Sultan Ternate yang Gemar Musik Hawaii

SULTAN Ternate ke -48 Mudaffar Sjah tertawa, ketika bercerita mengenai hobi musiknya dulu. Sebagai seorang trah Kesultanan Ternate, penampilan Mudaffar memang agak lain. Lebih perlente.

Maklum, dia pernah membentuk grup musik di kala remaja. Apalagi ia begitu menyukai lagu-lagu pop dan Hawaiian asal Amerika Serikat. Ia suka Hawaiian karena, “Rohnya nyanyian itu sama dengan (musik di Ternate),” kata Sultan saat berbincang dengan saya di Djakarta Theatre, Jakarta Pusat, Kamis (1/11). Di era 1960-an, musik Hawaiian cukup populer di telinga masyarakat Indonesia.

Memang, sebagai kota besar di bawah kaki Gunung Gamalama, Maluku Utara, kebudayaan Ternate memiliki kedekatan dengan bangsa-bangsa di Kepulauan Samudra Pasifik. “Seperti bahasa, lagu daerah, makanan, serta perangkat peralatan rumah tangga dan alat musik, contohnya Ukulele, yang juga ada dalam tradisi budaya Hawaii,” tulis situs malukuonline.co.id, 23 Maret 2012.

Melihat perkembangan zaman saat ini, Mudaffar prihatin dengan kebudayaan lokal yang kurang diminati generasi muda. Ia menginginkan agar generasi penerus lebih melestarikan dan mengembakan budaya Ternate. “Apa yang kita pelajari dari universitas dan ilmu-ilmu dari Barat belum tentu cocok, tapi kita harus hati-hati dan kritis,” katanya. Makanya, tiap hari kelahirannya pada 13 April, selalu ditampilkan Legu Gam Moloku Kie Raha (Pesta Rakyat Maluku Utara).

Di Keraton Ternate, terdapat tarian ritual khas yaitu Tari Legu-Legu. Tarian “sakral” ini, seperti halnya tarian Bedoyo Ketawang yang ada di Keraton Surakarta. Ia dibawakan oleh 12 orang wanita yang masih perawan. “Juga seksi-seksi,” kata Mudaffar sambil tertawa.

Tarian itu hanya dipertunjukkan dalam upacara kebesaran adat, misalnya upacara penobatan Sultan (Sinonako Jou Kolano), pengesahan istri Sultan sebagai permaisuri (Sinonako Jou ma-Boki), ulang tahun Sultan, penyambutan tamu agung di keraton dan termasuk saat Pesta Rakyat itu.

“Tapi syair dari lagu tarian itu berisi kritik terhadap Sultan loh. Misalnya pesan begini: ‘Kau (Sultan) kalau mengurus negara jangan banyak utang’. Kemudian ada juga: ‘Kamu di atas itu karena kami di bawah ini, jadi jangan macam-macam’. Dan (saat tarian itu berlangsung) Sultan tidak boleh meninggalkan acara itu,” katanya.

Mudaffar lahir pada 13 April 1935. Sebagai Sultan, ia memiliki gelar Sultan Mudaffar II. Pernikahannya dengan Nita Budhi Susanto, ia dianugerahi lima orang anak yaitu Nesya Fitri Hanindhiya, Nadiah Tsabitah, Hafizh Ayyashy, Nabilla Mariam, dan Azka Nukila.

Dia pernah menolak menjadi Sultan Ternate karena khawatir tak mampu mengemban tanggung jawab. Politik Keraton Ternate sempat tergoncang, karena hak-hak Sultan diberangus oleh pemerintah daerah. Kekuasaan Sultan juga tak begitu mengikat. Untuk mengembalikan hak-hak Kasultanan, ia masuk melalui jalur politik dan menjabat sebagai anggota DPRD Maluku dari Partai Golongan Karya.

Setelah Keraton Yogyakarta diberi hak khusus melalui UU Keistimewaan DIY, Mudaffar sedikit “cemburu”. Tapi, ia tidak ingin UU Keistimewaan Ternate.”Tapi hak-hak kasultanan itu dikembalikan, sebab pemerintah membikin sembarangan. Saya menentang keras pemerkosaan hak-hak adat. Nah, kalau sekarang ada payung hukumnya seperti di Yogya, (kasultanan) jadi aman,” kata anak ketiga Sultan Ternate ke-47 Iskandar Muhammad Djabir Sjah (1929- 1975).

Di masanya, ia mengembalikan tradisi kasultanan, yaitu menggelar Legu Gam Moloku Kie Raha pada 2002, yang sempat vakum sejak 1950. “Semua adat istiadat ditampilkan di situ. Kami sudah melakukan selama 10 tahun terakhir,” kata anggota Dewan Perwakilan Daerah Provinsi Maluku Utara periode 2009-2012. Menurutnya, kegiatan kebudayaan harus dikembangkan tidak hanya di lokal tapi juga internasional. Sebab, katanya, pendekatan budaya bisa memperkuat hubungan antar negara.

Meski berbentuk kasultanan, ia tak menerapkan sistem feodal seperti kerajaan Jawa saat ini. “Kami punya sistem yang demokrasi. Berbeda di Jawa, kami tidak pernah menutup diri. Kalau di Solo atau Yogya kan temboknya tinggi-tinggi,” katanya.

Untuk terus mengembangkan budaya Ternate, pihaknya juga sudah mengenalkan ke Belanda beberapa waktu lalu. Orang-orang Belanda, katanya, ada yang pernah tinggal di Maluku, sehingga mereka mengenal kebudayaan ras suku bangsa Melanesia Pasfisik itu, yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga, dan beberapa bangsa di Kepulauan Samudra Pasifik.

Mudaffar termasuk aktivis dan orang yang cukup kritis. Lulusan filsafat Universitas Indonesia pada 1987 itu, sudah banyak masuk beberapa organisasi seperti Ketua Murabitun, semacam paguyuban negara Islam Amerika, Eropa, dan Asia; Ketua Forum Keraton se-Nusantara 1995-1997; dan Anggota Dewan Pimpinan Nasional SOKSI 1968-1970.

Hidup di Jakarta, tak membuat Mudaffar menghilangkan nilai adat keraton. Meski sejak kecil, ia tinggal di luar keraton dan kembali ke keraton di usia Sekolah Menengah Pertama. “Jadi saya tidak pernah merasa menjadi anak Sultan, bebasnya begitu. Kita seluruhnya di suruh tinggal di kampung. Ketika SMP kembali ke keraton, kemudian diajari lagi nilai-nilai keraton. Tetapi kita sudah tidak menjadi feodal lagi,” katanya.

#dimuat di Jurnal Nasional, Jumat 2 November 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s