Menelusuri Jejak Soda van Yogya

foto1DENGAN sepeda motornya, Gito Wiyono (30) tiba lewat tengah hari di Soto Kadipiro, Yogyakarta – warung soto yang legendaris sejak 1940-an. Seorang diri, ia kemudian mengangkuti sejumlah krat berisi botol-botol limun ke bagian belakang. Di warung soto itulah–yang terkesan jadul–biasanya limun atau minuman soda khas Yogyakarta ini dapat dijumpai.

Untuk zaman sekarang, memang sulit mencari limun ini. Minuman tradisional yang dibuat secara industri rumahan ini lambat laun mulai menurun produksinya. Bahkan, Gito yang tadinya memiliki mesin produksi, saat ini malah bekerja di orang lain.

Di Kota Gudeg ini, dulu terkenal beberapa nama limun, di antaranya Herkules, Manna, Minverva, Jangkar, danAy Hwa. Kini dari sejumlah limun yang bertahan hanya tinggal Ay Hwa, Minverva, dan produk baru, Indo Saparella.

Yang menarik dari minuman ini adalah bentuk tutupnya yang terbuat dari keramik putih dengan dilengkapi kawat sebagai pengait. Di atas keramik produksi Jerman itu ada tulisan Mineraalwaterfabriek-Tjiremai. Ada pula yang bertuliskan Hygeta. Sedangkan bodi botol terdapat tulisan J van Gorkkom & Co Djokdja-Semarang.

Rasa dari minuman ini semriwing dan memiliki aroma perisai/flavour tanaman Sarsaparilla.

“Orang bilang mirip rheumason,” kata Gito saat ditemui akhir Januari lalu di Yogyakarta. Rheumason adalah sebuah balsem yang terkenal di era 1970-an.

Sarsaparilla termasuk jenis jenis tanaman perdu herbal yang dalam bahasa Latinnya dinamakan smilax aristolochiaetolia. Ia biasa hidup kawasan kawasan tropis. Ia mengandung vitamin A, B, C, D, dan B Kompleks. Di samping itu juga mengandung kalsium dan zat besi. Makanya, tanaman ini dipercaya berkhasiat untuk melancarkan air kencing, obat awet muda, memberi energi, mengurangi jerawat, menyembuhkan pilek, batuk, dan demam.

Tidak hanya dikenal sebagai minuman, daunnya pun dipakai sebagai penyedap rasa makanan dan obat-obatan tradisional. Tapi, dalam minuman ini, Sarsaparilla tidak dipakai untuk diambil khasiatnya, hanya diambil aromanya.

Minuman ini termasuk kategori karbonasi karena mencampurkan unsur CO2 di dalamnya. Selain itu, ada campuran karamel, essence, dan zat pemanis (ada yang pemanis buatan, ada pula yang gula asli). Kebanyakan pengusaha di Yogyakarta yang mengembangkan produksi ini adalah keturunan Tionghoa dan sifatnya turun-temurun.

Gito dulunya memproduksi limun merek Manna bersama Mbah Karno (70) sejak 1990-an. Gito sendiri bukan orang Tionghoa, tapi ia membeli usaha ini dari orang Tionghoa, tangan kedua setelah era Kho Hoo Ing dan Tan Boo Iet di Jalan Dageng 60, Yogyakarta. Kedua orang Tioghoa inilah, yang mendirikan Manna pada 1949.

Di era 1950-an, limun ini banyak peminatnya dan produksinya mencapai ribuan per hari. Namun lambat laun, pasar kurang menyukai limun karena bersaing dengan Coca Cola, Sprite, dan lainnya. Terpaksalah membuat Gito buntung.

“Bangkrut mas,” katanya.

Padahal, saat dia memulai dulu ingin sekali minuman khas itu bertahan. Selain masalah itu, ternyata tempatnya produksi, kini lahannya telah berdiri hotel. Terpaksa, produksi limun tutup selamanya. Mesin produksi asal Rusia yang dibelinya senilai Rp20 juta, kini sudah dijualnya.

