I Ketut Mardjana: Dari Buntung Menjadi Untung

IMG_4550

“SAYA tidak pernah meminta-minta (jabatan). Kalau dipercaya, saya gunakan amanah dengan baik,” tutur I Ketut Mardjana, Direktur Utama PT Pos Indonesia (persero) sejak 2009.

Ketut memang bukan orang baru di PT Pos. Masa Menteri BUMN Sofyan Djalil, ia sebagai wakil direktur utama di perusahaan jasa pos tersebut sejak 2008. Pada Juli 2009, terjadi perombakan direksi, Ketut pun naik jabatan.

Ia menjawab amanah itu dengan kerja keras. Ia percaya hanya dengan kerja keras, semua usaha bakal mencapai kesuksesan. Ia pun membuat beberapa terobosan dengan merevitalisasi aset-aset perusahaan dan melakukan diversifikasi usaha.

Pengalaman menjadi komisaris di berbagai perusahan seperti, PT Gresik, Tbk (1998), PT Indocement Tunggal Prakasa (1999-2001), PT Semen Tonasa (1998-2002), PT Asia (2003-2004), dan PT Perkebunan Nusantara XI (2003-2006), ia mengantarkan PT Pos bangkit dari masa suramnya.

Ketut adalah harapan baru perusahaan pelat merah berlogo merpati itu, yang sejak 2004-2008 merugi hingga Rp600 miliar. Selama dua tahun menjabat, pendapatan dan laba perusahaan melonjak.

Pada 2009, pendapatan PT Pos mencapai Rp2,34 triliun dengan laba bersih Rp81,81 miliar. Tahun berikutnya, kondisi itu naik menjadi Rp2,56 triliun, tapi dengan laba Rp45,49 miliar. Penurunan laba tersebut karena, perusahan memberikan bonus satu kali gaji kotor bagi karyawan.

Pada 2011, pendapatan naik kembali sebesar Rp3,07 triliun, dengan laba bersih Rp127 miliar. Ia menargetkan tahun ini pendapatan mencapai Rp3,4 triliun dan tahun 2013 naik menjadi Rp4 triliun. “Sementara tahun ini sampai November lalu sudah laba (kotor) sebesar Rp230 miliar. Itu sudah melampaui target tahun ini sebesar Rp182 miliar,” kata Ketut, yang meraih gelar doktor bidang ekonomi dan bisnis dari Universitas Monash, Australia.

Sejak beleid liberalisasi layanan pos (UU Nomor 38) dikeluarkan pada 2009, PT Pos tak lagi memonopoli jasa pengiriman surat dan barang. Perusahaan swasta mulai menjamur. Ketut melihat hal itu sebagai tantangan yang harus dijawab secara optimis. “Saya tidak takut dengan persaingan, karena PT Pos memiliki keunggulan dibanding kompetitor. Yaitu memiliki jaringan usaha yang luas,” kata alumnus Institut Ilmu Keuangan Jakarta.

Menurutnya, perusahaan kargo swasta hanya menjangkau tingkat provinsi atau kabupaten, tetapi tidak mencapai kecamatan. Jaringan sampai kecamatan itulah, katanya, yang menjadi keunggulan PT Pos.

PT Pos masih menjadi tulang punggung untuk layanan, seperti pembayaran pajak, tagihan listrik dan air, pengiriman dana pensiun, melayani berbagai macam cicilan, pengiriman wesel, dan pembayaran dana bantuan pemerintah.

Ia membangun kembali kantor-kantor pos di daerah. Meski sebanyak 70 persen dari sejumlah 3.000-an kantor yang tersebar di seluruh Indonesia merugi, Ketut tak memilih menutupnya. Kantor pos masih diperlukan di daerah perbatasan, meski biaya operasional mahal.

Menurutnya, hal ini berbeda yang dilakukan Pemerintah Amerika Serikat, ketika mengurangi kantor-kantor pos mereka (The United States Postal Service/USPS). Ini lantaran biaya operasional yang begitu besar.

