Sylviana Murni: Si Tomboi dari Pisangan Timur

NAMANYA mencuat setelah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengangkatnya sebagai pelaksana tugas (plt) Kepala Satpol Pamong Praja. Ia pun mencatat sejarah Jakarta sebagai wanita pertama di posisi tersebut.

Belakangan ia juga disebut-sebut calon sekretaris daerah. Itulah Sylviana Murni (55), yang kini masih sebagai Asisten Pemerintahan Sekda Jakarta.

Banyak orang menilainya sebagai pribadi pelit bicara dan terkesan galak. Namun, ketika saya menemuinya pekan lalu di Balaikota DKI Jakarta, ternyata ia selayaknya wanita: ‘ceriwis’.

“Kalau di kantor kan saya terikat oleh waktu, karena itulah saya harus efisien, tegas ngomongnya, bukan galak. Gimana gubernur pakai saya kalau saya tidak tegas dalam mengambil keputusan,” kata Sylviana.

Apa yang dicapainya kini, katanya, tak lepas dari peran suaminya. “Dia yang mendorong saya untuk menjadi profesor. Makanya dia targetkan gini: ‘Ma soal belajar saya yakin mama otaknya encer. Maka umur 50 harus profesor‘. Pas saya umur 50 pas saya profesor dan saat jadi wali kota,”  kata alumnus SMAN XII Jakarta.

Sedikit orang di pemprov bergelar profesor. Gelar itu ia raih dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka Jakarta. Ia menyelesaikan S-2 di Universitas Indonesia dan S-3 di Universitas Negeri Jakarta.

Ia termasuk seorang profesor gaul dengan empat gadget: blackberry, I-phone, I-pad, dan Macbook Pro. Di era jejaring sosial, ia cukup aktif . “Saya punya twitter, facebook, blog, skype, line, dan instagram. Semua saya punya. Saya memang gaul,” ujarnya tersenyum.

Soal gaya hidup, ia lebih suka berhemat. “Hidup itu harus hemat, tapi kita enggak boleh tidak menikmati. Kalau liburan, kami suka ke beberapa kota di dalam negeri. Kalau ke luar negeri karena tugas,” ujar Sylviana, yang memakai jam tangan Michael Kors. “(Jam) ini buatan Rusia harganya Rp 3 jutaan, saya beli sekitar 2008. Kalau emas-emasan saya enggak suka beli, tapi suami saya yang beliin pas ulang tahun.”

Sylviana lahir di kelurahan Pisangan Timur, Jakarta Timur, 11 Oktober 1959 dari pasangan Dani Moerdjani dan Ni’mah. Ia anak ketiga dari 10 bersaudara – sembilan perempuan dan satu laki-laki.

Suatu malam pada 1981 di Hotel Indonesia, jantung Sylviana berdegup kencang, ketika namanya terpilih sebagai None Jakarta. Itulah awal namanya dikenal publik.  “Papa kemudian mengajak semua keluarga dan teman-teman makan di rumah makan padang, tidak jauh dari rumah,” tulisnya dalam Pernak-Pernik Abang None Jakarta – ini adalah buku ke-16 dari 19 buku yang sudah ditulisnya.

Ia masih 23 tahun saat itu dan duduk di semester akhir Fakultas Hukum Universitas Jayabaya. Awalnya ia tak berminat untuk mengikuti pentas itu karena tak percaya diri. “Saya merasa wajah dan postur tubuh saya kurang ideal…saya lebih senang berorganisasi,” katanya.

Saat itu ia sudah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam. Sampai kini, ia masih aktif di organisasi seperti Bamus Betawi, Lions Club Jakarta Pusat Monas Millenium, Lembaga Kebudayaan Betawi, dan lainnya. Ia pernah di SOKSI Metropolitan, APEKSI, Ketua Biro Wanita DPD I Golkar DKI Jakarta, Ikatan Warga Jakarta, dan lainnya.