Kembang-kempis

Untuk menapak tilas rumah industri limun tersebut cukup sulit. Beberapa alamat yang didapat dari internet, ternyata setelah didatangi nihil. Beberapa sudah ada yang tutup dan orangnya pindah rumah. Seperti pabrik limun merek Herkules di daerah Gondomanan dan merek Maerakatja di daerah Mangkubumi. Informasinya berikutnya di Klenteng Pasar Kranggan, tapi nyatanya di situ tidak pernah membuat limun. Sementara untuk merek Minerva, pemiliknya tidak mau ditemui. Ia mengaku sudah jarang memproduksi lagi. Tapi produknya masih ditemui di pasaran.

Akhirnya, penulusuran mengarah ke pabrik Ay Hwa yang beralamat di Jalan Pandegamarta 100, Sleman dan IndoSaparella di Jalan Magelang kilometer 6,1 Yogyakarta. Pemilik pabrik Ay Hwa, Hendra Guwanto (42) memproduksi limun karena turun-temurun dari ayahnya. Ia kini hanya mampu membuat 720 botol per hari. Itu pun tergantung permintaan pelanggan. Untuk menutupi kelesuan produksi limun, ia juga memproduksi minuman sirup Kanna dan Effata.

“Kecuali di musim panas, Ay Hwa bisa diproduksi hingga 1.200 botol per hari,” kata Hendra, yang hanya dibantu dua pekerjanya dalam produksi limun dan sirup. Ia memutuskan meneruskan usaha sang ayah awal 1990-an, karena tak ingin minuman klangenan itu mati.

“Masih dieman-eman (disayang). Kalau sudah tak tahan lagi, mungkin kami pun akan menutup pintu pabrik,” kata Hendra.

Di awal usahanya, raihan omzet bisa Rp10 juta-20 juta. Angka itu merosot pada tahun 2000-an. Limun sarsaparilla pun hanya diproduksi dua kali dalam seminggu. Secara terpisah, Hendrawan Judianto, pemilik Indo Saparella, mengatakan bahwa pihaknya memproduksi merek baru karena ingin mengenalkan kembali minuman khas yang hampir hilang. Ia sudah berekspansi ke beberapa daerah seperti Solo, Semarang, dan Jakarta.

“Kalau ngitungoutlet-nya, jumlah ya ribuan,” ujarnya.

Produknya disebar di sejumlah restoran di Yogyakarta seperti Bale Raos dan Raminten, juga hotel. Harganya cukup tinggi yaitu Rp10.000 dibandingkan merek lokal lainnya.

Untuk membedakan limun zaman dahulu, ia membuat botol sendiri bernama Dea & Jes. Produknya juga sempat mengisi acara-cara di Sekretariat ASEAN, hajatan kawinan di Taman Mini Indonesia Indah. Sayangnya, Hendra enggan membocorkan berapa jumlah produksi dan omzetnya dalam sebulan.

“Untuk nominal kami enggak publish. Konsep awal kami untuk mengenalkan lagi minuman nostalgia ini,” ujar Sarjana Teknik Mesin Universitas Gajah Mada angkatan 2000 ini.

Menyangkut masalah cukai, Hendra mengetahui adanya wacana tersebut. Ia menyerahkan Pemerintah unuk lebih bijak lagi. Ia juga masih bingung dengan penerapan cukai.

“Itu untuk minuman yang soda tinggi, medium, atau ringan. Kalau kami sodanya ringan,” ujar Hendra, yang didampingi istrinya, Jessy Budi.

“Ini miuman lokal sayang kalau hilang. Dengan harapan yang tua-tua bisa nostalgia, yang muda bisa diceritani. Minuman lokal tidak kalah dengan yang sudah worldwide, selama kita bisa menghargai produk sendiri,” katanya.

