Tiga Nasi Bungkus Untuk Berlima

LEWAT tengah hari, Sumaryati  (50) masih menemani anak sulungnya, Lestari (26) ketika pembagian makanan baru dimulai. Ia duduk di sebelah anaknya yang sedang tiduran di atas susunan kayu bekas. Anak perempuan lainnya bersama cucunya berlari kecil membawa tiga bungkus nasi.

Sejak meluapnya Kali Ciliwung tiga hari lalu, kontrakan Sumaryati di Kelurahan Cawang, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur diterjang air. Air menenggelamkan sejumlah rumah di RT06/RW01 dengan ketinggian tiga sampai lima meter. Ia yang berada di lantai dua, terpaksa berpindah ke trotoar jembatan di Jalan MT Haryono, tak jauh dari Kedutaan Arab Saudi.

Di tempat evakuasi itu, keluarga Sumaryati yang berjumlah lima orang, hanya beratap terpal sepanjang sekitar enam meter yang biasa untuk jualan makanan. Tempat tidur hanya untuk Lestari, yang lumpuh karena jatuh dari lantai 2 sejak umur 5 tahun. Lestari tiduran dengan berselimut sarung dan sepotong roti di samping kepalanya.

Ia tersenyum ketika saya sedang berbincang dengan ibunya. “Dia paham kalau diajak bicara, tapi dia enggak bisa bicara, ada penyakit di tenggorokannya,” ujar Sumaryati, kemarin.

Sejak jatuh sakit, Sumaryati sudah membawa Lestari berobat ke rumah sakit untuk kesembuhan kaki anaknya. Dan hasil rontgen menunjukkan baik-baik saja. Tapi, keganjilan itu mulai datang ketika Lestari melakukan terapi pijat kepada seorang tabib. Terapi itu tak kunjung memberikan efek positif, justru makin memperburuk kondisi kakinya. Kedua kaki Lestari sekarang tampak mengecil. “Ini karena salah urut,” kata Sumaryati.

Sehari-hari, Sumaryati dan suaminya, Hadi adalah pengumpul barang rongsok. Ia menjual rongsokan untuk menghidupi keluarganya. Selama banjir ini, praktis keduanya tak bekerja dan hanya berkutat di tenda evakuasi. Jika hujan turun, air masuk ke tenda di bawah kaki-kaki mereka. Sementara untuk membentengi dari hembusan angin, mereka hanya mengandalkan selembar kain selebar 3×2 meter.

Sumaryati mengatakan bahwa sejak tiga hari ini bantuan baru datang dari Palang Merah Indonesia dan Kedutaan Arab Saudi. “Dan ada sesekali orang lewat memberikan bantuan,” katanya.

“Jatah makan sehari dapat berapa?” tanya saya.

“Tak tentu. Dari kemarin (Selasa 15/1) makan sekali sehari,” ujar Sumaryati, sambil dibantu menjawab oleh anak perempuannya. Nasi tiga bungkus yang diterimanya barusan harus dibagi untuk lima orang.

Di tenda itu, tampak sejumlah barang yang berhasil diselamatkan Sumaryati: sepatu, karpet tipis, dan segelintir baju. Sejumlah foto-foto pernikahan anaknya, yang nomor dua dijejer di  atas meja karena basah. Anaknya baru menikah beberapa minggu lalu.

Di samping tenda Sumaryati, Ika (27) terpaksa pontang-panting bersama ibunya, karena suaminya Roni, mengalami patah tulang akibat kecelakaan sepeda motor. Roni masih rebahan ketika saya menjenguknya di tenda berukuran 1,5 meter x 4 meter setinggi sekitar 1,7 meter. Kaki sebelah kanannya dibebat perban dan belum bisa ditekuk. “Sekarang jari-jari sudah bisa digerakkan, kemarin baru jempol kaki saja yang bisa digerakkan,” kata Roni. Roni terpaksa digotong beberapa orang ketika mengungsi ke trotoar itu.

Berbeda dengan Sumaryati, ia hanya mendapatkan jatah makan satu untuk sejumlah anggota keluarganya. Katanya, pembagian makanan tidak sesuai jumlah anggota keluaganya. Menurutnya, pembagian makan harus diatur sehingga tak berebut. Saat saya berbincang dengan Ika, anaknya sedang makan satu nasi bungkus untuk berdua, sementara ibunya hanya mematung diri di depan tenda.

