Suatu Pagi Bersama Betti Alisjahbana

Ada tiga prinsip yang ia pegang selama ini, “Kerja keras, integritas, dan motivasi yang tinggi,” katanya dalam bukunya Tiap Detik Bermakna (Dian Rakyat: 2008). (foto: wartaekonomi.co.id)

WANITA itu tiba-tiba sudah di depan saya ketika saya masih duduk di ruang tamu. Ia lalu memperkenalkan diri, “Saya Betti,” ujarnya menyalami saya. Orangnya ramah, murah senyum, dan penyuka warna merah.

Memakai batik warna merah dipadu bawahan hitam, serta rambut tersanggul, Betti terlihat anggun. Padahal usia sudah 53 tahun, tapi ia masih terlihat seperti umur di bawah 40 tahun: awet muda.

Betti Alisjahbana menerima saya Kamis pekan lalu di kantornya, Jalan Buncit Persada No.1, Jakarta Selatan. Ruangan kerjanya cukup mungil seukuran 3×4 meter. Tapi ia mendesain lain, salah satu dindingnya tembus pandang, sehingga kita bisa menikmati keindahan taman belakang.

Sejumlah foto terpasang di dinding, termasuk cover Majalah Warta Ekonomi 2007, yang menulisnya sebagai “CEO Idaman” versi pembaca. Ia banyak menerima sejumlah penghargaan sebagai perempuan berprestasi, diantaranya dari Majalah Kartini, Majalah Globe Asia, Majalah Femina, dan lainnya.

Pagi itu, ia sudah sibuk di depan Macbook Air bikinan Apple. Secangkir teh dan roti tawar menemaninya. Ia baru makan secuil, ketika saya masuk ke ruangannya, bahkan sampai selesai wawancara.

Siapa yang tak mengenal namanya? Istri dari Mario Alisjahbana – anak sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana – ini adalah wanita pertama Indonesia sebagai Presiden Direktur PT International Business Machines (IBM). IBM adalah produsen perangkat keras dan perangkat lunak komputer, yang berpusat di Armonk, New York, AS. Ia beroperasi sejak 1888 dan pada 2005, divisi komputernya diambil alih perusahan kompter, Lenovo, yang berpusat di China.

Selama delapan tahun ia menduduki jabatan puncak tersebut, sebelum akhirnya pensiun pada 2008. Kini, ia membikin perusahaan PT Quantum Business International, yang bergerak di empat bidang yaitu konsultan kepemimpinan (QB Leadership), QB Furniture, QB IT Services, dan QB Architects.

Ia mendirikan perusahaan itu karena ingin berkontribusi melahirkan para pemimpin baik di dunia akademisi, perusahaan, maupun pemerintahan. “Passion saya di situ, saya terlibat langsung dengan terjun di pelatihan ,” katanya.

“Banyak konsultan yang memberikan saran berdasarkan teori, tapi saya dengan pengalaman. Jadi sebetulnya pegembangan orang kuncinya pada menginsiprasi. Kalau inspirasi terbangun, dia mau bekerja keras,” ia menambahkan.

Dalam sebulan bisa dua kali mengadakan workshop leadership. “Yang lainnya, saya suka diundang berbagai internal perusahaan. Saya diminta untuk menginspirasi mereka,” katanya. “Ya sebagai motivator.”

Keluar dari IBM, ia masih banyak kegiatan seperti Anggota Komite Inovasi Nasional, Wakil Ketua Dewan Riset Nasional, Anggota Majelis Wali Amanah ITB, Duta Open Source Indonesia, dan Ketua Umum Asosiasi Open Source Indonesia.

Betti lulus jurusan arsitek ITB pada 1984. Selepas lulus ia memilih ke IBM, karena saat itu dunia arsitektur sedang tidak cerah. “IBM saat itu terkenal dengan manajemen dan pengembangan pegawainya bagus, saya ingin mampir belajar 3-4 tahun, kemudian saya bisa terjun ke dunia arsitek,” kata Komisaris PT Garuda Indonesia ini. “Tapi tidak direncanakan sampai sejauh itu.”

Selama hampir 24 tahun di IBM, ia mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Berikut petikan wawancara dengan wanita kelahiran 2 Agustus 1960 itu:

Mengapa Anda keluar dari IBM? Pada 2008, saya meminta pensiun dini untuk menjadi pengusaha. Kemudian saya membangun QB Internasional. Sebetulnya ada tiga alasan saya mundur, pertama saya sudah delapan tahun jadi presiden direktur. Saya pikir itu sudah terlalu lama. Saya harus terus mengembangkan diri dan memperbesar pengaruh lainnya.

Kedua, saya pikir Indonesia lebih butuh entrepreneur dan akhirnya saya memutuskan untuk menjadi pengusaha. Ketiga, saya ingin 50 persen membagi kegiatan di bidang sosial. Jadi pengusaha tetap sibuk tapi saya punya waktu fleksibel.

Anda mendirikan QB International, apa yang ingin dicari? Melalui QB Leadership, saya ingin berkontribusi agar ada pemimpin yang baik di level akademisi, perusahaan, maupun pemerintahan. Kemudian, ini cinta lama bersemi kembali. Saya kan aristek maka saya dirikan QB Architect, tim saya yang merancang. Tadinya saya yang menjadi CEO QB, sekarang sudah menunjuk orang lain. Kini saya sebagai komisaris, sehinga saya bisa menikmati waktu lagi.