Kami juga menelusuri penjualan limun di beberapa warung makan. Tempat pertama adalah warung makan Thionghoa Moro Seneng di Jalan Magelang 56. Jam menunjukkan pukul 10 pagi, ketika kami datang. Warung masih terbuka sedikit dan belum siap untuk berjualan. Di sejumlah meja, beberapa botol limun ditata. Ada merek Minerva berukuran 300 mililiter-500 mililiter dan merek Indo Saparella ukuran 300 mililiter. Yang terakhir ini adalah merek baru yang diproduksi oleh Hendrawan Judianto (32) sejak 2009.

Menurut salah satu karyawan, Memet, limun masih banyak dicari terutama orang-orang tua. Ia mengatakan, kadang penyuka limun mencampurnya dengan es batu, sehingga rasanya lebih segar. Untuk harganya, kedua merek tersebut dijual sebesar Rp5.000 per botol. Jika membeli sekaligus dengan botol, harganya menjadi Rp7.000.

Dalam sepekan, biasanya satu krat limun Minerva (berisi 24 botol) dan Indo Saparella (12 botol) habis terjual. Beth (27), salah satu konsumen di Soto Kadipiro, mengatakan bahwa setiap ke warung soto ini hampir selalu minum limun. Ia tahu bahwa minuman ini khas Yogyakarta dan tak menampik bahwa memang lebih banyak orang-orang era 1960-an yang menyukainya. Ia menyayangkan produsen limun kurang memerhatikan kemasan, sehingga limun kalah bersaing dengan minuman soda impor.

“Kalau punya kemasan bagus, bakal laku. Kalau kayak sekarang, lihat botolnya (kawatnya berkarat dan botolnya “gumpil” di bagian mulutnya). Kalau begini enggak menarik,” ujar Beth, yang sedang menikmati limun merek Ay Hwa.

Sementara itu, Adi Trisno (45), seorang biro perjalanan, mengatakan bahwa limun merupakan minuman langka di Yogyakarta. Generasi muda yang lahir era 1990-an, katanya, kurang mengetahui limun. Baginya, limun cocok diminum saat udara panas dengan dicampur es batu.

“Panas-panas begini enaknya minum bareng-bareng dikasih es batu. Enak tenan!” kata Trisno di kiosnya, Jalan Pasar Kembang 78.

Kiosnya sering dipakai Gito untuk tempat distrubusi limun. Trisno mengatakan, minuman ini memang pernah menjadi minuman favorit kaum bangsawan Yogyakarta. Selain itu, suka disajikan acara-acara tertentu seperti sunatan dan pernikahan. Di Bale Raos, restoran di lingkup keraton, limun ini disajikan dengan berbeda, yaitu dicampur dengan susu dan diberi nama es “Sapaitu”. Harganya juga cukup mahal yaitu Rp12.000.

Bale Raos terletak di area Kagungan Dalem Kemagangan yang merupakan akses paling dekat untuk masuk ke Induk Kraton (Area Kedaton). Restoran ini beruansa arsitek Jawa: bangunan Joglo yang khas dengan ornamen Kraton Yogyakarta.

Di tengah rencana pemerintah ingin memberlakukan pajak bagi produk minuman bersoda, produksi limun lokal tertatih-tatih, bahkan mendekati kematian. Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM-UI) Eugenia Mandanugraha mengatakan rencana pemerintah itu sulit dilakukan. Karena banyak masyarakat rendah yang ikut menikmati minuman soda. (baca: Jurnal Nasional, “Tarik Ulur Cukai Minuman Soda”, 13/2/2013)

5 thoughts on “Menelusuri Jejak Soda van Yogya

  1. Minuman ini sekarang hanya bisa di temui di daerah jogja saja ya mas? Kalo di semarang ngga ada ya?
    Oh ya… Nama saya juga Labib… Kebetulan mungkin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s