Roosseno: Bapak Beton dari Madiun

NAMANYA sudah dikenal luas di dunia teknik sipil. Orang menyebutnya ahli beton bertulang. Dialah Roosseno. Ia memiliki andil besar ketika Jakarta dalam proses pembangunan.

 Ia terjun langsung ketika Presiden Soekarno memerintahnya mendirikan Hotel Indonesia untuk menyambut Asian Games ke-4 pada 1962. Ia juga terlibat dalam pembangunan Gedung Proklamasi, Kompleks Asian Games, Sarinah Departement Store, Monumen Nasional, kolam dan landasan patung “Selamat Datang’, dan Masjid Istiqlal.

Selain itu, ia turut mengawal pembangunan jalan, jembatan, dan pelabuhan, seperti jalan Jakarta By-pass, jembatan Madiun di Jawa Timur dan jembatan Rajamandala, Cianjur, Jawa Barat. Tak mengejutkan bila, ia kemudian berjuluk “Manusia 100 Jembatan.” Ia juga ikut membangun beberapa hotel, seperti Samudra Beach di Pangandaran, Hotel Ambarukmo di Yogykarta, dan Bali Beach di Bali.

Dunia teknik mengakui kecerdasan Roosseno. Berbagai tulisan ilmiahnya tersebar dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Indonesia. Pada saat ia masuk ke Technische Hoogeschool te Bandoeng(THB) pada 1928 – kini disebut Institut Teknologi Bandung, hanya tiga orang mahasiswa pribumi, selainnya adalah orang Belanda. Waktu itu, ia berumur 20 tahun. “Matanya menggambarkan cita-citanya untuk dapat membuat kuda-besi dan jembatan ala kali Madiun,” kata Roosseno, menceritakan kisahnya, saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dari ITB, 25 Maret 1977.

Selama empat tahun, ia menuntaskan pendidikannya di bidang teknik sipil. Dan, ia satu-satunya orang pribumi, dari sembilan mahasiswa yang mendapat gelar insinyur. Sisanya, tujuh orang kulit putih dan satu orang Tionghoa. Setelah itu, ia selama tujuh tahun menjadi asisten Prof. Dr. Ir. Scheepers, guru besar mata kuliah geodesi.

Pada November 1937, muncul tulisannya yang terkenal sebagai teori “Syarat tekuk dari Roosseno” dalam Majalah De Ingenieur in Nederlands Indieber Nomor 11. “Roosseno memberikan pemecahan secara grafis untuk mengatasi panjang tekuk tiang, guna menyelesaikan masalah portal jembatan,” tulis Eka Budianta, penulis biografi Cakrawala Roosseno.

Pada saat Jepang menguasai Indonesia, 1 April 1944, TH Bandung diubah namanya menjadiBandung Kogyo Daigaku. Saat itu, ia kemudian diangkat Jepang menjadi guru besar (kyodju) ilmu beton. Rosseno turut andil dalam jejak perkembangan ITB, kemudian bersama beberapa rekannya mengambil alih dari tangan Jepang. “Sebagai modal kerja pada saat itu hanya nasionalisme yang berkobar-kobar, antusiasme, devotion, untuk memulai pendidikan teknik di Indonesia,” katanya, seperti dikutip dalam buku Roosseno Jembatan dan Menjembatani. Padahal saat itu, baru ada 170 insinyur, suatu pekerjaan yang berat.

Masa kemerdekaan, namanya diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung. Pada 1946, STT Bandung dipindahkan ke Yogyakarta dan menjadi cikal bakal lahirnya Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Saat itu, Roosseno sebagai kepala STT Bandung.

Pada 21 Juni 1946, NICA mendirikan Universiteit van Indonesie dengan Faculteit van Technische Wetenschap sebagai pengganti STT Bandung di lokasi Kampus TH Bandung dulu. Sebagian besar pengajarnya adalah para mantan pengajar TH Bandung yang baru saja dibebaskan dari kamp interniran Jepang.

Pada 1949, Roosseno dikukuhkan menjadi guru besar Sekolah Tinggi Teknik Nasional dalam ilmu konstruksi beton bertulang. Lima belas tahun kemudian, bersama Rektor Universitas Indonesia Dr. Syarif Thayeb, ia mendirikan Fakultas Teknik UI, 27 November 1964.

Kepakarannya di bidang teknik, mengantarkan Roosseno era 1950-an ditunjuk sebagai menteri pekerjaan umum, menteri perhubungan dan menteri ekonomi. Selama menjadi menhub, ia menasionalisasi KLM, perusahaan penerbangan Belanda, menjadi Garuda Indonesia Airways.