“Kalau enggak ada duit ya enggak makan, memang harus duit sendiri,” kata pekerja cleaning service itu.

“Gaji saya Cuma Rp800 ribu. Untuk berobat suami Rp200 ribu, sementara bayar kontrakan sebesar Rp300 ribu,” Ika menceritakan pengeluaran sehari-harinya.

Ia mengatakan dirinya dan warga lainnya memerlukan selimut, tenda, tikar, makanan, dan obat-obatan. Selama tiga hari ini, hujan tak tentu. Hujan turun bisa sejak malam hingga pagi hari. “Selimut enggak ada, kemarin ada pembagian tiker enggak kebagian,” katanya.

“Kemarin ada pembagian selimut kok,” kata salah seorang perempuan yang menggendong anaknya menyela Ika.

“Tapi enggak dapat,” jawab Ika. Masih banyak nasib warga yang mengungsi seperti Sumaryati dan Ika, yang tinggal di sekitar trotoar tersebut.

Tanggul KBB Jebol

Sejak kemarin pagi, kondisi air di Kanal Banjir Barat sudah tinggi, tercatat di pintu air Manggarai ketinggiannya 1.030 centimeter. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pada 2007 setinggi 1.010 centimeter; kala itu banjir melumpuhkan hampir seluruh kota.

Banjir kali ini tidak hanya menimpa perumahan di pinggiran kali Ciliwung, tapi juga memasuki pusat kota Jakarta, seperti Bundaran Hotel Indonesia, Jalan MH Thamrin, dan sebagian perumahan elit kawasan Menteng. Ini diakibatkan jebolnya tanggul di sisi kanan kanal, tepatnya di Jalan Latuharhary, Menteng, Jakarta Pusat.

Tanggul jebol sepanjang 50 meter. Air kemudian merusak rel kereta yang menghubungkan stasiun Manggarai menuju stasiun Tanah Abang. Stasiun Sudirman dan Tanah Abang terendam banjir sejak pagi. PT KAI mengatakan akibat banjir tersebut seperempat perjalanan kereta dari 400 perjalanan terganggu. Kereta Jabodetabek jurusan Bogor-Kota cuma berhenti di stasiun Manggarai, sedangkan jurusan Bekasi-Pasar Senen hanya berhenti di stasiun Jatinegara.

Untuk menutup tanggul yang jebol, Kementerian Pekerjaan Umum dan Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta membuat bronjong (anyaman kawat) berisi batu sebanyak 450 buah. Selain itu, mereka juga menyediakan ribuan karung berisi batu untuk menghambat air yang menggerus tanah di bantalan rel kereta

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Ery Basworo mengatakan banjir kali ini berbeda dengan kejadian pada 2007. Yang membuat beda adalah, “Saat itu di satu sisi debit air sungai Ciliwung yang besar,  kondisi di laut juga mengalami pasang. Makanya air tidak bisa ke laut,” ujarnya.

Mengapa tanggul bisa jebol? Ery tidak mengetahui mengapa konstruksi tanggul bisa dijebol air. Menurutnya, dengan kondisi ketinggian air seperti itu, sebetulnya KBB masih bisa menampung air.

“Itu tanyakan saja ke Kementerian PU,” katanya. Sebab, pemeliharaan sungai KBB di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane. Saat ditemui di lokasi kejadian, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung-Cisadane, Imam Santoso enggan diwawancarai. “Nanti saja,” kata Imam.

Pemerintah DKI Jakarta menetapkan Jakarta dalam kondisi tanggap darurat hingga 27 Januari 2013. Banjir menggenangi sebanyak 720 Rukun Tetangga, 309 Rukun Warga di 73 kelurahan, yang tersebar 31 kecamatan. Hingga Kamis malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat jumlah  rumah penduduk yang terendam sebanyak 30.964 kepala keluarga, sedangkan jumlah pengungsi sebanyak 15.423 jiwa. Dari Selasa (15/1) hingga Jumat (18/1) tercatat korban banjir yang meninggal sebanyak 11 orang. Kebanyakan yang meninggal karena tersetrum listrik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s