Alex Komang: Antara Film, Kretek, dan Darmin

FILM Amerika selayaknya berbeda dengan film kita,” kata Alex Komang. Ia mengritik sejumlah film yang tak menunjukkan tradisi dan budaya sendiri. Film Indonesia seharusnya memiliki cerita yang berkonteks dengan ke-Indonesiaan, karena sebuah film adalah produk budaya.

“Kalau ranah film saat ini adalah ukurannya Amerika, berarti sudah terjadi penjajahan estetika dan jalan pikiran,” ujar Alex. “Semacam ini, ada yang orang bilang: kemakan model.”

Selama hampir 30 tahun, ia telah membintangi sejumlah film. Dalam waktu dekat, film terbarunya 9 Summers 10 Autumns, diadaptasi dari novel berjudul sama karya Iwan Setiawan, segera diputar. Ceritanya tentang perjalanan hidup Iwan, anak Malang Jawa Timur, anak dari seorang sopir berhasil sampai ke New York, menjadi Director Internal Client Management di Nielsen Consumer Research.

Ketika ditawari peran sebagai ayah Iwan, ia langsung menerimanya. Alex menyukai film yang menggugah kesadaran dan membangkitkan semangat penontonnya. Sebelumnya, ia juga main dalam Laskar Pelangi (2008), Darah Garuda (2010), dan Surat Kecil Untuk Tuhan (2011).

Ia tak pernah mau bermain film yang menonjolkan seksualitas. “Saya memilih film dan teater dalam hal warisan budaya…kalau anak saya nonton film yang tidak punya manfaat, kasihan anak saya,” katanya. “Apa yang saya buat, hendaknya punya manfaat untuk orang lain dan saya; setidaknya orang yang paling dekat.”

Alex tidak terpukau dengan film-film Hollywood. Apa itu Hollywood, saya tidak terpukau!” Ia lebih menyukai cara produsen film China, yang menonjolkan identitas bangsanya. “Film Cina, semakin dia melokal semakin mendunia. Saya yakin penyanyi pop di Indonesia tidak akan mendunia, tapi Waljinah (penyanyi keroncong) itu bisa,” Alex mengatakan.

Menurutnya, sebagian masyarakat banyak yang salah menafsirkan budaya luar dianggap baik dan cocok untuk diterapkan di Indonesia. Padahal, katanya, tidak semua hal itu sesuai dengan budaya Indonesia.

Perubahan karakter budaya lokal saat ini, katanya, karena regenerasi yang terputus. Tugas dari pendidik dan pemerintah, untuk mengapresiasi kebudayaan lokal. Peran media sangat besar dalam hal ini. Ia mencontohkan bagaimana budaya Korean-Pop bisa mendunia karena dorongan semua pihak, termasuk pemerintah. “Itu ada kesadaran, kenapa kita hanya iri pada K-Pop. Kenapa kita enggak bisa begitu; gangnam style, apa bedanya dengan jaran kepang?” tutur ayah dari Aisyah Hanna Amani (13) – tinggal di Kuala Lumpur bersama istri Alex.

Debut Alex di dunia layar lebar ketika bermain di Doea Tanda Mata dan Secangkir Kopi Pahit, diluncurkan serentak pada 1985. Di situ, ia sebagai aktor sekaligus penulis skenario bersama Teguh Karya, pendiri Teater Populer. Berkat film itu, pada 1987 ia mendapatkan Piala Citra, ketika berumur 24 tahun.

Ia tak pernah bermimpi mendapatkan hadiah itu. Dua jam sebelum acara, ia sempat tak diperbolehkan ikut rombongan bus para nominasi Festival Film Indonesia. Dikiranya, ia bukanlah termasuk para nominasi. Padahal, ia sudah membeli batik baru dan memakai tanda pengenal. “Mungkin tampangnya ndeso (desa),” katanya tertawa.

“Tapi dua jam kemudian, saya baru dikenal (orang). Semua blit kamera ke arah saya; semua orang ke saya. Waktu itu saya merasa, hidup orang macam apa ini? Dari lobi, semua orang menyalami dan (penuh) wartawan,” kenang pemilik nama asli Saifin Nuha.