Kemudian, menasionalisasi sekitar 10 perusahaan kereta api, perusahaan angkutan kargo Belanda (KPM), mendirikan Jakarta Lloyd dan Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI), mendirikan perusahaan angkutan umum: bus perusahaan pengangkutan Djakarta, serta menasionalisasi sejumlah hotel, seperti Hotel Preanger dan Savoy Homann di Bandung.

Dari dialah, ilmu beton bertulang, yang dipatenkan insinyur Joseph Monier (Perancis) pada 1867, mulai dikenal di Indonesia. dikenal di Indonesia. Pada 1975, muncul makalahnya “Tall Building Foundation in Jakarta”, yang mengungkap dua kontribusinya di bidang tiang pancang. Yaitu sambungan tiang pancang sistem Roosseno dan tiang pancang dengan gaya sistem Roosseno.

“Nama Roosseno berkibar tinggi dan identik dengan teknik sipil, pakar konstruksi, pakar jembatan, pakar gedung bertingkat, pakar beton bertulang, dan pakar beton pratekanprestressed concrete, pakar rekayasa yang teruju karya dan nama besarnya,” kata Budi Susilo Soepandji, bekas murid Roosseno, dalam pengantar biografi Cakrawala Roosseno.

Kecintaannya pada dunia teknik amat besar. Ia menyebut teknik sama halnya dengan kebudayaan yaitu sebagai sarana untuk menikmati hidup di dunia ini. Ia selalu memberikan petuah kepada para mahasiswanya agar selalu memiliki tradisi dalam bidang teknik, seperti negeri-negeri Barat. Suatu negara modern, kata Roosseno, tidak dapat diwujudkan tanpa teknik modern. “Saya berani mengubah syair sastrawan Inggris Rudyard Kipling (1865-1936) menjadi, “East is East and West is West but the time the twain shall meet‘,” katanya saat pidato menerima Doctor Honoris Causa dari ITB. Ia mengganti kata “and never” menjadi “but the time

 **

MINGGU Pahing, 4 Rajab 1838 dalam almanak Jawa atau 2 Agustus 1908. Seorang bayi lahir di sebuah desa di Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, sekitar enam kilometer di timur kota Madiun. Ia lahir dari rahim Raden Rara Endran, puteri bungsu Raden Bagoes Rooeslan. Endran juga seorang cucu Raden Adipati Holland Soemodilogo, bupati kedua Temanggung. Seomodilogo, salah satu tokoh yang ikut berperang dalam Perang Diponegoro 1825.

Bayi laki-laki itu diberi nama Roosseno. Nama itu diberikan oleh ayahnya, Roostamhadji, seorang patih Ngawi dan Madiun, putera sulung Patih Pacitan, Raden Soemadiwirja. Ayahnya adalah penggemar bunga mawar: roos (bahsa Belanda), makanya ia memberi nama anak-anaknya Rooshore, Rooskandar, Roosmijati, Roosdjenar, Rooseno, dan Roosdiono. Hanya satu yang tidak memakai nama Ross yaitu Imelda Samijati.

Dalam Cakrawala Roosseno, Eka menuturkan, Raden Rara Endran meninggal dunia pada 1916, ketika Roosseno masih berumur delapan tahun. Ayahnya kemudian menikahi Gusti Bendara Raden Ayu (BRA) Martinah, puteri bangsawan Yogyakarta, Pangeran Soerjopoetra, keluarga Sultan Hamengku Buwno VI. Perempuan kraton inilah yang membesarkan Roosseno, hingga masuk ke ITB. Dan kelak, dari keluarga Soejopoetra inilah, namanya bertambah menjadi Roosseno Soerjohadikusumo – bunga matahari yang indah.

Sejak kecil, Rosseno kental dengan tradisi kraton dan gelar keningratannya. Ibunya, Endran suka sekali memanggilnya dengan panggilan, Apong. Tapi, ia selalu menyebut dirinya sebagai orang teknik yang berpikir ilmiah dan rasional. “Saya lahir untuk teknik,” katanya.

Kedua orangtuannya memboyong Apong ke Desa Mojopurno, Madiun. Ia masuk ke Sekolah Rakyat Mojopurno, yang rata-rata muridnya anak dari orang miskin. Setiap pagi, sebelum pelajaran dimulai, Martinah memberi anak-anak itu sarapan. Bukan untuk tiga atau lima orang, tapi untuk 30-40-an anak. Bukan satu atau dua hari saja, tapi bertahun-tahun sepanjang hidupnya dan tinggal di sana.

