Kendo, Seni Beladiri Jepang

YASUO Ogawachi (57) menghunus samurai. Suasana begitu sunyi. Kemudian secara tiba-tiba, ia menggerakkan pedangnya itu ke depan. Swiiing… terdengar suara gesekan pedang di udara.

Ia seperti hendak menebas kepala musuh. Gerak silatnya lambat, tapi fokus pada tarian pedang. Yasuo sedang mempraktikkan teknik pedang Jepang melalui olahraga Kendo.

Kendo merupakan seni beladiri yang berasal dari Jepang. Ia berasal dari kata ken yang artinya pedang dan do berarti jalan. Jadi, kendo adalah suatu jalan atau proses displin diri yang membentuk suaru pribadi samurai yang pemberani dan loyal, demikian menurut Wikipedia.

Yasuo merupakan pelatih Kendo di Jakarta, yang tergabung dalam Jakarta Kendo Association. Ia belajar Kendo dari keluarganya sejak umur 12 tahun. Yasuo mengatakan, seni beladiri ini sudah berumur sekitar 450 tahun di Jepang. Awalnya, seni pedang ini berkembang di dalam istana kaisar dan dipelajari oleh para prajurit. “Waktu itu namanya bushi. Ia menguasai Kendo untuk menjaga kaisar dan keluarganya,” kata Yasuo saat ditemui Jurnal Nasional di Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Rabu (20/2).

Menurutnya, Kendo merupakan silat yang bersifat turun-temurun dari generasi ke generasi. Ia menjadi semacam tradisi masyarakat Jepang. Latihan Kendo menggunakan alat pedang ketika Zaman Edo (1603-1867), periode dalam sejarah Jepang sejak shogun pertama Tokugawa Ieyusu mendirikan Keshogunan Tokugawa di Edo. Zaman ini disebut juga zaman modern Jepang.

Meski berawal untuk melindungi keluarga istana, Yasuo mengatakan saat ini Kendo dipelajari sebagai bentuk olahraga. “Tujuannya bukan untuk membunuh, tapi melindungi diri,” ucapnya.

“Ini beladiri tradisional Jepang, patut dipelajari. Ini juga bukan bermaksud melakukan penyerangan, tapi tujuannya melatih hati kita.”

Ia menjelaskan bahwa Kendo sempat dilarang ketika Perang Dunia II, saat Jepang perang dengan Amerika Serikat. Setelah jatuhnya bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, lambat laun Kendo mulai boleh dipelajari secara terbuka. “Tapi tidak memakai pedang tajam, hanya pedang dari bambu,” kata Yasuo, yang sudah dua kali meraih juara pertama level ke-7 Kejuaraan Kendo Nasional di Jepang tahun 2011 dan 2012.

“Seorang kendoka (seseorang yang berlatih kendo), pasti akan mengerti bahwa kendo adalah sebuah pengalaman seumur hidup dan hanya dengan melalui kerendahan hati mereka dapat menjaga pikiran tetap terbuka untuk terus belajar,” tulisnya.

 

Dalam situs http://www.jakartakendo.com dijelaskan bahwa Kendo modern mempunyai sedikit kesamaan dengan way of the sword yang sering ditampilkan dalam film atau televisi. Dasar-dasar utama dari Kendo dapat dilihat kembali pada masa kuno para prajurit Jepang. Tapi, Kendo sekarang ini -meski memakai pedang bambu dan bushido- tujuannya untuk membangun karakter, disiplin, dan rasa hormat. Ada yang mengatakan bahwa Kendo sedikit berbeda dengan olahraga, tapi lebih pada sebuah cara hidup.

Makanya, para kendoka diajari bagaimana beretika, tidak hanya berlatih silat. Seperti setiap kali masuk ke tempat latihan atau dojo, haruslah membungkuk atau rei. Selain itu, mereka haruslah menjaga kebersihan dojo. Tidak boleh ada sepatu yang diperkenankan masuk dojo, tapi menempatkan sepatu di luar dojo secara rapi.

Mereka juga diajarkan kesopanan, rasa malu dan cara menghormati guru dan senior. Dan, masih banyak lagi tatakrama yang diajarkan agar menjadi pribadi yang baik.

Di Indonesia, ada beberapa asosiasi Kendo dan semuanya tergabung dalam wadah Indonesia Kendo Association, antara lain: Kendo Jakarta Associaton, Bandung Kendo Federation,Yogya Kendo Association, Suroboyo Kenyuukai, Malang Kendo Club, dan Medan Kendo Club.

