30 Menit Bersama Polwan Netty

IMG_9073

SEBUAH lagu mengalun lirih dari smartphone, yang tergeletak di meja Netty Diana Rose (36), Selasa (19/3) pagi. Ia sekarang bisa menikmati suasana santai. Maklum, sejak 2005 ia lebih banyak di jalanan  mengawal presiden, ibu negara, atau tamu negara.

Tapi sejak dua bulan lalu, ia meminta “istirahat” dari Brigade Motor (BM) Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Kini dia menjabat sebagai Kasubbag Operasional Direktorat Pengamanan Objek Vital Polda Metro Jaya.

Netty adalah polisi wanita pertama yang mengepalai unit Brigade Motor, yang dibentuk pada 2005. Kini pangkatnya adalah Ajun Komisaris Polisi (tiga balok berwarna emas). Sebelum 2001, pangkat ini disebut Kapten.

Ketika masuk ke kepolisian, sebetulnya hanyalah iseng belaka. Ia pernah menjajal sebagai pramugari tapi tidak diteruskan. Saat masih kuliah hukum di Universitas Indonesia tahun 1992, ia diajak teman mendaftar polwan. “Dari teman yang mendaftar itu, cuma saya yang lulus,” katanya.

Sejak awal, ia diprediksi bakal lulus seleksi. “Katanya dilihat dari postur tubuh, ideal banget. Saat itu yang diterima 12 orang. Saya ranking pertama dari tes psikotes dan akademik,” ujar wanita berdarah Manado ini.

Ia lalu terpaksa memangkas rambut panjangnya sampai pendek. “Rambutku harus korban. Sedih rambut saya dipotong, tapi saya seneng dterima. Saat itu saya meneteskan air mata,” katanya.

Saat pendidikan, ia adalah polwan terbaik dari segi tes fisik dan keterampilan menembak. Ia kemudian masuk ke Korps Brigade Mobil sejak 1993-1998. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan perwira. Saat di Ditlantas, ia di bawah komando Irjen Djoko Susilo, yang kini meringkuk menjadi tahanan KPK karena kasus korupsi simulator alat kemudi.

Netty banyak meraih pengalaman di unit ini. Banyak tamu negara yang ia kawal. Ia juga sering mengawal Ibu Negara, Ani Yudhoyono. Ia mengatakan Ibu Ani lebih suka mengikuti arus lalu lintas apa adanya, berbeda dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang dalam jarak tertentu lalu lintas sudah steril.

“Kalau ibu merakyat. Tapi kan keselamatan Ibu Negara di tangan kita,” ujar Netty, kini sedang menempuh S-2 Magister Hukum di Universitas Trisakti. Pernah saat mengawal Ibu Ani, tiba-tiba sebuah mobil ingin masuk ke rombongan. “Itu sempat membuat saya keringat dingin,” katanya.

Ia mengatakan, di unit ini dibutuhkan keterampilan mengendarai motor besar, karena tidak mudah misalnya memegang motor dengan tangan satu. Bayangkan, berat tubuh Netty hanya 62 kilogram, sementara motornya berbobot 700 kg dan berkapasitas silinder 1.700 cc. Selain itu, “Kami harus bisa lulus dengan membuat angka 8 dengan jarak begitu rapat,” tuturnya.

Berikut petikan wawancara Jurnal Nasional dengan wanita kelahiran 24 November 1976 ini:

Saat bertugas pernah tidak digoda seorang laki-laki?

“Saat itu saya sedang patroli. Lalu ada mobil mogok di dekat RS MMC Kuningan, Jakarta Selatan. Ini mobil baru kok mogok, kata saya kepada pemilik mobil.

“Si pemilik kemudian menjawab, ‘Iya nih bu polwan’. Saya kan tidak tahu masalah mesin. Lalu, laki-laki itu pinjam telepon, ternyata nomor yang dihubungi handphone-nya sendiri. Tapi dia pura-pura bicara kepada bengkel. Sepertinya itu trik untuk dapat nomor saya.

“Tak lama setelah kejadian, saya kemudian dikirimi boneka panda, ada tulisan di dalamnya: ‘Ibu Netty saya mohon maaf, saya tadi ngerjain ibu. Saat itu saya ingin kenalan dengan ibu, tapi bagaimana caranya. Hehe… itu kejadiannya tahun lalu, tapi saya sudah menikah.”

Mungkin dia naksir sama Anda? “Iya kali, hehe.” “Saat itu saya telepon dia, tapi tidak diangkat. Kemudian, dia telepon balik, terus saya tanya, ‘kenapa tidak diangkat tadi’. ‘Grogi saya bu,’ ujar dia.

Sekarang polisi wanita cantik-cantik, komentarnya?

“Untuk jaman sekarang, selain kita punya kemampuan, memang harus seperti itu. Jauh dengan kondisi dulu, sekarang penampilan diutamakan.”

Banyak polwan cantik, tertarik jadi selebritas? “Enggak pengen. Nanti kalau jadi selebritis job-nya selebritis jadi enggak ada, kasihan mereka, hehe.”

Ngomong-ngomong, apa Anda sudah memiliki anak? ”Anak saya dua perempuan sudah SMP. Kami suka berhubungan by phone. Mereka sudah tahu kok Mama-nya kerja seperti apa.”

Oh ya, kalau ke salon berapa kali seminggu? “Enggak tentu, paling sedikit tiga kali. Kuku harus rapi, creambath  biar lebih fresh. Bagaimanapun itu harus.”

Ada anggaran khusus? “Enggak ada. Ya sesuai dengan standar kebutuhan saja.”

Waktu libur apa yang sering dilakukan? “Saya usahakan olahraga: renang dan lari. Seminggu sekali, ya, selama sejam. Sebetulnya sih enggak ada libur, karena harus stand by. Makanya harus pintar-pintar mengatur waktu. Saya juga suka baca buku”

Bagaimana soal stigma KKN di tubuh kepolisian? “Nasib orang ditentukan dari yang di-Atas (Tuhan). Saya enggak tahu besok jadi apa, yang jelas berbuat baik. Karena kasus  itu personal. Polisi juga bukan itu-itu saja, karena masih banyak sisi baiknya.

Apa mimpi Anda di kepolisian? “Saya berpikir gimana polwan jadi kapolri. Ini serius, karena perempuan bisa. Kemampuan juga ada. Apa salahnya, saya menginginkan kepala kepolisian dari polwan.”

3 thoughts on “30 Menit Bersama Polwan Netty

  1. Ibu polwan, aku mau tanya dong:D
    Kalo syarat masuk kepolisian itu salah satunya harus bisa renang ya? Kalo saya tidak bisa apakah saya dapat masuk kepolisian?
    Terimakasih:)

  2. Bu netty mw nanya dong, ge mana klw gigi yg udh gk smpurna alias bolong. Msih bisa gk d trima jdi polwan ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s