Kerja Keras Umar di Dunia Mini

UMAR baru saja membuka tokonya, “UD Senang Anak”, pagi itu di Jalan Raya Pasar Minggu, Kalibata Timur, Jakarta Selatan. Sambil membawa kemoceng, ia bersihkan beberapa mobil-mobilan miliknya, lalu ditatanya di bagian luar toko.

Ia mempersilakan saya masuk ke tokonya. “Silakan,” kata Umar, sembari tersenyum. Pagi itu ia hanya memakai kaos oblong putih. Garis-garis keriput di wajahnya dan uban yang menyelimuti rambutnya, tak mengendurkan Umar untuk tetap berjualan.

Meski sudah berumur 70 tahun, ia masih terampil mendesain dan membuat mobil-mobil mini. Dan usaha itu sudah dilakoninya selama hampir 35 tahun. Keterampilannya membikin bus, truk, bajaj berukuran mini tak disangka telah mengangkatnya dari masa-masa sulit dan kini menjadi pengusaha yang beromzet jutaan rupiah. Ia terjun ke dunia usaha tersebut pertama kali justru dari pembuatan kincir.

“Awalnya saya bekerja di toko tinta, tapi kemudian bangkrut. Iseng-iseng saya membuat kincir, ternyata ada respon dari masyarakat,” kata Umar ketika mengawali usahanya itu sekitar tahun 1972-an.

Kincir-kincir yang dibikin Umar itu berupa kincir angin mini yang berbentuk orang-orangan. Ia mendapatkan inspirasi membuat kincir pertama kali, ketika ia mengunjungi Ancol, Jakarta Utara. “Waktu itu modalnya sekitar Rp800, kemudian saya jual kincirnya seharga Rp1.100 per buah,” kata Umar, yang memiliki nama asli Marsa’ad

Kincir-kincir hanya sekedar pajangan untuk dipasang di atas rumah. Pembelinya tidak hanya dari Jakarta tapi ada yang berasal dari Makassar, Kalimantan, dan bahkan Malaysia.

Dari keisengan itulah, ia mulai memiliki pangsa pasar. Pelan-pelan ada beberapa orang yang memesan, sampai pada suatu kali, ada orang yang memintanya untuk bikin mobil-mobilan mini. Ia tak menolak tantangan itu. Tak dinyana, respon setelah pembuatan pertama itu membuat banyak orang lainnya juga berminat membeli. Dari situlah, ia merintis karya di dunia mobil mini.

Lambat laun, Umar menikmati pekerjaan barunya itu. Pasang surut usaha tidak begitu dirasakannya. “Sejak dulu sampai sekarang, biasa-biasa saja tuh,” katanya. Ia cukup terkesan dengan usahanya itu ketika ada pesanan dari Australia, Belanda dan Jerman. Orang Australia dan Belanda itu minta dibuatkan bajaj mini, sedang pemesan dari Jerman berupa truk mercy.

“Tapi semenjak ada Bom Bali tahun 2002, orang-orang luar enggak ada lagi yang pesan. Mereka biasanya menelepon kalau mau pesan,” katanya.

Selama ini juga ada pembeli khusus seperti dari Taman Mini Indonesia Indah, yang meminta dibuatkan delman, kereta api uap, trem, truk pick-up, becak, oplet, bemo, helicak, dan busway sebagai koleksi mesuem. Sebelum krisis ekonomi tahun 1997-1998, banyak pesanan dari beberapa instansi, salah satunya Pemprov DKI Jakarta. Katanya, mobil-mobilan tersebut untuk dipajang sebagai koleksi pemprov terkait perkembangan transportasi di Jakarta.

Bergelut di dunia kreatif, kata Umar, membutuhkan ide-ide segar dan tentu saja daya seni yang tinggi. Meskipun dirinya tidak memiliki darah seniman, tapi setiap membikin mobil-mobilan dirinya mendesain sedemikian rupa agar tampak menarik calon pembeli. Sebab, kalau biasa-biasa saja tidak akan laku, katanya.

Sebelum membuat bus, misalnya, ia terlebih dulu mensurvei ke jalanan. Untungnya, toko miliknya, sejak dulu sampai sekarang berada di pinggir jalan, sehingga bisa mengamati bentuk, warna, dan model bus-bus yang sedang melintas di depan tokonya.

Desain mobil-mobilanya menyesuaikan perkembangan mobil era sekarang, misalnya ada busway, truk tronton, juga ada pesawat dan kereta api. Namun peminat truk tronton, pesawat, dan kereta api tidak begitu banyak. Apalagi hargnya cukup mahal yaitu Rp340-400 ribu. Makanya ia hanya menyediakan beberapa mobil saja.

