Nicolas Maduro: Sopir Bus Penerus Chavez

DIA adalah seorang revolusioner lengkap, berpengalaman, berdedikasi, dan memiliki kapasitas untuk memimpin dan menangani situasi yang paling sulit,” kata mendiang Hugo Chavez suatu kali tentang pribadi Nicolas Maduro.

Nicolas Maduro akhirnya terpilih sebagai Presiden Venezuela, sepeninggal Hugo Chavez yang terkena kanker pada 6 Maret lalu. Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa kemenangan tersebut adalah untuk Chavez.

Maduro dinyatakan menang dalam pemilihan, Minggu (14/4) setelah mengantongi sebanyak 50,7 persen suara. Ia mengalahkan kandidat oposisi, Henrique Capriles. Capriles belum mau menerima kekalahan dan ingin penghitungan ulang suara. 
Maduro adalah Wakil Presiden Venezuela sejak diangkat oleh Chavez pada Desember 2012. Ia menjadi menteri luar negeri sejak 2006-2012. Dan, ia selalu menyebut dirinya sebaga “anak Chavez”

Pria berbadan tambun, berkumis baplang ini, adalah salah satu penasihat terdekat Chavez. Maduro selalu di sisi Chavez ketika sakit. Ia juga yang mengumumkan Chavez meninggal sampai memimpin upacara pemakamannya. Sejumlah pendukungnya sampai membuat imitasi kumis yang menyebutnya sebagai “Kumis Tanah Air”

Sebelum masuk dunia politik, orang mengenal Maduro sebagai bekas sopir bus. Persahabatan keduanya terjalin ketika Chavez di penjara pada 1992, karena percobaan kudeta. Maduro berkampanye meneriakkan pembebasan Chavez.

Selama masa pembelaan itu, kisah cintanya juga terjalin dengan seorang perempuan, Cilia Flores. Ia adalah salah satu dari tim pengacara Chavez. Ketika mundur dari Majelis Nasional, istrinya kemudian menggantikan posisinya.

Terpilihnya Maduro artinya dinasti politik Venezuela atau Chavismo, masih terus berlanjut. Dalam kampanyenya, ia berjanji untuk melanjutkan “sosialisme abad ke-21” yang membuat Chavez dipuja sebagai pahlawan bagi jutaan orang.

“Kita semua akan di dalam ‘bus tanah air’, yang sudah memiliki ‘sopir’,” kata Maduro. “Ini dia, sopirnya Chavez!”

Ketika kampanye Cahvez akhir tahun lalu, Maduro menjadi sopir bus Chavez. Maduro selalu dipromosikan Chavez sebagai wakil presiden yang dipilih oleh rakyat.

“Lihatlah ke mana ia pergi, Nicolas adalah sopir bus … Bagaimana mereka mengolok-oloknya sebagai kaum borjuis?” kata Chavez saat ia mengangkatnya sebagai wakil presiden.

Sebagai presiden, Maduro akan dihadapkan pada masalah ekonomi, seperti kenaikan inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat, serta tingkat kekerasan yang tertinggi di dunia.

Selama kampanye, Maduro menyebut dirinya dan para menteri kabinet sebagau “murid Chavez” dan mencemooh kalangan oposisi sebagai “Pharisees (orang Farisi)”, yaitu merujuk pada sekte Yahudi dalam Perjanjian Baru, yang memusuhi Yesus.

“Kelemahan Nicolas ‘terbesar adalah bahwa ia tidak ada, satu-satunya hal yang Anda lihat dalam kampanye adalah citra presiden (Chavez) … Nicolas tidak ada,” kata Capriles, lawan politik Maduro. Capriles yang akhirnya kalah menyebut pemilihan ‘tidak sah’.

Sedikit yang diketahui tentang kehidupan Maduro sebelum ia bergabung bersama Chavez.  Seorang blogger mengatakan bahwa Maduro ikut dalam gerakan sosial-politik kiri – Gerakan Republik Kelima [MVR] buatan Chavez – pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. “Tentang Nicolas Maduro, tidak ada informasi yang lengkap,” tulis nama akun Edgar B dalam panfletonegro.com.

Maduro adalah pemimpin serikat buruh, sampai akhirnya pada 1999 ketika Chavez menjadi presiden, ia mask ke Majelis Konstituante Nasional. Pada 2000, ia menjadi ketua Majelis Nasional sampai 2006.

Setelah itu ia diangkat menjadi menteri luar negeri. Ini yang kemudian banyak dikritik karena Maduro tidak pernah mengenyam pendidikan universitas. Pria kelahiran 23 November 1962 tersebut hanya tamatan SMA di Liceo Jose Avalos di El Valle, sebuah lingkungan kelas pekerja di pinggiran barat Caracas. Ia dibesarkan dalam budaya Katolik Roma.

Sejumlah orang dekat Maduro menilai sosoknya sebagai seorang pria tenang dan memiliki sisi spiritual. Pada 2005, bersama istrinya ia berkunjung ke India untuk mengaji pada guru Sathya Sai babaa, yang telah meninggal pada 2011. Ia juga dikenal sebagai sosok yang ramah dan periang, serta seorang pekerja cerdas dan negosiator ulung.

“Dia tidak memiliki watak bicara keras. Dia selalu terbuka untuk berdialog,” kata pengamat politik Ricardo Sucre dari Central University of Venezuela (UCV).

Sebagai mantan menteri luar negeri, Maduro mengikuti garis Chavez yaitu menentang hegemoni ‘imperialisme Amerika’.

“Maduro memiliki orientasi ideologis yang sangat kuat, dekat dengan ideologi komunis,” kata Profesor Ramon Pinango, sosiolog dari University of Venezuela Iesa. ” Ia bukan tipe orang pragmatis.”

Reuters/BBC/Al Jazeera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s