Nick D’Aloisio: Rejeki Nomplok Si Anak Jenius

NICK D’ALOISIO (17), seorang programmer belum lahir ketika Yahoo! Inc berdiri pada 1994. Tapi, siapa yang tahu Nick akan menjadi salah satu pengusaha muda dan jutawan termuda di dunia, setelah Yahoo! membeli aplikasi buatannya, Summly.

Perusahaan internet multinasional yang berpusat di Sunnyvale, California, Amerika Serikat itu membeli karyanya US$30 juta atau sekitar Rp288 miliar. Dan, Nick akan bekerja di jajaran atas Summly di Yahoo! dalam beberapa pekan ke depan dan menjadi pemegang saham terbesar di Summly.

Tapi ia masih menyisakan satu tahun lagi di SMA – King’s College School. Ia pun berencana mengikuti tes agar segera lulus dan bekerja di Yahoo!, London.

Aplikasi itu berfungsi sebagai agregator yang merangkum berita-berita populer dari sejumlah perusahaan media. Rencananya akan dipakai Yahoo! dalam fitur-fitur smartphone. Saat ini Summly sudah ditutup dan akan diluncurkan kembali oleh Yahoo!.

Nick lahir di Australia pada 1996 dari pasangan Diana dan Lou, tapi dibesarkan di London. Ibunya seorang pengacara yang tak memiliki pengetahuan khusus teknologi. Tapi mereka mendukung kecintaan Nick pada teknologi, bahkan di usia 12 tahun ia sudah membuat web. Ia belajar algoritma dari mengikuti sejumlah forum dan buku-buku programmer.

Ia membuat aplikasi “peringkas teks otomatis” (automatic summarization algorithm) yaitu salah satu cara meringkas konten teks panjang menjadi 1000, 500, atau 140 karakter. Ia mengerjakan itu selama liburan,  lalu mengirimkan hasilnya itu ke sejumlah wartawan teknologi.

Setelah berbulan-bulan bekerja keras di komputer kamarnya, Nick akhirnya terbang ke San Francisco, New York dan Asia, bertemu desainer Apple Jonathan Ive. Pada awal 2011 ia membuat aplikasi iOS Trimit yang dibeli Apple dan tampil sebagai aplikasi penting di App Store.

Pada 2012, ia mendapatkan penghargaan atas karyanya sebagai Aplikasi Apple kategori “Intuitive Touch”, dengan rating sebanyak 4,5-5 bintang di App Store. Apple pun menjulukinya si anak jenius.

Sejak itu, Li Ka-shing tertarik dengan kecerdasan Nick dan mulai menawarinya modal sebesar US$300 ribu. Ia kemudian mendesain ulang Trimit dan meluncurkan Summlypada akhir 2011. Versi awal Summly sudah diunduh sebanyak 200.000 pengguna.

Investor Summly adalah Wendi Murdoch, Ashton Kutcher dan Yoko Ono. Tapi investor yang paling utama memengang peranah adalah miliarder asal Hongkong, Li Ka-shing. Dialah yang mendukung Nick sejak awal. Pada 2013 ini, aplikasi Summly dibeli Yahoo! untuk fitur mobile sebagai cara membaca berita pada smartphone.

Setelah dibeli dengan nilai yang fantastis itu, Nick tak memiliki rencana khusus terhadap rejeki nomploknya itu. “Ini akan ada yang disumbangkan dan orang tua saya akan membantu mengelolanya,” katanya.

Tapi ia berencana menggunakan uang tersebut untuk membeli sepatu. “Saya akan membeli sepasang baru Nike dan saya mungkin akan membeli komputer baru, tapi saat ini saya hanya ingin menyimpan uangnya di bank. Saya tidak punya banyak untuk biaya hidup,” ujarnya.

Dalam sebuah catatan di blog Summly, Nick menulis pada Senin kemarin, “Ketika saya mendirikan Summly pada 15, saya tidak pernah membayangkan akan berada di posisi sekaran dengan tiba-tiba.”

“Saya pribadi ingin mengucapkan terima kasih kepada Li Ka-Shing dan Horizons Ventures yang memiliki pandangan ke depan untuk mendukung remaja mengejar mimpinya. Juga, kepada penasihat, investor dan tentu saja tim yang fantastis. Untuk percaya pada potensi Summly.”

“Tanpa kalian, ini tidak akan mungkin ada. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada keluarga, teman, dan sekolah yang telah mendukung saya,” ujar Nick.

Senior vice president Yahoo mobile Adam Cahan mengatakan, perusahaan senang bisa memiliki Nick dan beberapa rekannya dalam perusahaan.

“Bagi penerbit, teknologi Summly menyediakan pendekatan baru untuk mendorong dan menggaet generasi pengguna ponsel terhadap informasi yang bisa diakses secara mobile,” tulisnya.

Kini, ia menjadi “selebritas” baru, dengan diundang di beberapa wawancara media seperti CNBC, Bloomberg, BBC, ITV, dan lainnya.

Apa yang akan dikerjakan Nick, kelak jika tak bekerja lagi di Yahoo? Ternyata, ia akan tetap pada hobinya ini dan sesekali main kriket, serta akan masuk kuliah di Oxford, jurusan filsafat.

“Ini perjalanan surealis. Saya selalu melihat ini sebagai hobi, itu hanya gairah saya. Dan fakta bahwa Itu [mengakibatkan] diakuisisi adalah sesuatu yang saya tidak pernah diharapkan..,” katanya.

New York Times/Business Week/BBC/Forbes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s