Makanan yang dibuat Martinah sederhana: ubi jalar atau singkong rebus. Ditaruh di atas dua lembar daun pisang, yang lengkap dengan parutan kelapa, sedikit gula, dan garam. “Mungkin keadaan inilah yang mendorong Roosseno menjadi pecinta anak-anak,” tulis Eka, “Ia ingin mendidik orang sebanyak-banyaknya.”

Ketika naik kelas dua tingkat MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) atau setingkat sekolah menengah pertama ia tinggal di rumah kakeknya, Raden Soemodiwirja di Desa Sidorejo, Kecamatan Wunggu, Madiun. “Waktu dua tahun di desa ini, saya hidup ‘senang’,” kata Apong. Kakeknya meninggal pada 23 Mei 1942, ketika dia berumur 34 tahun. “Eyang saya, pensiunan patih Ponorogo, mempunyai sawah 50 bau. Ayah mendapat 5 bau. Dengan dokar saya pergi ke sekolah,” ujarnya.

Apong kemudian di Yogyakarta hingga lulus AMS (Algemeene Middelbare School) atau setingkat sekolah menengah atas. Pada 1928, ia melanjutkan kuliahnya di ITB dan lulus pada bulan Mei 1932. Dua bulan berikutnya, Apong menikahi gadis pujaannya, Raden Ayu Oentari dandikarunia enam anak: Toety Herati, Radiastuti, Hannyoto, Cometa, Amalia, dan Damiyanto.

Tak ada pesta gemerlap saat itu. Oentari adalah perempuan kelahiran Kediri, 2 Februari 1912. Ia menjadi istri Roosseno pada usia 20 tahun, 5 bulan. Ia menemani Roosseno selama 56 tahun, sebelum meninggal karena stroke pada 23 Juli 1988 sepekan sebelum ulang tahun pernikahannya ke-56.

Perempuan ini cantik, sampai pelukis Basuki Abdullah rela menghabiskan waktunya untuk melukisnya pada 1938. Padahal, ia saat itu sudah mengandung anak keempat, Cometa. Untuk menutupi perutnya, Oentari memakai selembar selendang.

Oentari, puteri sulung dari lima bersaudara. Ia anak ambtenaar, pegawai pemerintahan Hindia Belanda di Cirebon, Jawa Barat. Ia ditinggal ayahnya sewaktu kecil dan praktis ibunya, Ginah membesarkan sendirian. Sampai tua, Ginah hidup bersama keluarga Roosseno, sampai meninggal dan dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta Selatan.

Kekasih Roosseno itu masih setingkat MULO di Bandung, ketika Apong mengenalnya. Mereka berpacaran sekitar empat tahun. Momen yang indah, karena Bung Karno menjadi wali nikah Oentari. Soekarno mewakili keluarga Oentari. “Sebetulnya ibu mertuaki khawatir, jangan-jangan Soekarno akan berpidato panjang lebar,” kata Apong, seperti ditulis Eka.

Benar saja. Soekarno memanfaatkan pernikahan itu menjadi acara politiknya. “Ibunda istriku marah-marah, tapi apa boleh dikata,” katanya. Saat itu Seokarno mengatakan, “Pernikahan Raden Roosseno dan Raden Ayu Oentari adalah persatuan antara merah dan putih, lambang keberanian dan kesucian bangsa kita. Berkibarlah Roosseno dan Oentari. Tunjukkan cinta kalian kepada bangsa dan tanah air Indonesia. Ingatlah bahwa kalian menikah bukan untuk enak-enak sendiri, tapi untuk masa depan masyarakat yang merdeka. Untuk kemajuan hidup yang sejahtera kebahagiaan Ibu Pertiwi.”

Roosseno dan Seokarno memang dekat, keduanya sama-sama sekolah di ITB. Sepekan setelah pernikahan itu, keduanya membentuk Biro Insinyur Soekarno-Roosseno, yang melayani perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.

Pada saat itu, Roosseno yang lebih aktif mencari uang. “Bung Karno sibuk dengan pidato sini pidato sana,” ujarnya. Ada beberapa masjid dan rumah yang mereka tangani. “Tidak lama kami berkongsi, hanya setahun lebih beberapa bulan,” ujar Apong.

