Anak Suka Emosional? Jauhkan Mereka dari Televisi

MULAI sekarang orangtua harus bisa mengendalikan anak-anak dalam melihat televisi. Sebab sebuah penelitian mengungkapkan bahwa anak-anak yang melihat televisi lebih dari tiga jam cenderung berisiko berperilaku asosial seperti berkelahi, mencuri, dan emosional tinggi.

Sementara, risiko kecil ditemukan pada anak-anak yang bermain komputer atau permainan elektronik. Demikian analisis dari penelitian Medical Research Council (MRC) di Inggris seperti dikutip Dailymail.

Dr Alison Parkes dari UK MRC juga Kepala Unit Sosial dan Kesehatan Masyarakat di Glasgow, mengatakan studi ini memberikan bukti bahwa perlu adanya batas maksimum menonton TV pada anak-anak. Di sisi lain, orangtua juga sering tidak mengetahui acara apa ditonton anak-anak

Penelitian ini pertama dilakukan di Inggris yang bertujuan untuk mengetahui korelasi menonton televisi dan perubahan mental pada anak-anak.

Orangtua dari 11.014 anak di UK Millennium Cohort Study mencatat jumlah jam anak menonton televisi (termasuk menonton video dan DVD) dan penggunaan permainan elektronik untuk anaknya di usia lima tahun setiap harinya.

Mereka mengisi kuesioner terkait perilaku anak-anak mereka, seperti gejala emosi, masalah hubungan dengan teman seumuran, hiperaktif, kurangnya perhatian dan kemampuan bersosialisasi.

Studi yang dipublikasikan secara online dalam jurnal Archives of Disease in Childhood ini mengandalkan pelaporan orangtuanya. Yaitu berapa lama menonton televisi, sementara mereka tidak melaporkan konten acaranya.

Pada usia lima tahun, hampir dua-pertiga dari anak-anak menonton TV antara satu sampai tiga jam sehari. Sementara 15 persen menonton selama tiga jam atau lebih. Hanya tiga persen bermain game elektronik selama tiga jam atau lebih setiap hari.

Faktor menonton televisi, kata peneliti, bukan menjadi faktor utama perilaku asosial anak. Tetapi, mereka juga memperhatikan faktor lain seperti pendapatan rumah tangga, pendidikan dan pekerjaan ibu, perilaku pengasuhan, hubungan orang tua-anak dan kemampuan kognitif anak, waktu tidur dan aktivitas fisik. “Di masa depan ini sangat penting untuk melihat pengaruh apa yang anak-anak tonton di TV,” kata Dr Parkes.

Sonia Livingstone, Profesor Psikologi Sosial dari London School of Economics, menilai penelitian sangat baik untuk mengetahui perkembangan anak. “Ini juga menjadi alasan untuk berpikir: mengapa beberapa anak menghabiskan begitu banyak waktu menonton televisi – mungkin tekanan pada orangtua mereka terlalu besar, atau mungkin ada tidak bermain ruang di dekatnya?” ujarnya.

Dalam buku Anak vs Media, Kuasailah Media Sebelum Anak Anda Dikuasainya, dikatakan bahwa membiarkan anak bertumbu dan hanya berteman dengan televisi yang menjadi pengasuh mereka adalah tindakan yang kurang bijasana.

“Merampas mereka sejak dini dari pengaruh jahat media adalah langkah tepat untuk menyelamatkan generasi,” tulis Mahayoni, pakar media televisi dan Hendrik Lim dalam buku tersebut.

Mereka mengatakan saat ini mainan tradisional anak-anak sangat jarang ditampilkan di televisi. Lebih sering, katanya, barang-barang elektronik atau boneka yang harganya relatif mahal. “Sisi baik maupun sisi negatif sebuah tayangan media adalah sangat baik kita bicarakan dengan anak-anak kita maupun keluarga. Jika ini terus-menerus disampaikan kepada keluarga kita, termasuk anak-anak akan mampu memiliki self sensorship yang baik terhadap tayangan televisi,” tulis mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s