Todung Mulya Lubis: Di Balik Catatan Todung

JUMAT, 22 Januari 2009. Dari layar kaca, Damiyati Soendoro melihat Majelis Ulama Indonesia marah. MUI tak terima dengan survei Transparency International Indonesia(TII), yang menganggap lembaganya agama itu sarang korupsi. Cici, begitu ia sering dipanggil, lalu menelepon suaminya Todung Mulya Lubis (64), yang aktif di pengurus TII.

“Cici selalu khawatir karena ini akan membuat saya punya musuh lagi,” cerita Todung. “Tahun lalu saya dimusuhi polisi dan tahun ini MUI.”

Yah, bekerja melawan korupsi, selain menuai dukungan, di saat yang sama juga menciptakan musuh. Ini risiko yang musti dibayar. Saya ikhlas,” tulis Todung.

Begitulah, cukilan cerita yang dituliskan Todung dalam catatan hariannya. Masih banyak kisah menarik yang ia tuangkan dalam “Catatan Harian Todung Mulya Lubis Buku 1“. Selama kurun 2009, Ia mencatat diantaranya perseteruan KPK-Polri, bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, bailout Bank Century, kasus Prita Mulyasari, hingga kematian Gus Dur.

Selain itu, cerita menarik di balik layar, apalagi yang bersinggungan dengan Pemilu 2009. Bagaimana ia mengatur dan melobi calon presiden agar bisa hadir dalam acara “Capres Bicara Hukum” di Global TV, yang digarap bersama wartawan Rosiana Silalahi. Ia sempat kecewa ketika Susilo Bambang Yudhoyono tak jadi hadir dalam acara itu. Padahal, SBY sudah setuju tampil di acara itu, tapi jadwal presiden berubah-ubah.

Pada 15 Juni 2009, sekitar jam 3 sore, ia bersama Rosiana datang ke Bravo Media Center, markas SBY-Boediono, setelah mendapat pesan agar menghubungi Hatta Rajasa, karena SBY setuju untuk tampil. Ia menunggu sampai jam 4, tetapi Hatta, selaku ketua timses SBY-Boediono, tak juga datang dan tak ada kabar. Lalu, ia menelepon Hatta, tapi tak menyahut.

“Rosiana sudah agak marah dan mengatakan kenapa mereka tak mengapresiasi dan menghormati kita. Saya bilang: ketika mereka sudah over confident, mereka lantas bisa jadi arogan. Sudahlah. Kalau SBY tak mau tampil, there is nothing we can do. Kita tak perlu merengek. We still have our integrity,” tulis Todung.

Sebagai seorang pengacara kondang, ia sibuknya bukan main. Dalam sehari ia bisa hadir di beberapa acara; pagi di Jakarta, tapi sorenya ia sudah terbang ke Singapura, untuk acara lain. Dan, ke mana pun pergi, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca koran pagi yang belum dibaca. Atau membaca berita di media online. Dan tak lupa, menulis catatan harian.

“Perjalanan saya banyak sekali. Saya pernah ke hutan, yang enggak ada listriknya. Saya tetap menulis catatan harian, karena kalau tidak, saya bisa lupa…saya enggak mau menunda-nunda,” katanya saat peluncuran buku, Jumat pekan lalu. Terkadang ia menulis dengan tangan, lalu memindahkan ke komputer.

Ia menulis catatan hariannya hingga larut malam, bahkan terkadang sampai tertidur di depan komputer.“Ini memang penuh kesabaran. Saya akan tetap mencatat apa yang saya lihat,” ujar Ketua Umum Ikatan Advokat Indonesia itu.

Ia mengatakan sebetulnya banyak kisah yang bersinggungan dengan tokoh-tokoh di negeri ini. Tapi, ia mencoretnya. “Saya mulai berpikir bahwa catatan harian ini ‘as it as‘ akan bisa membuat muka merah dan marah. Akan ada yang tersinggung…”

“Untuk menghindari gugatan saya kira tak bijaksana menerbitkan catatan harian ini, apa adanya,” tulis Todung.

Meskipun sudah banyak diedit, toh masih ada yang lolos. Ia menyadari bahwa buku harian adalah catatan subjektif. Di buku selanjutnya, ia akan lebih hati-hati dalam menuliskan mana yang pantas untuk ditulis. “Kemarin saya sempat dag dig dug juga (buku itu terbit, red),” katanya

Buku itu cukup tebal: lebih dari 600 halaman. Itu pun sudah dipangkas sana-sini. Jika tidak, bisa menjadi catatan harian paling tebal yang pernah terbit. Sebelum terbit saja, ia menulis lebih dari 400 halaman.

Menurut Todung, setiap orang bisa menulis. “Tapi apakah enak dibaca dan perlu – seperti Majalah TEMPO –  tergantung pembaca. Saya menulis sederhana; bercerita kepada yang lain, sehingga lebih komunikatif,” kata laki-laki kelahiran Tapanuli Selatan, 4 Juli 1949 ini.

Ia suka menulis catatan harian sejak Sekolah Menengah Atas. Ia terinspirasi dari beberapa buku seperti, “Catatan Harian Seorang Demonstran” karya Soe Hok Gie, “Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmd Wahib”, terrmasuk catatan harian Anne Frank (The Diary Of A Young Girl Anne Frank), gadis Yahudi yang bersembunyi di bunker bersama keluarganya.

Saat berkunjung ke Belanda, Todung juga sempat berkunjung ke tempat persembunyian Anne dari kejaran tentara Nazi. Tapi ia membuang seluruh catatannya itu, karena tak ingin mati muda. “Ketakutan saya adalah satu, semua penulis catatan harian mati muda,” ujar Todung sedikit berkelakar.

Makanya, di usia ke-60 ia memilih untuk kembali menulis catatan harian, sebagai sumbangsih kepada negeri ini. Todung berharap keluarganya bisa belajar, “Dari kegilaan suami dan ayah mereka yang sering tidur terlambat karena menyelesaikan catatan harian ini,” tulisnya. Akhir tahun ini, buku kedua (catatan di tahun 2010) akan terbit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s