dari Ginandjar Kartasasmita, pejabat di masa Orde Baru. Mantap!

 

#dimuat di Jurnal Nasional, 25 Oktober 2012 dengan judul Ketika Musik Mengusik Politisi Senayan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s