Untuk di Jakarta, asosiasi tersebut didirikan pada 2007 dan latihannya dilakukan di Sekolah Jepang di Jalan Elang, Bintaro Jaya Sektor IX, Tangerang, setiap minggu pagi. Biasanya pendaftaran dibuka setahun dua kali yaitu setiap enam bulan yaitu Januari dan Juni. Direkemondasikan untuk anak-anak yang ingin berlatih minimal berusia 11 tahun.

Saat latihan bertanding, kendoka selalu berteriak-teriak setiap melepaskan pedang yang mengenai sasaran. Memang Kendo adalah beladiri yang berisik dan keras. Mengapa selalu berisik? Willy, seorang kendoka Jakarta yang berlatih sejak 2001 ini, mengatakan hal itu dilakukan karena untuk memotivasi diri agar lebih semangat. “Jadi lawan menjadi takut,” ujar Willy saat menerangkan Kendo di depan anak-anak SD Islam Citra Azzahra Jakarta di Kedubes Jepang.

Grafis:

Ada empat jenis serangan dalam Kendo yaitu:

1. Men adalah tebasan kepala. Gerakan teknik ini diarahkan ke kepala lawan. Pedang diangkat di atas kepala dan kemudian diayunkan ke kepala lawan. Ini adalah teknik dasar. Variasi dari Men adalah Sayu-Men, serangan ke ara pelipis kiri atau kanan lawan.

2. Kote adalah tebasan tangan. Sasaran yang diincar adalah sekitar pergelangan tangan. Gerakannya hampir sama dengan Men, cuma beda target serangan.

Jika lawan menggunakanchudan-no-kamae (posisi pedang ada di tengah-tengah badan), maka sasarannya adalah tangan kanan. Tetapi jika lawan menggunakan jodan-no-kamae (saat posisi pedang lagi tinggi di atas kepala), sasarannya adalah tangan kiri. Jika lawan menggunakan dua pedang (nito-ryu), maka kedua lengan dapat dijadikan sasaran.

3. Do adalah tebasan badan atau perut. Sasarannya adalah sisi kiri atau kanan perut. Kendoka yang mengenai sasaran perut, kemudian langsung menarik kembali pedangnya, ini seperti gerakan merobek perut lawan. Teknik ini cukup sulit.

4. Tsuki adalah tusukan dengan sasaran leher. Ini biasa diajarkan di tingkat menengah dan perlu keahlian tinggi dan pengaturan sasaran tusukan yang tepat. Biasanya, jurus ini hanya boleh digunakan oleh anggota senior, dan tidak disarankan untuk digunakan pada saat pertandingan, kecuali telah disetujui oleh pelatih (sensei).

Grafis:

Tidak seperti seni beladiri lainnya, pencak silat, karate, atau Muay Thai, berlatih Kendo perlu beberapa perlengkapan atau Bogu. Di antaranya:

1. Kepala pelindung/helm dan bahu (Men). Ini terbuat dari mengane (paduan duraluminium atau titanium. Untuk men-futon (potongan panjang kiri dan kanan mengane), dan tsuki (tutup pelindung tenggorokan).

2. Pelindung dada (Do). Ini terbuat dari fiber ringan/bambu dan kulit.

3. Sarung tangan (Kote) yang terbuat dari kulit sapi atau rusa. Tapi juga bisa dari kulit sintetis.

4. Pelindung perut (Taret). Terdiri atas wakihimo (sabuk), haraobi (pelindung pinggang), danoodare/kodare (pelindung selangkangan).

5. Kendogi (pakaian kendoka). Ini terdiri atas jaket (gi) dan celanda (hakama). Keduanya terbuat dari katun dengan warna indigo. Kainnya cukup tebal untuk memberikan perlindungan dari serangan.

6. Tenugui, sebuah kain seperti syal yang diikatkan di kepala. Terbuat dari katun tipis bermotif kaligrafi yang berisi filsafat Jepang. Ia membantu menyerap keringat agar tak menetes di mata selama bertanding.

7. Pedang. Terdiri atas shinai dan bokken. Senjata utama dari kendoka adalah shinai (pedang bambu berlatih secara biasa), keiko (dipakai saat bertarung), dan shiai (dipakai untuk kompetisi). Shinai ini dibangun dari 4 bilah bambu. Panjang standar dan beratnya untuk pria adalah sekitar 500 gram dan wanita sekitar 420 gram.

8. Bokken yang terbuat dari kayu dan bentuknya mirip samurai/katana asli. Beratnya kurang lebih 2/3 dari samurai asli. Ini ada dua jenis yaitu panjang dan pendek.

2 thoughts on “Kendo, Seni Beladiri Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s