Putri Ayudya: Dari Teater Merambah Dunia Film

Putri Ayudya (Dok.Pri)

SEJUMLAH orang berebut foto bersama ketika Putri Ayudya (24) keluar dari rumah sinema Goethe Institut Jakarta, pekan lalu. Filmnya, Pesan Dari Samudra, yang disutradarai Riri Reza, baru saja diputar perdana. Ia melayani satu per satu dengan sabar.

Berbalut jumpsuit merah hati, ia terlihat anggun malam itu. Rambut hitamnya tergerai panjang. “Saya senang sekali. Dari dulu buat saya (main film, red) itu impian. For me, this time I am living in my dream,” ujar Putri saat berbincang dengan Jurnal Nasional.

Film yang diputar secara nasional di Metro TV akhir pekan lalu adalah film pertamanya. Meski sebatas film televisi (FTV), Putri bahagia bisa bermain dengan bintang terkenal, seperti Lukman Sardi dan Jajang C. Noer. Apalagi dibawah naungan Miles Films milik Mira Lesamana, hal itu sudah membuatnya merasa beruntung. “Yang nawarin Miles, enggak mungkin nolak, kan?” kata Putri tertawa.

Dunia akting bukanlah hal baru bagi Putri. Ia sejak sekolah menengah pertama sudah berkenalan dengan dunia teater. Bahkan sampai kuliah, ia masih menggeluti teater. Sampai kemudian, ia mendirikan Teater Psikologi yang disingkat Teko, bersama kawan-kawannya angkatan 2006 dan 2007 di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.  “Saya cinta dengan teater,” kata pembawa acara Jejak Petualang di Trans7 itu.

Teater itu cukup produktif di internal fakultas, sejak dibentuk pada 18 Oktober 2007. Di akun facebook-nya, mereka mengatakan bahwa teater ini dibentuk untuk mengenalkan isu-isu psikologis dalam bentuk yang menarik, sehingga mudah dipahami masyarakat luas. Misalnya, isu tentang autisme, demokrasi Indonesia, lingkungan, dan lainnya. Putri juga beberapa kali didapuk sebagai sutradara. Misalnya pada 28 April 2012, ia menjadi sutradara dalam pementasan teater komedi, Suryati Langsung ke Hati.

Pada 2009, ia mendapatkan kesempatan bermain teater di Salihara dan Taman Ismail Marzuki. Sastrawan Goenawan Mohammad, seperti dikutip dari Femina.co.id,  memilihnya untuk berperan sebagai Surtikanti dalam pentas 4 monolog bertajuk Karna. Ia berduet dengan aktor pantomim asal Prancis, Philippe Bizot.

Meski sama-sama akting, menurut Putri, ada perbedaan ketika bermain film dan teater. Bermain teater, seorang pemain harus bisa berkomunikasi dengan penonton, tetapi di film seorang pemain adakalanya berbicara kepada diri sendiri. “Dalam film saya disuruh lebih (berbicara) ke dalam diri. Berbicara dengan diri sendiri, tidak harus mengeluarkan kata-kata, tapi dengan gestur,” ujarnya. Ia mengatakan, bermain film dan teater memiliki tantangan masing-masing karena memang tekniknya berbeda.

Dalam film pertamanya itu, Putri berperan sebagai Nara, seorang dokter  muda yang  bekerja di Puskesmas Desa Lawaloba, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia hidup berpisah dengan suaminya Sakti (Lukman Sardi) dan anaknya, Samudra yang ada di Jakarta.

Sakti gelisah ketika Samudra berangkat menyusul ibunya ke Flores, beberapa jam kemudian ada pemberitaan tentang gempa bumi dan ancaman tsunami. Ia terbang menyusul mereka. Di sisi lain, Samudra dengan menyelinap ke tim SAR ikut ke Lawaloba untuk bertemu ibunya. Sementara, Nara dan warga setempat sedang berjuang menyelamatkan diri dari ancaman Tsunami. Akhirnya, keluarga kecil itu bertemu kembali dalam suasana evakuasi bencana. Dan cinta mereka pun bersemi kembali.

Pada dasarnya, film berdurasi 76 menit ini bercerita tentang bagaimana masyarakat lokal di Flores memahami tanda-tanda alam Tsunami, sehingga mereka bisa menyelamatkan diri lebih dulu. “Film ini berhubungan dengan pendidikan. Itu penting (karena) tentang sosialisasi penanganan tsunami,” kata Puteri Indonesia Intelegensia 2011 tersebut.

Bermain bersama aktor idolanya, Lukman Sardi, ternyata membuat Putri grogi. Ia mengatakan, ada adegan yang harus diulang untuk mendapatkan penjiwaan yang tepat. “Lawan mainnya luar biasa, saya fans sama dia. Tangan saya dingin dan deg-degan,” katanya.

Untuk berperan sebagai dokter, Putri banyak berdialog dengan dokter jaga yang ada di Desa Lawaloba; bagaimana memeriksa pasien, menggunakan tensimeter, membalut luka, dan lain-lain. Walaupun masih lajang, Putri selalu saja kebagian peran sebagai seorang ibu. Di teater pun dirinya selalu dapat peran istri dan memiliki anak. “Selalu begitu,” katanya ketawa. Ketika saya bertanya tentang peringatan Hari Ibu, Putri sedikit tertegun. Ia sedikit merasa bersalah karena selama ini banyak waktu yang ia lewatkan untuk bersama ibunya. “Saya ingin sekali membagikan waktu (bersama ibu), karena saya sibuk sekali,” ujar gadis berkulit sawo matang ini.

Finalis Wajah Femina 2008 itu ternyata berdarah Jawa; bapaknya berasal dari Purwokerto, sedangkan ibunya dari Solo. Ia lahir di Jakarta, 22 Mei 1988. Ia merupakan alumnus Psikologi UI pada 2010 dan kini sedang melanjutkan kuliah S-2 di Atmajaya. Selain akting, ia juga menyukai olahraga seperti karate dan mendaki gunung. Beberapa gunung telah ia daki seperti Gunung Himalaya, Gunung Rinjani, dan Gunung Semeru. Saat mendaki Himalaya, ia ikut kelompok Kartini Petualang dalam program kampanye Global Warming dan hanya sampai 6.000 meter di atas permukaan laut.

Putri mengharapkan pengalamannya tak berhenti dalam film pertama ini. Ia ingin sekali ada yang mau mengajaknya bermain film di kesempatan lain. “Bohong kalau enggak pengen. (Film) ini nagihin (membuat ketagihan, red),” ujarnya. Apakah ingin bermain pada 2013? “Saya enggak berani menargetkan,” ujar Putri yang memiliki cita-cita menulis novel, sebelum umur 30 tahun.

2 thoughts on “Putri Ayudya: Dari Teater Merambah Dunia Film

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s