Murti Bunanta: Penjaga Tradisi Mendongeng Indonesia

by andisn

MURTI Bunanta baru pulang mengajar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia sore itu, ketika saya menemuinya di yayasan yang dikelolanya – Yayasan Murti Bunanta, di bilangan Permata Hijau, Jakarta Selatan.

Meski umur telah 66 tahun, Murti masih terlihat bugar. Ia aktif mengajar dan mendongeng di Kelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA), yang didirikannya sejak 1987. Kelompok ini dibentuk untuk mengembangkan dan membina bacaan anak di Indonesia.

Kencintaannya dalam dunia mendongeng begitu besar. Mendongeng baginya adalah sebuah dedikasi agar anak-anak tetap memiliki hiburan dan menerima ilmu pengetahuan. “Kami memberikan hati dan empati, supaya anak-anak mendapatkan hiburan,” kata Murti, Kamis (7/12) lalu, “Ini dedikasi kami karena tidak ada orang lain yang melakukan ini.”

Baginya mendongeng sangat penting bagi anak-anak. Ia bisa menularkan minat baca dan mengenalkan buku-buku yang berkualitas. “Nilai moral juga bisa tersalurkan kepada anak-anak melalui cerita,” ujarnya. Dua tahun sejak KPBA dibentuk, berbagai pameran anak dilakukan. Sejak itulah mereka mulai dikenal secara luas baik di tingkat nasional maupun internasional.

Murti mengatakan, tradisi mendongeng di Indonesia kurang digali dan dilestarikan. Menurutnya, tradisi mendongeng itu berkesinambungan dengan tradisi menulis. Hal ini yang belum dilestarikan di Indonesia. Cerita rakyat pun masih terpaku pada topik seperti kancil, bawang merah bawah putih, dan lainnya. Padahal cerita rakyat di Nusantara ini begitu banyak yang belum ditulis dan diceritakan kembali.

Makanya, ia pun menuliskan kembali cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah. Sebanyak 50 buku telah dia hasilkan dan kebanyakan diterbitkan sendiri. “Karena penerbit ada yang tidak mau yang begini, karena mahal katanya,” ujarnya. Meski begitu, ada pula yang diterbitkan oleh penerbit, tapi ilustrator buku dirinya yang membayar. Buku yang ditulisnya, antara lain Kancil dan Kura-kura (cerita rakyat Kalimantan Barat), Senggutru dan Suwidak Loro (cerita rakyat Jawa), Si Kecil (cerita rakyat Sulawesi selatan), dan lainnya.

Ia kerap diundang sebagai pemateri dalam seminar tentang sastra anak dan mendongeng, seperti di Thailand, Malaysia, Singapura, Australia, China, Makau, Afrika Selatan, Jepang, India, Laos, Iran, Spanyol, Denmark dan Korea.

Murti adalah pengarang buku anak-anak Indonesia pertama yang karya-karyanya mendapat penghargaan internasional, seperti di Polandia dan Perancis. Bukunya juga diterbitkan di Amerika dan Kanada. Sebagai pengarang buku anak-anak, ia sebagai orang pertama Indonesia yang karyanya diterjemahkan dalam bahasa Jepang dan Mongolia.

Dua bukunya yang berjudul “Masarasenani dan Matahari” (cerita rakyat Papua) dan “Hua Lo Puu” (cerita rakyat Maluku) diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional menjadi buku braille pada 2009 dan dipakai di sekolah untuk anak berkebutuhan khusus di seluruh Indonesia. Bukunya My First Dictionary-Insect masuk dalam buku pilihan Oustanding Book for Young People with Disabilities 2009.

Ia juga menerima penghargaan seperti The Janusz Korzcak International Literati Prize (Polandia). Lalu, IBBY Honour List 2008 untuk buku Putri Kemang (Princess Kemang) di Denmark pada 2008. Ia sempat aktif menjadi Komite Eksekutif International Board on Books for Young People (IBBY), yang berkedudukan di Basel, Swiss. Pada 2011, ia ditunjuk menjadi Presiden dari Juri Internasional Biennale Illustrations Bratislava yang ke 23.

Menyangkut perbukuan anak-anak, Murti mengatakan bahwa saat ini sudah banyak invasi buku terjemahan luar negeri dan komik-komik. Sedikit sekali yang peduli, dari para penulis anak untuk menggali budaya sendiri. “Di Indonesia yang ada sekarang kan sastra dewaasa, sastra anak kurang,” katanya.