Umar menyadari faktor usia membuatanya tak segesit dulu. Kini hanya di waktu longgar saja, sambil menunggui pembeli, ia menyempatkan untuk mendesain. Untuk menambah barang dagangan, ia meminta orang lain untuk membuat. Mereka kebanyakan dari daerah Karawang, Jawa Barat. Dari merekalah, Umar membeli beberapa mobil-mobilan.

Ada beberapa ukuran desain yang dibuat, misalnya ukuran 90 cm x 30 cm dihargai Rp125 ribu. Dari sini, Umar mengambil untung sekitar Rp40 ribu, karena dari pembuatnya di Karawang, ia sudah membeli sebesar Rp85 ribu.

Model ini biasanya butuh waktu satu pekan membuatnya dan itu pun baru satu mobil. Menurut Umar, tidak mudah membuat mobil-mobilan karena butuh ketelitian dan kerapian. Kemudian ada ukuran 60 cm x 17 cm yang dihargai sebesar Rp60 ribu dan 40 cm x 15 cm senilai Rp50 ribu.

Untuk bajaj dijual sebesar Rp25 ribu, dan ia hanya mengambil untung sekitar Rp6.000 per buah. Ia biasa menyediakan bajaj sebanyak 120 buah per bulannya. Lalu, untuk truk ukuran kecil sebanyak 50 buah, truk sedang sebanyak 30 buah, dan yang ukuran besar sebanyak 5 buah. Seluruh dagangannya hampir 70 persen lebih banyak model truk.  Umar mengatakan, terkait harga penjualan itu juga bergantung dengan kerapian pembuatan. “Jika buatannya rapi ya pasti mahal,” katanya.

Tapi ia heran dengan beberapa dagangannya yang dibuat oleh anak-anak muda. Hasil buatanya memang terbilang rapi, halus, dan cara mengecatnya pun rapi. “Sayangnya, itu malah enggak laku. Enggak tahu kenapa bisa begitu,” katanya, sambil tersenyum.

Sebetulnya buatan Umar  juga tak rapi, misalnya dari cara pemotongan dan pengecatan terkesan apa adanya dan kuno. Tapi orang-orang lebih suka dengan desainnya. “Mungkin seninya beda,” ujarnya sembari tertawa. Menurutnya, kebanyakan pembeli juga masih mencari model-model lama.

Mengenai untung penjualan, Umar sangat terbuka sekali. Sambil menunjukkan buku penjualannya, Umar dengan senang hati menceritakan penjualannya pada 21-22 April 2012. Dalam dua hari itu, ia menerima pendapatan kotor sebesar Rp3,1 juta.

“Kalau dihitung-hitung dalam sebulan penjualan bisa mencapai Rp25 juta,” ujarnya. Apakah banyak peminatnya? “Ya tiap hari ada saja yang beli.”

Umar mengatakan, pendapatan kotor itu didapatkan dari dua kios. Tapi tidak seluruh uang itu menjadi miliknya, karena dirinya harus berbagi keuntungan dengan anak-anak majikannya. Selama ini ia tinggal di rumah majikannya dan ia diberi tempat untuk berusaha.

Menurutnya, dari penjualan itu ada untungnya sekitar Rp10 juta, kemudian dibagi-bagi ke beberapa anak majikannya. Ia sendiri mendapatkan pembagian keuntungan tiap bulannya kurang lebih sebesar Rp3 juta. Sisa uang penjualan miniatur kendaraan tersebut diputar kembali untuk modal pembelian bahan-bahan dan hasil karya dari para pekerjanya yang ada di Cikarang, Jawa Barat dan tempat lainnya.

Berkat dagangannya itu, Umar sudah bisa menyekolahkan kelima anaknya sampai perguruan tinggi. Sekarang tinggal tiga anaknya yang masih kuliah. Dari semuanya itu, tak ada yang mengikuti jejak Umar. “Enggak ada yang mau ikutan bapaknya. Mana ada anak muda mau kerja begini,” katanya laki-laki tamatan kelas 4 sekolah rakyat itu.

Hingga kini ia masih memiliki mimpi yang belum terwujud. “Saya ingin bikin pabrik mobil-mobilan, sayang modalnya besar banget. Mesin pemotongnya saja sebesar Rp275 juta,” katanya. Pada 2009, ia pernah mencoba meminjam uang di bank, tapi gagal karena bank kurang percaya dengan kondisi usahanya.

Kini, Umar masih setia menunggu calon pembeli datang. Untuk menjaga toko, ia bergantian dengan saudaranya. Ia hanya biasa berada di toko sampai sore hari dan toko baru tutup sekitar jam 9 malam.

2 thoughts on “Kerja Keras Umar di Dunia Mini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s