Muhammad Nafis Rahman: Menggagas Sprayer Bertenaga Surya

UNTUK apa sebenarnya kita mempelajari suatu ilmu? Pertanyaan itu dijawab Muhammad Nafis Rahman (22) secara lugas, “Bagi saya mempelajari ilmu itu adalah sebuah tanggungjawab dan amanah kepada masyarakat,” kata mahasiswa jurusan Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor ini.

Karena niat itu pulalah, ia bersama empat kawan satu jurusan lainnya menciptakan alat penyemprot hama bertenaga surya, eco-electric sprayer. Karyanya mendapat medali emas Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke-25 saat digelar di Yogyakarta pada 2012. Ia juga menyabet juara pertama dari Tanoto Foundation dalam ajang Tanoto Student Research Award 2012 (TSRA).

Sebelum terpilih TSRA 2012, Nafis dkk mengikutkan karyanya ke kompetisi kampus dan menyabet juara pertama dengan hadiah Rp3 juta. Dan Selasa (29/1) kemarin, ia mempresentasikan karyanya di Jakarta.

Bentuk alatnya biasa-biasa saja, tak jauh beda dengan alat penyemprot lainnya. Namun yang membedakan adalah terdapat panel surya yang membantu penyemprotan. Jadi, petani tak perlu lagi memompa dengan tangan saat melakukan penyemprotan pestisida.

Pembuatan sprayer itu bermula dari studi lapangan yang dilakukan Nafis dkk pada 2011 di Desa Kacapura, Kabupaten Tanggamus, Lampung, berbatasan dengan hutan lindung Bukit Barisan Selatan. “Ini sekelompok mahasiswa mandiri bukan dari kampus. Kebetulan saya dari daerah Lampung,” kata Nafis, kini masih duduk di semester 7.

Permasalahan yang ditemuinya adalah proses penyemprotan untuk tanaman kopi, coklat, dan kakao di lahan berlereng. Apalagi untuk menjangkau di atas pohon, hal itu lebih sulit lagi. Kondisi itu menghambat petani yang tinggal di daerah tersebut. “Dari situ muncul ide penggunaan sprayer tenaga surya ini,” kata Nafis kepada Jurnal Nasional, Selasa di Jakarta.

Di pasaran sendiri sebetulnya tersedia beberapa jenis alat penyemprot, seperti boom sprayer, power sprayer, dan manual sprayer. Ia berpikir jika memilih diantara ketiganya, justru memiliki banyak hambatan.

Jika menggunakan boom sprayer, kata Nafis, tentu memerlukan daya besar, bahan bakar, mahal, dan cocok untuk lahan yang luas. Untuk power sprayer, kendalanya butuh bahan bakar, mahal, suara bising dan tangki yang kecil. Sementara, manual sprayer, butuh tenaga manusia besar, melelahkan, dan seprotan tidak konstan.

Apalagi di daerah tersebut, katanya, untuk membeli bahan bakar warga harus berjalan kaki selama 7-8 jam dari rumahnya. “Transportasi sulit, akses listrik juga belum ada. Kalau pun pakai diesel cari bahan bakarnya juga sulit, ” kata laki-laki asal Kota Agung, Kabupaten Tanggamus.

Untuk membuat prototipe sprayer itu, Nafis dkk menghabiskan biaya sebesar Rp8 juta; biaya ini meliputi keseluruhan proses pembuatan. Sementara untuk biaya produksi sprayer saja sekitar Rp1,6 juta.

Tangki sprayer ini berbahan plastic HDPE ini beratnya 6,4 kilogram dalam kondisi kosong. “Tapi itu masih di ambang batas ketahanan manusia,” ujarnya. Ukuran tangkinya 180 milimeter (lebar) x 320 mm (panjang) x 500 mm (tinggi), sedangkan panjang selang sekitar satu meter.

Kapasitas tampungnya sebanyak 12-18 liter. Ini memang lebih berat dari sprayer pompa biasanya yang beratnya 3 kg. Sementara untuk ukuran panelnya kecil sekitar 30 cm x 40 cm. Lama waktu untuk mengisi aki butuh waktu 13,5 jam saat cuaca mendung. Jika kondisi terik pengisian bisa lebih cepat sekitar 9,6 jam dengan daya yang dihasilkan sebesar 12 volt, 12 Ah.

Waktu habis baterai sekitar 4,8 jam jika dipakai terus-menerus. Jika tangki diisi sebanyak 20 liter, butuh waktu sekitar 15 menit menghabiskannya, dengan kecepatan rata-rata 0,05 meter/detik.

Secara spesifik, bahan baku untuk sprayer buatan lokal semual. Panel surya yang dipakai tersedia di pasaran, tapi ada bagian yang dimodifikasi. Tenaga yang diserap panel kemudian ditampung dalam akumulator (aki) berkapasitas 12 volt. Setelah itu, dia menambahkan rangkaian elektronik lagi berupa inverter untuk mengubah arus Direct Current (DC) menjadi Alternating Current (AC).

Dari sinilah, sprayer ini membedakan lagi dengan sprayer lain karena bisa digunakan untuk menyuplai listrik berskala kecil, seperti untuk speaker kecil, televisi ukuran 8 inchi, mengisi daya baterai telepon seluler, dan menggerakkan kipas angin. “Komponen pengubah ini yang kami sedang daftarkan hak paten,” kata Nafis yang pernah dinobatkan sebagai “Pemuda Pembuat Perubahan”dalam Indonesia Young Changemaker Summit 2012 di Bandung.

Dengan alat itu, katanya, membantu warga setempat yang memiliki telepon seluler sehingga tidak perlu mengisi daya baterai ke toko yang jaraknya jauh. “Karena kereka biasa charge beberapa baterai untuk persediaan beberapa hari,” ujar Nafis. Dengan memakai tenaga surya, katanya, alat tersebut lebih ramah lingkungan dan masih bisa dikembangkan lagi.

Sejak juara pertama PIM Nasional ke-25 itu, banyak orang yang memesan sprayer buatannya. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Tanggamus juga sedang memesan beberapa puluh unit. Nafis menerangkan untuk melayani beberapa pemesan ia membanderol harga sebesar Rp1,6-Rp1,7 juta.

Itu memang jauh lebih mahal dari sprayer pompa yang harganya Rp450 ribu. Bila diproduksi massal, katanya, biaya produksi bisa ditekan lebih kecil lagi. “Ini relatif murah, bahan juga tersedia banyak,” kata Nafis, yang juga pernah terpilih dalam 50 Proposal Terbaik Se-Indonesia Film Dokumenter Eagle Award Metro TV 2012.

Ia berharap setelah ada kemunculan sprayer baru ini, ada pengembangan lebih lanjut sehingga bisa memberikan kemudahan bagi para petani untuk mengendalikan hama tanaman. Saat ini, katanya, ia sedang mengkaji berapa lama umur ketahanan alat tersebut.

Apa yang dilakukan Nafis dkk sejalan dengan yang pernah dikatakan almarhum Nathanel Daldjoeni, seorang tokoh pendidikan, bahwa sebenarnya nilai dari ilmu itu terletak dari penerapannya. Dan ilmu itu, katanya lagi, mengabdi kepada masyarakat sehingga ia menjadi sarana kemajuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s