Menurut Murti, pengarang bangsa ini belum pandai menuliskan masalah sastra anak dengan menarik. Diakuinya menuliskan kembali sumber oral menjadi bahan tulisan yang menarik tidaklah mudah. “Parahnya, ada pula yang beranggapan bahwa cerita rakyat atau tradisi sudah ketinggalan zaman dan perlu digantikan dengan yang lebih modern, padahal bangsa lain banyak yang mengambil manfaat dan menggali budaya kita,” tulisnya dalam makalah “Anak dan Minat Budaya: Di Manakah Usaha dan Tanggung Jawab Kita?”, yang disampaikan dalam Kongres Kebudayaan V (2003) di Bukit Tinggi.

Sementara, “Ahli sastra anak juga tidak banyak, barangkali saya salah satunya yang aktif. Sedangkan pemerintah belum memberi perhatian sepenuhnya,” kata Doktor pertama UI yang meneliti sastra anak-anak itu.

Sementara, katanya, kaum dewasa yang tidak menguasai bidang sastra anak, malah menganjurkan untuk melakukan dekonstruksi cerita rakyat, “Sehingga hilanglah norma dan nilai budaya yang dapat diwariskan,” katanya.

Di Amerika, katanya, cerita rakyat mereka terus digali dan disosialisasikan pada generasi mudanya. Begitu banyak penelitian tentang folklor yang dapat didayagunakan untuk pewarisan budaya kepada anak-anak.”Kemanakah pantun anak-anak kita, nyanyian, permainan, peribahasa, teka-teki yang berkaitan dengan budaya dan dunia anak-anak? Penelitian dan upaya nyata untuk mempromosikan budaya kepada anak-anak hanya dilakukan oleh segelintir orang saja,” katanya.

Ia mengatakan, di Amerika saja sebanyak 5.000 anggota pendongeng bergabung dalam The National Storytelling Association. Mereka adalah para peneliti dan folkloris yang bergelar doktor yang tidak segan untuk mendongeng di depan anak-anak dan masyarakat dengan maksud untuk merevitalisasi kebudayaan.

Selain itu, tambahnya, tiap tahun secara teratur diadakan festival mendongeng bersifat nasional dengan nama Tellabration. Bahkan, di san ada pendidikan untuk Storytelling (mendongeng) tingkat pascasarjana. Bahkan di India ada Saneguruji Storytelling Academy. “Di Thailand, sudah ada upaya untuk membangkitkan kembali bahasa-bahasa yang hampir punah dengan menggunakan sarana mendongeng,” katanya.

Kegiatannya mendongeng sudah dikenal di berbagai daerah juga sampai mancanegara. Kelompoknya juga sudah menyumbang buku-buku terbitanya di Larantuka di Flores Timur, Aceh, Padang, Yogyakarta, Bali, Pulau Komodo, Atambua dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur.

Murti bersama anggotanya di KPBA terus mengenalkan tradisi mendongeng, seperti mendongeng untuk anak-anak penyakit kanker di rumah sakit Cipto Mangunkusumo. Mereka juga membagikan buku secara cuma-cuma. Selain itu, ia juga mengumpulkan para jurnalis untuk diajari mendongeng.

Sejak 2010, kini sudah untuk ketiga kalinya ia memberikan pelatihan kepada para jurnalis. Ide ini bermula dari keprihatinannya dengan anak-anak korban bencana alam. Ia berpikir bahwa jurnalis yang dikirimkan untuk meliput bencana, alangkah baiknya memberikan motivasi terlebih dulu kepada anak-anak.”Sebelum yang lain datang, mendongenglah untuk anak-anak. Jangan melihat ksedihan anak sebagai objek, tapi hibur dulu,” katanya.

2 thoughts on “Murti Bunanta: Penjaga Tradisi Mendongeng Indonesia

  1. Saya kebetulan mendapatkan buku Puteri Kemang dari Frankfurt Buchmesser, tapi saya merasa agak kecewa karena ilustrasi dari cerita tersebut semuanya memakai pakaian tradisional Jawa.Padahal cerita tersebut berasal dari Bengkulu. Indonesia kan sangat luas dan kaya akan keanekaragaman budayanya. Dengan buku dongeng ini keanekaragaman budaya bangsa kita dapat kita perkenalkan ke negara-negara lain,sehingga lebih dikenal,bukan hanya Jawa saja,karena Indonesia bukan hanya Jawa, Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s