KH Ma’ruf Amin: The Smiling Kiai

JANGAN dipuji teruslah, tapi lain kali juga perlu dikritik. Kalau dipuji nanti orang jadi lupa,” kata KH Ma’ruf Amin ketika peluncuran biografinya 70 Tahun Pengabdian Tiada Henti kepada Agama, Bangsa dan Negara, Senin (11/4) di Jakarta.

Maklum, sebelum ia pidato ada beberapa testimoni yang memuji-muji kiprahnya di dunia politik dan agama. Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa yang memberikan kesan tentangnya, bahkan menjulukinya, “Kalau ada the smiling general, juga ada the smiling kiai,” kata besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.

Sosok Ma’ruf barangkali lebih dikenal sebagai seorang kiai, karena ia juga memiliki pesantren di Banten, tetapi sebetulnya kiprahnya juga banyak di dunia politik. Di mata istrinya, Siti Nuriyah sosok Ma’aruf adalah seorang suami yang lucu, hangat, dan penyayang.

“Selalu dia ada lucunya, sering menggoda,” kata Nuriyah ketika berbincang dengan Jurnal Nasional, malam itu. Nuriyah malu menceritakan bagaiman cara suaminya menggoda. “Ya macam-macamlah, ya biasalah..,” ujarnya menahan senyum. Tak salah memang julukan itu. Ma’ruf memang suka melempar senyum ke siapa saja.

Dalam buku itu tak diceritakan bagaimana kisah cinta Ma’ruf dan Nuriyah. Ketika Jurnal Nasional menanyakan hal itu, Ma’ruf mengatakan,”Kami memang kan tidak pernah mengalami cinta-cintaan begitu. Istri saya itu kan masih famili juga, kami dijodohkan. Ya tidak mengalami membangun cinta kan orang dulu kita seperti itu.”

Banyak kenangan bersama istrinya yang kini telah memberikan delapan anak dan 13 cucu. “Banyak sekali kenangan, ketika masih baru menikah. Di kampung (Banten) sering jalan menyusuri sawah, berdua jalan di galengan sawah. Asyik kan…,” kata Ketua Majelis Ulama Indonesia ini sambil tersenyum.

Saat pidato, Ma’ruf juga menyinggung tentang kedelapan anaknya. Sebetulnya ia mendukung program Keluarga Berencana. “Kayak murus saja itu sampai delapan kali,” katanya disambut ketawa hadirin.

“Tapi kenapa dulu seperti itu, karena pas ada program KB, tapi anak saya terlanjur sudah punya anak delapan,” ia menambahkan.

Ma’ruf lahir di Desa Kresek, Tangerang, Banten pada 11 Maret 1943. Ia adalah anak tunggal dan sudah menjadi piatu ketika duduk di kelas empat sekolah rakyat.

Ia berasal dari keluarga santri, sehingga sejak kecil dekat dengan dunia pesantren. Ia juga masih memiliki kaitan kekerabatan dengan Syeikh Nawawi Al Bantani, ulama besar Banten.

Di usia 12 tahun ia terbang ke pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Ayahnya sempat melarang Ma’aruf mondok di pesantren Gontor, karena ingin anaknya masuk pesantren salafiyah.

Selain minat ilmu agama, Ma’ruf muda juga kepincut dengan dunia politik. Tapi saat itu di pesantren tak boleh ada aktivitas politik. Ketika Pemilu 1955, ia menyaksikan  hingar bingar politik dan persaingan antar partai ketika kampanye.

Selepas dari pesantren, ia merantau ke Jakarta. Ia masuk ke SMA Muhammadiyah tapi ia tak tamat, lalu melanjutkan ke sejumlah pondok. Pada usia 21 tahun, setelah menikah, ia memilih masuk kuliah di Fakultas Ushuluddin, Universias Ibnu Chaldun, sembari aktif sebagai ketua GP Anshor Nahdlatul Ulama Jakarta Utara.

Pada 1971 adalah masa politik pertamanya yaitu sebagai anggota DPRD DKI Jakarta. Karir politiknya cemerlah, di usia 28 tahun ia sudah menjadi ketua fraksi dari Partai NU. Banyak ide-idenya didukung Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin waktu itu. Salah satunya, ia yang mengusulkan agar pemerintah membantu biaya pembangunan pasar. Dan program itulah, cikal bakal Inpres Dana Pasar. Selama di DPRD, ia mendapatkan julukan “Si Kancil”, karena berbadan mungil namun banyak akal dan kontribusi terhadap partai.

Tak mandek di situ, karir politiknya kemudian melesat ke Senayan, sebagai anggota DPR. Pada Pemilu 1999, ia ikut berjuang membentuk poros tengah dan hasilnya mendorong Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden. Saat pelengseran Gus Dur, ia juga yang bergerilya ke sana-kemari untuk menyelamatkannya.

Ia menemui Amien Rais, pemimpin Partai Amanat Nasional dan Ketua MPR saat itu. “Yang ngetok Gus Dur jadi presiden kan tangan ente, nah masak sekarang ente mau ngetok lagi supaya jatuh? Gimana ini?” kata Ma’aruf. Ia tak mau gara-gara ini NU-Muhammadiyah berselisih panjang. Tapi gerilya Ma’ruf menemui para petinggi partai lain tak berhasil dan akhirnya Gus Dur lengser.

Kini di usia senja, Ma’aruf mengatakan tak akan berhenti untuk mengabdi kepada kemaslahatan umat dan bangsa. Di bidang ekonomi, gagasannya tentang ekonomi syariah banyak tertuang dalam fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional MUI.

“Tugas kita ini hanya bergerak,” katanya. “Urusan hasil itu dari Allah. Maka saya tidak akan pernah berhenti sampai nanti Allah mengambil saya.”

“Saya memang ingin hidup lama, saya minta kepada Allah. Tapi itu kembali kepada Allah, tapi hidup dengan iman dan mati tetap dengan keadaan muslim dan bertemu dengan orang-orang soleh,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s