Taufik Abdullah: Berkeliling ke 10 Kota di Dunia

KISAH cinta Habibie-Ainun, yang beberapa waktu lalu difilmkan membuat banyak orang berdecak kagum. Melankolis dan romantis. Kita bisa melihat: bagaimana keduanya mengawali sebagai keluarga baru di Jerman. Rupanya kisah cinta seperti itu juga dimiliki oleh sejarawan Indonesia Taufik Abdullah dengan istrinya, Rasidah saat berada di Amerika Serikat.

Sebulan sebelum berangkat ke Universitas Cornell, Ithaca, Amerika Serikat pada 1964, Taufik menikah dengan gadis idamannya Rasidah. Di AS, ia melanjutkan studi untuk meraih master dan doktornya, setelah mendapatkan beasiswa. Rupanya, ia tak bisa membawa serta Rasidah untuk “berbulan madu” di Amerika.

Ia boleh membawa serta istri asalkan membuktikan selama setahun meraih nilai bagus. Ternyata, usaha Taufik berhasil. Mereka memadu kasih dan membina rumah tangga berdua di Amerika Serikat. “Anak pertama lahir di sana,” kata Taufik saat bercerita kepada saya beberapa waktu lalu.

Selama kuliah di sana, Taufik memang tidak bekerja untuk menambah keuangan keluarga. Waktu itu, katanya, sebagai mahasiswa penerima beasiswa 100 persen, ia dapat tunjangan sebesar US$300. “Jangan dibayangkan nilai dolar seperti sekarang,” ujar ayah tiga anak ini.

Ketika ada istri, ia mendapatkan tambahan 50 persen sehingga menjadi US$450 dan ketika anak lahir, ia dapat lagi tambahan 25 persen, sehingga total US$525. Untuk menambah penghasilan, Rasidah ikut bekerja. Berbeda dengan istri Habibie, Ainun, yang bekerja sebagai dokter anak ketika di Jerman, Rasidah bekerja di perpustakaan. “Sebelum anak lahir, ia terkadang bekerja di perpustakaan Cornell,” katanya.

Bagaimana kisah romantisnya di sana? Taufik malu-malu menceritakannya. “Saya biasa saja membentuk keluarga,” katanya. Kenangan yang paling indah Taufik-Rasidah adalah ketika sebelum pulang ke Jakarta pada 1967. Yaitu ia berkeliling 10 kota di dunia selama 40 hari. Dari mana uangnya? Rupanya, setiap tahun ia mendapatkan tunjangan perjalanan US$400 dan itu dikumpulkan selama tiga tahun, sehingga terkumpul menjadi US$1.200.

“Dengan uang itulah kami berangkat,” katanya. “Waktu itu pertama-tama ke Washington DC, New York, kemudian terbang ke London, beberapa hari di sana,” tutur Taufik.

Di London, ia bertemu dengan profesornya dan kena marah. “Ia datang ke hotel dan bilang, “Ngapain kamu di sini, kamu mahasiswa miskin di sini. Rupanya itu hotel mewah. ha..ha…,” ujarnya bercerita.

“Mana tahu saya, saya kan pesan dari travell agent.” Setelah dari London, ia terbang ke Belanda, Paris, Roma, Kairo, Bangkok, Kuala Lumpur, Singapura, dan tiba di Jakarta. “Kurang lebih selama 40 hari itu, (duit) saya habiskan semua,” kata Taufik tersenyum.

Ia merasa beruntung bisa keliling dunia saat itu. Sebab, di masa peralihan orde lama ke orde baru, seseorang sulit untuk melakukan perjalanan ke luar negeri.

**

TAUFIK lahir ketika masih zaman Hindia Belanda di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, tepatnya 3 Januari 1963. Ia menempuh pendidikan sarjananya di jurusan Sejarah Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta pada 1961.