Apa yang diajarkan IBM kepada Anda? Saat di IBM saya diajari tentang teknologi, cara menjual, dan bagaimana binis perusahaan dijalankan. Di sana ada pelatihan IT-nya selama satu tahun di Indonesia dan Hongkong. Buat orang yang tahu IT, ya lebih cepat menguasai. Orang lain bisa menguasai satu jam, saya butuh waktu tiga jam.

Saya beruntung mendapatkan kesempatan baik di IBM, karena tidak banyak organisasi yang memberikan perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia dan pemberdayaan pemimpin. Itu adalah kunci kapasitas dari organsisasi.

Bagaimana kemudian Anda bisa sampai posisi puncak? Di IBM menerapkan sistem meritokrasi, jadi bagi pegawai yang memiliki kinerja, komitmen, dan integritas bagus memang diberikan kesempatan terbuka untuk naik ke atas. Umumnya para petinggi IBM berasal dari unit yang melayani perusahaan besar, tapi saya orang pertama yang berasal dari unit perusahan kecil dan menengah.

(Karena dinilai berhasil dalam menjual produk ke perusahaan kecil dan menengah, pada 1997, ia dipromosikan naik jabatan. Ia menjadi General Business yang memegang binis regional di ASEAN dan Asia Selatan. Ia kemudian berpindah kantor di Singapura, selama dua tahun.

Sepulang dari sana, di usia 39 tahun, ia membuat sejarah sebagai wanita pertama yang menduduki presiden direktur. Sekaligus Country General Manager perempuan pertama di IBM Asia Pasifik.

Ada tiga prinsip yang ia pegang selama ini, “Kerja keras, integritas, dan motivasi yang tinggi,” katanya dalam bukunya Tiap Detik Bermakna (Dian Rakyat: 2008).

Menurutnya, sebagai seorang pemimpin adalah passion untuk memimpin, pantang menyerah, dan mau bertanggungjawab. “Jika sukses itu banyak yang ngaku, tapi kalau gagal tidak ada. Seorang pemimpin itu menggunakan kegagalan menjadi loncatan,” ujarnya.

Ia selalu menanamkan integritas. “Ini nomor satu yang diperhatikan dan dipegang kuat oleh seseorang. Harus ada kesesuaian antara kata-kata dan perbuatan. Kita minta pegawai rajin, kita harus rajin. Kita harus dulu menjadi ‘role model’. Itu yang saya terapkan,” katanya.

Ia mengatakan selain segi internal, juga ada masalah eksternal yaitu lingkungan yang koruptif. Menurutnya, dengan indeks korupsi Indonesia yang masih rendah, bisa mempengaruhi seseorang yang jujur ke arah korupsi. “Ada yang cepat berhasilnya, cepat pula jatuhnya,” katanya.)

Oh ya, bagaimana kabar album lagunya, enggak ingin dikembangkan? Enggak, itu hanya hobi saja. Sudah ada tiga album…tapi haduh saya malah lupa judulnya. Sebetulnya menyanyi bakat-bakat amat juga enggak. Karena waktu itu, bagaimana untuk fundraising (pengumpulan dana), maka saya belajar menyanyi dari Mba Bertha (salah satu pelatih teknik vokal ternama di Indonesia). Ya, semua orang ternyata bisa bernyanyilah, hehe…

(Uang dari penjualan album tersebut kemudian diberikan ke Yayasan Nurani Insani melalui ITB untuk membantu pendidikan anak jalanan di jalan Petamburan, Jakarta. Waktu itu, mereka dibiayai mulai SD sampai SMA.)

Selain menyanyi apa kesukaan Anda? Saya terkadang menulis buku. Ada satu buku saya, “Tiap Detik Bermakna”. Saya kadang memasak dan berkebun.

Punya menu khusus? Menu khusus keluarga saya suka bikin steak, tiramisu, udang kelapa, macam-macamlah. Saya belajar dari buku secara otodidak. (Ternyata, selain hobi itu, dulu Betti juga suka menari, terutama tarian Jawa. Kini ia biasa membaca buku untuk melepas lelah. “Biasanya menjelang tidur,” katanya. Ia suka dengan buku-buku leadership dan biografi. “Terakhir, saya baca buku biografinya William Soeryadjaya (PT Astra Internasional) judulnya Man of Honor,” ujarnaya.

Tidak ingin menulis biografi Anda? Belum waktunya, hehe..

Dulu katanya Anda les menjahit ya? Iya. Tapi sekarang lebih cepet menyuruh orang lain yang bikin. Waktu itu saya buat seragam sekolah, masih SMA. Awalnya ya cuma bikin terus ada yang bilan bagus dan minta dibikinin. Ya saya bikinin. Dulu bayarnya dikasih boneka (ia tersenyum)

Apa film kesukaan Anda? Macam-macam. Yang penting drama romantis yang ada unsur humornya. yang terlalu berat, apalagi ada adegan kekerasannya sama sekali enggak suka. (Ia kecewa karena tak bisa menonton The Iron Lady, film biografi Margareth Thatcher. “Saya nyari-nyari tapi keburu habis di bioskop, ini saya lagi cari DVD-nya,” katanya.).

Sebagai orang yang sibuk, ia masih tetap membagi waktu dengan keluarga. Ia suka berhubungan dengan keluarga melalui telepon. Sesibuk apa pun, ia ingin tetap komunikasi keluarga terjalin dengan baik.

Ia membiasakan sampai rumah pukul 7 malam, sehingga bisa makan malam bersama keluarga. Di sisi lain, untuk menjaga tubuh agar tetap bugar, Betti memiliki kebiasaan tersendiri, “Saya biasa renang, kadang sit-up,” katanya.

#dimuat di Jurnal Nasional, Selasa (23/4).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s