Ketut melihat pesatnya teknologi komunikasi, bukanlah hambatan. Makanya, ia tak lagi menerapkan usaha konvensional hanya pengiriman surat dan barang. Di zaman liberalisasi, berbagai cara ditempuh untuk menumpuk pundi-pundi pendapatan. Ia menjawab persaingan dengan diversifikasi usaha – keluar dari bisnis utama (core-business), yaitu membuka gerai ritel di beberapa kantor pos, juga kantor pos di mal dan kampus untuk menjemput pelanggan. Ia juga mengembangkan bisnis hotel di Bandung, dengan investasi sebesar Rp75 miliar.

Ketut mengatakan, aset-aset perusahan yang dimiliki cukup besar yaitu 2.200 aset. Tapi baru 200 tempat yang diversifikasi. Dari aset yang berupa tanah itulah, Ketut mengembangkan bisnis hotel. “Jika hanya bergantung pada bisnis terdahulu, tidak mampu (menaikkan pendapatan), ujar Ketut saat ditemui Jurnal Nasional di Serang, Banten, Rabun (12/12). “Kelebihan kami memiliki jaringan luas,” katanya.

Ide-ide bernas Ketut ternyata mendapatkan perhatian. Ia pun dianugerahi “People of The Year 2011” oleh Harian Seputar Indonesia, dalam kategori Inspiring CEO.

Pada 2013, PT Pos menyiapkan seluruh jaringan kantor pos terhubung secara online, sehingga bisa menerapkan perdagangan sistem online. Hal ini, kata Ketut,akan membantu usaha kecil menengah. “Ini bagian dari PT Pos sebagai mesin pertumbuhan ekonomi,” katanya. Nantinya, para UKM yang ingin menawarkan barang bisa melalui situs yang dibangun PT Pos.

Sebagai pemimpin, Ketut adalah orang yang mudah bergaul. Gayanya ramah dan merakyat, makanya ia sangat dekat dengan para kurir pos. Ia sering bersepeda bersama dengan para kurir di beberapa daerah yang dikunjunginya. Ia ingin selama kepemimpinanya dapat berkunjung ke pelosok-pelosok daerah, untuk memberikan penguatan bisnis.

Dari situlah, ia menyampaikan visi dan misi baru PT Pos kepada karyawan, serta mentransformasikan perubahan perusahan. “Saya menyebut diri saya sebagai pemimpin transformasi,” ujarnya.

Ketut lahir di Kintamani, Bali, 18 Maret 1951. Ia berasal dari keluarga besar; anak nomor 4 dari 12 bersaudara. Jalan hidupnya cukup berliku, untuk sampai tahap ini. “Saya dari kampung,” katanya. Ketut dibesarkan dari keluarga petani yang pekerja keras.

Karena itulah, ia sangat menyukai alam dengan mendaki gunung atau travelling ke beberapa desa. “Terakhir saya naik Gunung Batur, sama teman-teman PT Pos,” katanya.

Di tengah kerjanya yang padat, ia mendapatkan hiburan tersendiri dengan anjing-anjing yang dimiliknya. Ia baru saja dikirimi anjing Kintamani; berperawakan besar, berbulu panjang dan memiliki daya penciuman yang tajam. “Ke mana saya pergi, saya selalu dikirimi anjing, untuk mengingatkan kampung halaman. Bagi saya anjing itu setia. Kalau saya pulang, ia loncat-loncat, saat mandi pun saya ditungguin di depan pintu,” katanya, tersenyum.

Di usia 61 tahun, Ketut masih tetap bugar. Badannya terlihat cukup langsing untuk seumuran dirinya. Ia tak menghindari makan-makanan tertentu, “Saya makan sebelum lapar, dan berhenti sebelum kenyang,” katanya.

Selain itu, dalam hidup ini ia berusaha untuk terus ikhlas. Dengan keikhlasan, katanya, semua tidak ada beban dan tak ada musuh. “Kita hidup mengalir saja, kalau ada yang membenci kita diam saja,”katanya. Jika diberi Tuhan kehidupan sekali lagi, apa yang Anda inginkan? Ketut sempat kaget dan bertanya, “Reinkarnasi? Itu Tuhan yang tahu, itu tergantung dari amal-amal perbuatan kita,” katanya, disambut ketawa beberapa karyawan di sampingnya. “Sudah, ayo kita makan,” Ketut menutup perbincangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s