Roosseno menyebut Soekarno sebagai insinyur sipil, yag pandai merancang bangung. “Bung Karno agak keliru memilih studi insinyur sipil. Ia adalah seniman, aristek…,” katanya. Setelah kongsi bubar, Seokarno sempat menjenguk kelahiran anak pertamanya, Toety Herati. “Soekarno datang dengan pengawalan dua orang polisi. Ia sudah ditangkap dan hendak diasingkan ke Flores pada 1933,” katanya.

Roosseno juga ikut berpolitik, tapi berbeda dengan Soekarno. Ia bergabung dengan Partai Indonesia Raya. Ia juga terdaftar sebagai Ketua Fraksi Parindra dalam DPRD Bandung sejak 1933, tapi saking kritisnya ia kemudian dipindahkah ke Kediri, dengan alasan rotasi dari Dinas Pekerjaan Umum. Ia orang yang kritis. Ia juga hadir dalam rapat BPUPKI pada 1 Juni 1945.

**

PESTA itu digelar di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Saat itu, Roosseno merayakan ulang tahunnya ke-85 tahun. Ia banyak melempar senyum dan menyalami para tamu yang datang. Tahun 1993, memang berat bagi Apong.

Padahal, sebelas tahun sebelumnya, ia mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Utama pada 1984, atas kerja kerasnya di dunia teknik, dari Presiden Seoharto. Itu adalah bintang peringkat ke-8 dari 20 tingkat penghargaan dari Negara.

Belum pernah sebelumnya ia diberitakan gencar media dengan konotasi miring. “Prof. Roosseno sewot karena dianggap sudah pikun,” tulis Suara Pembaruan, 9 Juli 1993. Hampir kebanyakan media menuliskan tentang kondisi tuanya. Perselisihan internal keluarga, kemudian diselesaikan. “Sudah beres. Saya kumpulkan semua uang saya. Separuh untuk mereka, separuh lagi untuk saya selama masih hidup,” kat Apong.

Ia mengumpulkan anak-anaknya di Gedung Trisula, Menteng, Jakarta Pusat. Siang itu, adalah bagi-bagi warisan. Roosseno meletakkan semua uangnya di atas meja. Ada enam tumpukan uang untuk enam anaknya. “Masing-masih mendapat Rp40 juta,” katanya.

“Seumur-umur uang yang terkumpul dan tersisa padaku tidak sampai setengah miliar rupiah…uang dan manusia membentuk relasi tersendiri. Ada yang hanya pintar mencari. Ada juga yang ahli menghabiskan,” katanya.

“Aku tidak mengurus uang-uang itu. Urusanku lebih dari sekedar membuat jalan, jembatan, gedung-gedung pencakar langit, menara-menara dan pelabuhan. Urusanku adalah kesejahteraan dan perdamaian umat manusia,” ujarnya.

Ketika menjadi guru besar di UI, honor Apong cuma Rp5.000 per jam kuliah. Makanya, ia begitu bahagia ketika menerima cek sebesar Rp60 juta dari William Soejadjaja, atas imbalan konsultasinya. “Penghasilan Roosseno terkenal lebih rendah daripada didapat oleh para asistennya,” tulis Eka.

Suatu kali, Reguel Sidjabat, mahasiswanya yang ikut menangani proyek Masjid Istiqlal antara 1962-1970, punya cerita soal honor. Roosseno saat itu sebagai ketua tim proyek masjid terbesar se-Asia Tenggara itu. Menurut Reguel, bekerja dengan Roosseno tidak pernah berpikir soal uang. “Berapa bayarannya? Ada yang lebih dari semua itu, yaitu kita dapat ilmunya,” kata Reguel.

Tapi kini anak-anaknya lebih kaya dibandingkannya ayahnya dulu. Ketika puterinya sudah bisa membeli Mercedez, Roosseno masih menyetir sedan Plymouth tua dan nangkring di atas sepeda motor gedenya. “Tunggangannya terkahir, Yamaha 650 cc, itulah yang menyeret-nyeret tubuhnya di jalanan kota Jakarta,” katanya.

Di mata keluarga, rekan, dan mahasiswanya, Roosseno adalah orang displin dan humoris. Ia seringkali melontarkan kata-kata: “Dasar Petruk”dan “Sontoloyo. Untuk menghibur temannya yang tidak awet muda, ia sering berujar, “Krakende wagens deren het langst.” Arti harafiahnya: kereta tua berbunyi makin keras (semakin tua umurnya, semakin perlu didengarkan).

