Edy Hendras: Mencintai Kehidupan Si Kera Merah

BAGAIMANA rasanya dicintai oleh orangutan? Nah, pengalaman itu bisa ditanyakan kepada aktivis lingkungan Edy Hendras Wahyono. Lelaki kelahiran Boyolali, Jawa Tengah ini memiliki seribu kenangan bersama orangutan saat menjadi peneliti di Kalimantan pada 1980-an.

Sampai suatu kali, Supinah, begitu nama orangutan betina itu, demikian cemburu kepada dirinya. Ini lantaran Supinah, sejak kecil dirawat Edy di kamp rehabilitasi, tak rela melepas “kekasihnya”-nya itu, yang menikah dengan wanita lain.

Supinah tergolong orangutan cerdik: bisa mencabut rumput, menggergaji kayu, atau membersihkan rumput dengan cangkul serta mencuci baju di jembatan. Menurut Edy, Supinah hanya suka dengan karyawan lelaki. Ia sama sekali tak suka dengan karyawan perempuan. Kalau bertemu perempuan malah ingin menyerang. “Terkecuali perempuan kulit putih,” kata Edy.

Edy kaget bagaimana mungkin seekor binatang mencemburui manusia. Tapi, ini benar-benar terjadi. “Memang satwa satu ini, konon 90 persen memiliki dekat kekerabatannya dengan manusia. Itulah orangutan,” katanya.

“Dia dari kecil saya rawat, tapi suatu kali setelah saya pulang (ke Jakarta) dan saya menikah. Istri saya saya ajak ke sana. Eh, saya malah digigit. Bayangin taringnya segini (sambil menunjukkan jari kelingking) nancap di kaki,” kata Edy saat berbagi pengalamannya dengan Jurnal Nasional, Minggu (28/10) di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta.

Edy mengisahkan kenangan itu dalam blog-nya, http://www.edy-hendras.blogspot.com. Dalam kisahnya, istri Edy setiap hari diincar oleh Supinah. Pagi-pagi sudah menunggu di kolong rumah. Tapi, dari kolong itulah, awal petaka bagi Edy. “Supinah dari kolong rumah secepat kilat menyerang,” tulisnya.

Bagaimana dengan kondisi Supinah sekarang? “Masih ada, sudah punya anak dan cucu, he..he..,” ujarnya. Ia memperkirakan saat ini Supinah berumur sekitar 40 tahun. “Tapi sekarang sudah enggak mengenali saya lagi.”

Alumnus Universitas Nasional 1980 ini, sebetulnya terjun di dunia orangutan karena tak sengaja. Sekitar 1985-an, ada lowongan untuk membantuk seorang peneliti asal Kanada tentang perilaku kera merah ini.

Kala itu, begitu sesampainya di Camp Leakey, sudah banyak kera merah menyambut. Mereka semua memiliki nama yang keren-keren. Ada nama Indonesia seperti Unyuk, Tutut, dan Supinah, tapi tak sedikit pula yang memiliki nama asing seperti Simon, Roger, Davida, Carey, Curly, dan Dart.

Ia melakoni kerja itu selama 7 bulan. Dari pengalaman itu, ia banyak mengirimkan tulisan ke beberapa media, seperti Majalah Suara Alam, Majalah Mutiara, Sinar Harapan, dan Intisari.

Pengalaman itu, ternyata memberikan manfaat luas. Tulisan-tulisannya dikumpulkan dalam Hari-hari Bersama Kera Merah dan hanya disebarkan di kalangan aktivis lingkungan. Banyak aktivis lingkungan yang menggunakan pengalaman Edy sebagai bahan acuan mengenali perilaku kera merah.

Edy kemudian mulai konsen dengan beberapa pelatihan tentang pelestarian alam, pendidikan lingkungan dan pengembangan masyarakat. Pada 1991, Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo dan Willy A. Gara (mantan Gubernur Kalimantan Tengah), ia mendirikan Yayasan Orangutan Indonesia di Pangkalan Bun, Kalimantan Tenganh.

Ia juga aktif di Orangutan Foundation International dan Conservation International Indonesia sejak 1990-an, sebelum akhirnya mendirikan Yayasan Pendidikan Konservasi Alam (Yapeka) pada 2000 dan dirinya sebagai direktur yayasan tersebut.

Sejak 2011, ia juga diminta bantuan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyangkut ekowisata. Sebelumnya, ia pernah menggeluti pemandu di agen perjalanan ekowisata pada 1994. Ia juga pernah bekerja di Taman Safari Indonesia.

Populasi orangutan yang terus menurun, juga mengiris hatinya. Orangutan saat ini hanya tersebar di Aceh dan Kalimantan. Penelitian terkhir jumlah orangutan sekitar 25 ribu. “Populasinya semakin menurun, karena habitatnya rusak,” katanya.

Makanya, ia menginginkan agar pemerintah dan perusahaan lebih peduli dengan kawasan konservasi. Jika kawasan hutan setempat sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi, “Jangan diganggu. Sekarang banyak pengusaha mencari lahan perkebunan atau pertambangan, tapi kawasan konservasi dikalahkan,” katanya.

Mengapa orangutan perlu dilindungi? Edy menjelaskan,  jika dikembangkan ekowisata orangutan tentu akan memiliki daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung. Dampaknya ada di bidang perekonomian, sedangkan hutan jika tak berpenghuni tentu tidak ada lagi regenerasi hutan.

Ia kemudian menceritakan bagaimana pengalaman Prof. Birute Galdikas, ahli primata University of British Columbia dan peneliti orangutan di Kalimantan. Galdikas, juga profesor luarbiasa Universitas Nasional, pernah menyuruh orangutan menyebar biji, ternyata kera merah ini menyebarkan lebih dari 35 jenis tumbuhan yang mempunyai nilai ekonomi penting bagi kehidupan manusia, misalnya jelutung (bahan dasar karet)  dan jenis meranti.

Edy juga pernah melakukan sebuah percobaan, yaitu menanam biji duku hutan yang jatuh langsung dan biji yang berada pada kotoran orangutan. “Secara nyata, bahwa biji yang keluar bersama kotoran orangutan, pertumbuhan kecambahnya lebih cepat dari pada yang saya ambil langsung dari pohon.”

#Dimuat di Jurnal Nasional, Kamis 1 November 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s