Mira Amahorseya dan Gelas Sloki

“Saya tidak suka sebagai lawyer,” ujarnya. “Saya merasa kurang cocok, apalagi melihat sistem hukum yang karut-marut. Rasanya menjadi penegak hukum sulit ya, sesuai nurani saya.” (foto: andisn)

MIRA AMAHORSEYA berbisik-bisik dengan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan. Entah apa yang dibicarakan. Mereka tampak asyik bercengkerama. Kilatan cahaya kamera lalu mengabadikan mereka.

Malam itu, Rabu (24/4) di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Mira sedang bahagia. Dahlan Iskan membuka acara Anugerah Kartini BUMN 2013: “The Most Achievement Inspiring Women in BUMN”. Dan, Mira terpilih sebagai salah satu wanita insipiratif. Ada 14 nama wanita lain yang menerima penghargaan tersebut.

Tiap tahun, Majalah BUMN Track menggelar acara tersebut sebagai bagian semangat emansipasi wanita. Selain itu, peran mereka dalam kontribusi meningkat perekonomian nasional.

Memakai batik warna merah, Mira banyak mengumbar senyum.”Perasaannya kaget, bahagia. Ya apa lagi kalau enggak bahagia,” katanya tentang perasaan setelah mendapatkan penghargaan itu kepada saya.

“Tapi ini cambuk juga bagi saya untuk mempertahankan apresiasi tersebut bahwa saya memang layak.” Ini adalah penghargaan pertama yang didapatnya sejak diangkat menjadi Direktur Utama PT Sarinah ke-13 pada 26 Juli 2012. Ia menggantikan Jimmy M. Rifai Gani yang melanjutkan sekolah di Harvard Kennedy School.

Pengangkatannya masuk dalam sejarah di jajaran direksi PT Sarinah, karena sebelumnya banyak dipegang oleh kaum pria. Dan, Mira adalah wanita pertama ditampuk tertinggi perusahaan ritel yang berada di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat itu.

Ia tak paham apa yang menjadi kriteria penilaian oleh BUMN Track. Tapi ia menduga, “Ini mungkin ya. saya perempuan pertama di PT Sarinah,” ujar wanita keturunan Minahasa-Maluku tersebut.

Ia berharap ke depan, PT Sarinah bisa berkembang pesat tidak hanya di sektor ritel. Perusahaannya juga berkembang di sektor bisnis properti dan ekspor-impor. Sebelum di PT Sarinah, ia mulai karir di sebuah kantor hukum di Jakarta. Mira adalah lulusan hukum Universitas Kristen Indonesia pada 1988.

Selama satu tahun ia bekerja di bidang hukum. Ternyata, dunia hukum bukan dunianya. “Saya tidak suka sebagai lawyer,” ujarnya. “Saya merasa kurang cocok, apalagi melihat sistem hukum yang karut-marut. Rasanya menjadi penegak hukum sulit ya, sesuai nurani saya.”

Selepas dari itu, ia kemudian ke Amerika Serikat, mengikuti beberapa kursus-kursus singkat di University of New York. Ia kemudian kembali ke Jakarta dan masuk ke PT Sarinah pada 1991.

Ia masuk sebagai kepala bagian sekretariat perusahaan. Dalam berjalannya waktu, ia kemudian mendapatkan promosi, seperti Direktur Pengembangan Usaha Sarinah. Lalu, sebelum diangkat menjadi Dirut PT Sarinah, ia sempat mencicipi kursi direktur di Hotel Sari Pan Pacific, salah satu cabang usaha PT Sarinah.

Selama dua tahun terakhir, PT Sarinah laba bersih perusahaan meningkat. Pada 2011 kondisi laba bersih sebesar Rp15 miliar, kemudian naik menjadi sekitar Rp22 miliar pada 2012. Ia berharap di kepemimpinanya, PT Sarinah terus bangkit. Ia ingin merevitalisasi dan mengoptimalkan aset lahan strategis yang dimiliki.

“Sarinah diharapkan terus dicintai masyarakat,” katanya. Hobi mengumpulkan sloki Menurut Mira seorang perempuan memang berat untuk meniti karir. Sebab, budaya pemimpin di Indonesia masih didominasi budaya patriarki.

Ia mengatakan bahwa meski meniti kariri, perempuan juga tak boleh melupakan tiga hal, yaitu keluarga, kerja, dan beribadah kepada Tuhan. Menurutnya, ketiga hal itu harus seimbang dalam hidup. Makanya, sesibuk apa pun ia masih tetap menyempatkan diri untuk bercengkerama dengan keluarga. Ia pun suka berekreasi ke sejumlah negara.

“Hobi saya travelling, katanya. “Saya sudah kemana-mana, terakhir ke Israel. Sebelumnya ke Mesir, London, Jerman, Belanda, Paris, Amerika.” Ia mengatakan tidak setiap tahun memiliki jadwal travelling.

Jika ada waktu luang yang cukup, ia bisa menjadwalkan diri untuk rekreasi. Ada kebiasaan yang menarik yang dilakukan Mira selama berkesempatan berkeliling dunia. Ia suka mengumpulkan gelas-gelas kecil minuman. “Sloki minuman. Dari mana saja, saya sudah punya 500 biji dari seluruh dunia,” ujarnya.

Dari sekian gelas sloki yang susah dicari adalah gelas dari India. Ia pun memesan dari seorang teman yang berkunjung ke sana. “Susah karena bukan budaya mereka,” ia menjelaskan.

Di sela-sela waktu luang, Mira masih menyempatkan diri untuk aerobik dan jogging di treadmill untuk menjaga kebugaran tubuhnya. Ia juga suka menonton film. “Saya suka film drama,” ujarnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s