Tapi, kini ia tak tahu di mana menyimpan pialanya. “Mungkin di sanggar… saya main film karena passion. (Menerima) uang itu konsekuesi logis. Kalau (main film) untuk uang, setiap tawaran saya terima.”

Bagaimana namanya berubah? Ia mendapatkan itu ketika berperan sebagai tokoh Alex dalam sinetron remaja, “Kiki dan Komplotannya” di TVRI era 80-an.“Kebetulan tokohnya Alex, semenjak itu semua temen memangil itu. Sewaktu saya nulis cerpen, nama samarannya Alex Komang. Tambahan Komang, ya, ‘ngambil’ asal saja,” ujar Alex, anak keempat dari delapan bersaudara.

Gara-gara nama itu pula, ia sempat tak dianggap oleh ayahnya. Ayahnya tak suka dirinya menggeluti dunia film. Saat ditanya wartawan di rumahnya di Jepara, ayahnya tak pernah mengenal nama Alex Komang yang baru saja mendapatkan Piala Citra. “Saya tak punya anak dengan nama Alex Komang, yang di Jakarta itu Saifin Nuha,” cerita Alex menirukan ayahnya.

Selama setahun (1985-1986), komunikasi dengan ayahnya terputus. Di Hari Raya Idul Fitri, Alex pun sungkem kepada ayahnya, meminta maaf. “Saat itu ayah menangis, saya juga ikut menangis. Ayah sambil ngomong, ‘Cepet kembali ya Nak’,” kata Alex, lahir di Jepara, Jawa Tengah, 17 September 1961.

Ia masuk ke Jakarta pada 1980, usai lulus tingkat sekolah menengah atas, dan tak pernah terpikir untuk bermain film. “Dulu saya enggak kenal film dan teater, tapi saya sudah kenal sastra, dari situ saya kenal film dan teater,” ujarnya. Ia pun bergaul di komunitas seniman Bulungan Jakarta Selatan. Dia berkenalan dengan Arswendo Atmowiloto, dan lainnya, sampai bertemu Teguh Karya.

Kretek dan Darmin

Tak terasa, perbincangan berjalan lebih dari dua jam. Tiga rokok habis dihisap Alex. Secangkir kopi hampir tandas, ketika saya menemuinya di Warung Darmin, Jalan Duren Tiga, Kalibata, Jakarta Selatan, yang didirikannya sejak 2010. Ia menyebut warungnya adalah warung pembebasan. Dan nama Darmin itu, ia comot karena mencerminkan orang biasa. Warungnya memang bagi orang-orang biasa. Orang yang datang bebas berbincang sambil menikmati minum dan kudapan. Dan, katanya, di warung kopi, selalu ada pertemuan antara orang, yang menghidupkan sebuah obrolan baik kehidupan, politik, cita-cita, atau sekedar main catur.

Alex adalah perokok kretek. Kretek baginya sebagai salah satu produk budaya Indonesia. Ia heran dengan beberapa kalangan yang menghalangi tumbuh kembangnya kretek. Persoalan orang merokok atau tidak, itu adalah sebuah pilihan.”Sama halnya dengan memilih makan daging atau vegetarian,” kata Alex, yang memiliki kenikmatan tersendiri dalam merokok.

“Saya anggap bahwa ada yang menganggap anti tembakau, tapi tidak harus memasung petani tembakau. Ini karena enggak mengerti konteksnya. Siapa yang menanggung risiko, kalau mereka enggak makan?”

“Tapi saya tetap ngajeni (menghormat) orang yang tidak merokok. Kalau saya (merokok) di tempat ber-AC, saya salah,” ujarnya. Menurutnya, di area publik perlu disediakan tempat merokok, seperti halnya di bandara Amsterdam Schipol, yang menyediakan banyak tempat free smoking, berbeda di bandara-bandara Indonesia.

Meski mencintai rokok kretek, ia tak mau menjadi bintang iklan baik untuk produk rokok atau lainnya. “Terus terang (karan iklan,red) kita menjadi konsumtif. Itu kan tidak baik. Menganjurkan orang merokok menjadi konsumtif, saya merasa enggak nyaman,” katanya. Justru, “Saya berharap masayarakat menjadi produktif, bukan konsumtif.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s