Budi Susilo Soepandji juga pernah mengalami cerita lucu saat ikut kuliahnya. Roosseno mau mengakhiri kuliahnya dan ia bercerita, “Jika saudara-saudara sedang patah hati, misalnya mau bunuh diri karena ditinggal pacar, maka silakan berdiri di belakang jacking prestressed dan suruhlah mandor memotong kucir besi prestressed di daerah ini (sambil menunjukkan daerah yang digunting dan menggambar berdirinya sang mahasiswa yang patah hati. Deel!! (bunyi potongan dalam bahasa Jawa). Dalam sekejap kalian akan mati! Baik, kuliah selesai!”

Tapi, Roosseno juga pernah marah. Ketika itu, ia marah dengan Agus Gurlaya Kartasasmita, mantan Ketua Umum Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) sejak 1996-2008. Ia menggantikan posisi Rosseno yang habis jabatan pada 1992. Lulusan Universitas Tekni Negeri (CVUT) Praha, Cekoslovakia itu begitu dekat dengannya.

Apong-lah yang membawanya ke dalam kepengurusan Gapensi, yang didirikan sejak 1959, saat kongres di Ancol, Jakarta pada 1983. Saat kepemimpinan Roossenolah, ia mejabat sebagai Wakil ketua I, orang kedua setelah Apong.

Gapensi menjadi mimpi Apong agar Indonesia membangun dengan orang-orang sendiri, bukan orang asing. “Pak Roosseno selalu mengatakan kita harus selalu jadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujar Agus. Roosseno membiayai Gapensi, sebelum akhirnya memiliki gedung sendiri.

Suatu kali ia berujar,”Pengurus yang ada saya minta harus memberikan waktunya 60 persen untuk Gapensi.” Kemudian, harus memberikan kontribusi kepada Gapensi sebesar Rp175.000. “Kalau tidak bersedia, silakan mengundurkan diri. Pak Roosseno memang keras. Semua diam, tidak berkomentar,” Agus menirukan.

Agus kemudian tunjuk tangan dan berkata, “Saya tidak bersedia, Pak.” Roosseno marah. Rapat diskors, lalu diperkecil. Tidak banyak orang, dia memaki. “Maksud kamu apa?” kata Roosseno kepada Agus.

Agus lalu mengatakan, “Bukan begitu, Pak. Kalau saya tidak berkomentar tadi, tidak ada yang berani bicara. Bapak katakan apa pun juga diam. Tapi bapak tidak bisa meminta mereka untuk tidak bekerja, karena waktunya habis untuk Gapensi 5 jam dan di perusahaannya hanya 3 jam. Bagaimana? Kalaupun kita suruh mereka bekerja 5 jam di Gapensi, apa yang harus dikerjakan? Hanya mengobrol-ngobrol saja?”

“Organisasi in kan belum bisa menghidupi keuangan. Kami bertiga yang menghidupkan tidak mengeluh? Kalaupun mereka tadi mengatakan bersedia, belum tentu itu akan dilakukan, mereka tidak bayar. Mereka pengurus jangan dibebani lagi keuangan,” kata Roosseno, “Saya enggak sampai hati lihat kamu. Sudah kerja kena beban. Tapi, Roosseno orangnya gampang melupakan marahnya.

Akhirnya, Agus mengusulkan agar anggota Gapensi mengiurkan uangnya sebesar Rp1.000. Dari jumlah anggota Gapensi, bisa terkumpul sampai Rp20 juta. Sampai sekarang, begitulah mekanisme yang menghidupkan Gapensi. Perusahaan yang besar membayar lebih besar daripada perusahaan kecil. Kini, kurang lebih anggota Gapensi sebanyak 56.000 dengan iuran kontraktor kecil Rp30.000. Untuk mengenang Roosseno, Gapensi rajin mengadakan turnamen golf merebutkan “Piala Roosseno”.

***

SABTU Legi, 28 Muharam 1929 atau 15 Juni 1996. Jakarta saat itu sedang libur, sehingga jalanan kota relatif sepi. Budi menerima telepon dari rekannya di Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) dan mengabarkan: Roosseno meninggal. Semua orang berkabung: dunia konstruksi Indonesia berduka cita.

Ia mengantarkan jenazah Roosseno ke pemakaman Karet Bivak, Jakarta Selatan, bersanding dengan istrinya, Oentari. Banyakan kenangan yang tak terlupakan berrsama Roosseno. Banyak karya yang ditinggalkan Roosseno, tapi ia belum kesampaian membangun jembatan Jawa-Sumatera. Paling tidak, impiannya menyambung Jawa-Madura, saat ini sudah terwujud.

