Komunitas Halal-Baik-Enak: Menyerukan Halal Demi Umat

AWAL 2001, Ajinomoto membikin geger. Presiden Abdurrahman Wahid saat itu pun harus turun tangan. Ia mengatakan, bumbu masak itu halal. Geger itu bermula ketika Ajinomoto divonis haram oleh Majelis Ulama Indonesia. Persoalanya ialah enzim dari pankreas babi, procine, dipakai dalam serangkaian produksinya, sampai akhirnya berbentuk monosodium glutamat (MSG) yang siap dilempar ke pasar.

Sejak kasus itulah muncul keresahan sebagian masyarakat terhadap jaminan halal suatu produk. Salah satunya, Keke Zatrian Sugitahari, yang pada 2001 membentuk sebuah grup milis: Komunitas Halal-Baik-Enak. Respon masyarakat bermunculan, bermula dari 50 orang, sekarang sudah mencapai 4 ribu anggota milis. Anggotanya dari beragam profesi dan tersebar di seluruh Indonesia bahkan ada dari luar negeri.

“Sebagian masyarakat mulai perhatian dan bertanya-tanya terhadap jaminan halal,” kata Anton Apriyantono, pembina Komunitas Halal, Senin (12/11). Sebelum menjabat Menteri Pertanian (2004-2009), Keke mengajaknya bergabung dalam komunitas itu.

Anton menceritakan, saat itu dirinya rajin menulis artikel terkait dengan produk atau sertifikasi halal. Ia lebih banyak menulis dari segi hukum agama dan pengetahuan umum. Maklum, Anton saat itu adalah auditor Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik (LPPOM) MUI.

Selepas menjadi menteri, Anton masih tetap aktif bertukar pikiran dalam milis. Sejak 2011 lalu, komunitas tersebut juga menyebarkan seruannya ke jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Pada Juli 2012, artikelnya Memilih Restoran Halal disebar di grup. Menurutnya, kaum muslim seringkali tidak sadar bahwa tidak semua restoran di Indonesua menyediakan makanan halal.

“Di Indonesia tidak ada peraturan yang mengharuskan setiap restoran harus menyediakan makanan halal, tidak juga ada keharusan memeriksakan kehalalan makanan yang disajikan restoran,” tulis Anton.

Yang terjadi saat ini, sertifikasi halal bukanlah kewajiban. Pengajuan sertifikasi itu berpulang kembali pada kesadaran pelaku usaha. Masalahnya, seringkali si pengelola restoran mencantumkan label atau tanda halal tapi restorannya belum pernah diperiksa oleh yang berwenang seperti MUI. Praktik seperti ini jelas sangat merugikan konsumen. Celakanya, hampir tidak ada sanksi yang tegas untuk menjerat mereka.

“Kita harus berawal dari peraturan yang tegas. Di negara mayoritas Muslim, (umat Muslim) harus menutut haknya terhadap makanan halal. Harus ada aturan yang mengatur itu,” kata Anton. Ia meminta agar pemerintah peduli terhadap umat Muslim. Saat ini DPR sedang menggodok RUU Jaminan Produk Halal. Komunitas Halal turut mengawal penyusunan naskah undang-undang tersebut.

Tugas pengawasan, kata Anton, memang tak cukup hanya dipegang oleh pemerintah. Sementara LPPOM MUI, juga tak bertindak dalam lingkup itu. Makanya, komunitas ini dibentuk sebagai salah satu cara mengkritisi dan memberikan pemahaman bagi masyarakat. Beberapa kali komunitas ini sempat berkampanye di depan para pengelola usaha makanan di mal. Ramadan lalu, mereka juga dari masjid ke masjid berdakwah soal kehalalan produk yang beredar di masyarakat itu.

**

SORE itu, Anton menyusuri lobi Hotel Sahid Jaya, Jakarta. Usai kami bersalaman, Anton kebingungan untuk memilih tempat wawancara. Ia terpaksa melipir ke ruang tunggu lobi, yang berdekatan dengan bar hotel. Ia memilih di pojokan.

Prinsip Anton tegas antara halal dan haram. “Minuman keras contohnya, itu ada di mana-mana. Sebetulnya kita di sini enggak boleh, karena di sini ada minuman keras,” kata Anton sambil mengarahkan pandanganya ke bar.

Bukankah tempatnya terpisah? Anton menjelaskan, persoalan itu memang masih rancu dan diperdebatkan. “Idealnya tidak begitu. Kalau memang terpaksa harus ada ruangan sendiri untuk non-muslim,” katanya.

“Karena Rosul SAW melarang kita menghadiri suatu majelis di mana minuman keras disajikan. Ya di hotel, restoran, warung, dan mnimikaret. Minumam keras adalah pintu masuk narkoba dan tawuran,” katanya. Di Arab Saudi, katanya, minuman keras dilarang sama sekali. “Mengapa (di sini) kita tidak bisa? Kalau mau diatur harus spesifik dan dijual di tempat-tempat tertentu,” katanya.

Ia juga heran dengan beberapa kalangan ulama yang masih menutup mata soal maraknya minumam keras. “Kadang ada benarnya FPI turun tangan, karena mereka sudah jengkel. Kalau saya masih sabar.”

“Saya memahami ketidaksabaran (FPI) itu, karena sudah keterlaluan (maraknya, red) minuman keras di negeri ini. Kalau kita sudah terbiasa dengan dosa yang kecil-kecil. Ini akan membuat hati kita tertutup dan tidak sensitif lagi,” katanya.

Maraknya anak muda yang gemar minuman keras, menurut Anton, lantaran ketersediaan produk begitu luas. Selain itu, bentuk aturan yang tidak tegas terhadap peredaran minuman keras. Pendidikan dan peran orang tua juga membantu antisipasi pergaulan anak-anak dari minuman keras. “Orang tuanya peduli enggak dan tahu enggak?… karena barang haram akan berdampak pada perilaku kita,” katanya.

**

Dalam kehidupan sehari-hari, Anton cukup berhati-hati. Terkadang, ia malah sering kerepotan sendiri, lantaran banyak hal yang dianggapnya tidak sesuai hukum agama. “Wajar kita sebagai muslim. Yahudi saja juga menuntut, bahkan sampai proses penyembelihan. Saat saya ke Argentina, ada pemotongan hewan dan permintaan Yahudi dipenuhi. Mereka lebih detil lagi permintaannya,” Anton menambahkan.

Prinsip hidup Anton pun ditularkan kepada keluarganya. Ia menjelaskan kepada anak-anak termasuk pembantunya. Antara lain, agar selalu mempertanyakan kehalalan makanan, meningkatkan pengetahuan, dan tetap hati-hati.

“Sekarang saya bertanya kepada muslim Indonesia, nyamankah hidup di negara seperti ini yang tidak ada kepastian? Kalau saya tidak nyaman sekali, karena saya tahu tentang makanan, kemana pun saya pergi, saya tidak nyaman dengan makanannya,” ujarnya.

#dimuat di Jurnal Nasional, Rabu (14/11/2012) dengan judul serupa, tapi bagian kedua dan tiga dipotong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s