Ayahnya, seorang militer mendidik Sylviana secara displin tapi religius. Ia mewarisi banyak sifat ayahnya: tegas, keras, dan religius, tapi juga dandy. “Beliau tergolong Betawi modern. Saya, kakak, dan adik-adik, pandai berdansa. Siapa yang mengajari? Ya Papa,” katanya.

“Saya diajari sangat duniawi dan akhirat. Saya diajak ke night club, ya sekedar tahu saja. Saya pernah ke tempat judi di Ancol. Kami main rolet dan jakcpot. Kami dikasih uang dan menang, tapi Papa bilang itu bukan uang kita.”

Di sisi lain, ia ditempa dalam urusan agama. “Sampai sekarang saya dua kali seminggu masih mengaji,” katanya. Karena cantik dan religius itulah, Gde Sardjana mempersuntingnya. Gde adalah mantan perwira mesin KM Jayakarta, kapal kontainer pertama milik Indonesia. Ia lulusan akademi pelayaran dan saat itu bekerja di PT Jakarta Llyod.

Pertemuannya dengan Sylviana ketika ia bersandar pertama kali di Tanjung Priok sepulang dari Jerman. Sebagai None Jakarta, Sylviana mendampingi Gubernur Jakarta saat itu, Tjokropranolo menyambut kedatangannya

Dari situlah cintanya bersemi, meski saat itu ia sudah memiliki pacar. “Saya itu dulu punya pacar dengan anak seorang profesor UI, seorang arkeolog. Saya suka dia karena pintar. Tapi, kami sering ribut,” katanya tersenyum.

Sylviana harus ‘pacaran’ jarak jauh, karena Gde harus berlayar. Gde selalu berkirim surat. Ia mengatakan, sebetulnya Gde bukanlah tipe romantis, tapi dia pintar bikin puisi. “(Saat berlayar) ia suka kirim surat sampai sembilan lembar. Dia itu kalau jauh sangat romantis. Surat-suratnya masih saya simpan,” katanya.

Sejak kecil, Sylviana adalah anak yang tomboi dan tidak suka berdandan. Bahkan, sampai kuliah pun, “Saya bisa dikatakan belum mengenal lipstik atau make-up…Saya tergolong gadis yang tidak memperhatikan masalah kecantikan lahiriah,” katanya.

murniIa lebih suka memakai jins. Tapi orangtuanya menginginkannya tetap tampil sebagai wanita. Ia pun memanjangkan rambutnya sepinggang. Sebagai anak tomboi ada kenangan tak terlupakan olehnya. Saat kuliah, Sylviana punya sepeda motor Honda 70 cc. “Saya pernah ngebut dan masuk gubuk orang. Saya nerobos karena menghindari mobil. Tapi orang (pemilik gubuk)-nya enggak marah, karena tahu Papa,” katanya ketawa mengingat hal itu. “Tapi Papa terus mengganti yang rusak.”

Saat itu sempat terjatuh? “Saya enggak jatuh, kan saya jagoan,” kata Sylviana yang awalnya ingin jadi pramugari atau diplomat. Tapi mimpi itu ia urungkan. “Kayaknya paling enak jadi PNS, karena bisa pulang jam 2 siang. hehe…” katanya.

Ia lalu mengawali karir di pemprov menjadi staf di BP-7 DKI selama dua tahun. Karirnya lama di Biro Bintal DKI Jakarta. Di sini, ia mulai menjadi staf sampai kepala bagian antara 1987-1997.

Ia kemudian “cuti” dari PNS untuk menjadi anggota DPRD DKI periode 1997-1999 dari Partai Golongan Karya. Selepas itu ia kembali menjadi Kepala Biro Bina Sosial (1999-2001). Ia lalu diangkat menjadi Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (2001-2004). Lalu, Kepala Dinas Pendidikan Dasar (2004-2008) dan Wali Kota Jakarta Pusat (2008-2010).

Uniknya, ia selalu menjadi perempuan pertama di setiap jabatan yang diberikan kepadanya. Semua serba pertama, bagaimana jika gubernur Jakarta perempuan pertama? “Tidak bermimpi, saya lakoni apa yang saya kerjakan sekarang,” ujar Sylviana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s