Ia memilih sejarah karena ingin bekerja dan baru serius menekuninya ketika sudah kuliah. “Saya sengaja memilih sejarah. Waktu itu kan orang-orang penuh idealisme,bermacam-macam pilihannya,” katanya.

Mahasiswa sejarah kala itu tak begitu banyak. Apalagi yang mengambil mata kuliah Sejarah Pemikiran Politik Eropa. “Dulu saya mempelajari sejarah Eropa,” ujarnya. Ia sempat menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Sejarah Eropa. Dosen-dosennya berasal dari luar negeri yaitu Inggris, Amerika Serikat, India, dan Belanda. Makanya skripsinya pun ditulis dalam bahasa Inggris.

“Sampai sekarang skripsi doktorandus dalam bahasa Inggris itu saya,” katanya. Ketika saya tanya: apakah itu atas inisiatif sendiri atau memang aturannya seperti itu? Taufik menjawab sambil tersenyum, “ Itu karena dosennya tahunya bahasa Inggris. Jadi terpaksa,” ujarnya.

Keinginan untuk studi ke luar negeri memang diniati Taufik sejak lama. Ia sempat marah ada dua mahasiswa yang dikirim ke Eropa waktu itu. “Saya berusaha ingin mengalahkan mereka,” katanya. Mimpi itu akhirnya dia dapatkan juga, kini ia malah lebih banyak ke luar negeri di bandingkan teman lainnya.

Ia sering mengikuti seminar di luar negeri. Dia pernah dalam setahun sampai 12 kali pergi ke beberapa kota di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Di Universitas Cornell, ia mengambil disertasinya “School and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra” (1970) dan diterbitkan oleh Universitas Cornell setahun kemudian. Selain jalur formal, dia juga mengikuti program East-West Centre di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat.

Ia mengawali karir sebagai peneliti di sejak 1962 sampai akhirnya menjadi ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (2000-2002). Ia banyak menulis karya-karya ilmiah sosial, seperti Indonesia Towards Democracy (2009), Sejarah Umat Islam Indonesia (2003), Islam dan Pluralisme di Asia Tenggara (1996), Sang Jenderal (1991), Sejarah Umat Islam Indonesia (1991), dan lainnya.

Di luar negeri, ia lebih dikenal sebagai peneliti sosial dan sebagai antropolog dibandingkan sejarawan. “Tulisan pertama saya di luar negeri bersifat antropologi,” katanya.

Ia juga menjadi peneliti di Departemen Ilmu Politik Universitas Chicago, Universitas Wisconsin dan Netherlands Institute for Advanced Studies in the Humanities and Social Science (NIAS) Wassenaar. Sekarang ia masih menjabat sebagai Direktur Cendekiawan Publik Asia.

Pada 2009 lalu, ia mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Indonesia. Selain itu, Penghargaan Achmad Bakrie bidang pemikiran sosial pada 2008. Juga, Fukuoka Asian Cultural Prize pada 1991.

Baginya semua ilmu adalah penting, tapi sejarah memiliki tempat tersendiri. Ia mengatakan, melalui sejarah seseorang bisa memahami bagaimana dinamika suatu peristiwa dan bangsa. “Kenapa Eropa bisa menguasai dunia. Juga bagaimana pengaruh Islam terhadap Eropa,” katanya.

Di usianya 77 tahun, Taufik masih terlihat bugar. Terkahir, ia mengisi acara di peluncuran buku Todung Mulya Lubis. Ia juga masih aktif di Akademi Jakarta dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Ia mengaku tak menghindari banyak makanan, meski memiliki masalah tekanan darah tinggi. “Kalau soal makanan semua yang halal saya makan. Tapi sekadarnya, tidak berlebihan,” katanya.

Apa resepnya masih terlihat bugar? “Saya tidak tahu, itu karunia Allah saja,” katanya. Namun, ia dulu suka bermain tenis, tapi dokter kemudian melarangnya karena ada tekanan darah tinggi. “Kemudian saya teratur jalan kaki setiap pagi, ya setengah jam sampai satu jam,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s