Sampai akhir hayatnya, Apong tetap tegar dan pantang menyerah. “Pak Roosseno tampak bahagia dan bangga melihat mantan-mantan mahasiswanya dan generasi muda pada umumnya telah berhasil mengambil alih baik tongkat estafet pengembangan keinsinyuran di Indonesia dari tangannya,” kata Wiratman Wangsadinata, Direktur Utama Wiratman & Associates, juga pernah menjadi mahasiswa dan asisten Roosseno.

Bapak Beton Indonesia, kata Wiratman, memang tepat disandang Roosseno. Sejak ia bekerja di Departement van Verker en Waterstaat (Departemen Jalan dan Pengairan) pada 1935, ia berhasil meyakinkan atasan-atasannya yang Belanda, untuk menggunakan beton bertulang dalam membangun jembatan. Alasannya, semua bahan-bahannya dapat dibeli di Indonesia, sehingga membantu ekonomi rakyat Indonesia.

Karyannya mulai Hotel Indonesia, Monas, dan Sarinah dipuji-puji. “ Bukan main,” kenang Emil Salim, mantan menteri lingkungan hidup pertama era Orde Baru, “Profesor Roosseno membangun Sarinah di atas sebuah sungai purba. Alangkah sulitnya. Ia perlu didukung oleh banyak ahli. Ahli geologi, antropologi, macam-macam. Begitu juga kalau sekiranya dia membangun jembatan Jawa-Sumatera,” ujar Emil.

Pemugaran Borobudur juga masih mempertahankan kondisi candi sampai kini. Roosseno memakai empat prinsip pemugaran yaitu otentisitas mulai bahan, desain, teknik pengerjaan dan setting. Dalam menyambung patung, kata Hubertus Sadirin, mantan manajer konservasi Candi Borobudur, Roosseno sangat hati-hati.

Menyambung dua lempeng batu, ia memakai teknik sambung ekor burung yaitu dua segi tiga berbentuk ekor burung bertolak belakang, mengunci sebagai potongan ketiga. “Hasilnya, restorasi berhasil gemilang,” kata Sadiri. Dan kini Candi Borobudur masih kokoh berdiri setelah restorasi usai, 27 tahun silam.

Data Diri:

Nama : Prof. Dr. Ir. Roosseno Soerjohadikusumo

Lahir : Madiun, 2 Agustus 1908, meninggal di Jakarta, Sabtu, 15 Juni 1996.

Pendidikan :

1. ELS, Yogyakarta (1922)

2. MULO, Madiun (1925)

3. AMS, Yogyakarta (1928)

4. ITB (1928-1932)

Karier :

1. Asisten Profesor Geodesi TH Bandung (1932-1939)

2. Insinyur Konstruksi Deputi PU di Bandung (1935-1939)

3. Insinyur Konstruksi Deputi PU Kediri (1939-1943)

4. Guru Besar (Kyodju) dalam bidang Ilmu Beton di Bandung Kogyo Daigaku (1944-1945)

5. Kepala Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung) (1945-1946)

6. Kepala Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung) di Yogyakarta (1946-1947)

7. Konsultan Teknik di Jakarta (1949-1953)

8. Guru Besar Faculteit van Technische Wetenschap Universiteit van Indonesie Bandung (sejak 1949)

9. Menteri PU & T (1953)

10. Menteri Perhubungan (1954)

11. Menteri Ekonomi (1955)

12. Dekan Fakultas Teknik UI (1964-1974)

13. Konsultan Teknik/Direktur PT Exakta

14. Direktur Freyssinet Indonesia Ltd

15. Direktur Biro Oktrooi Patent Roosseno

Pengalaman Organisasi:

1. Anggota Federation International de Precontreinte (FIP)

2. Perwakilan Societe Technique de Utilisation de Beton Precontrante Paris (STUP)

3. Anggota International Association for Bridge and Structural Engineering Zurich (IABSE)

4. Ketua Gapensi

5. Direktur STTN

6. Ketua Tim Rehabilitasi Borobudur

7. Ketua Umum Gapensi

Karya Tulis:

1. Differential dan Integral, Penerbit Buku Teknik HS Tam, Jakarta, 1953

2. Perhitungan Cross, Penerbit Buku Teknik HS Tam, Jakarta (1953)

3. Beton Tulang, PT Pembangunan Jakarta, 1954

#saya merekonstruksi dan menulis ulang berdasar buku biografi Cakrawala Roosseno dan buku Roosseno: jembatan-menjembatani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s