“Bunda Teresa” dari Kelapa Gading

Bersama lukisan karya sendiri. Keduanya pernah mengadakan pameran lukisan dan menjual beberapa lukisannya hingga terkumpul ratusan juta. (foto: andisn)

NGAPAIN, kok ngajar wong kere (kenapa mengajar orang miskin, red). Enggak bergengsi, kalau ngajar di universitas kan bergengsi,” begitulah suatu kali Sri Rossyati (63) dan Sri Irianingsih (63) menerima cibiran ketika membuka Sekolah Darurat Kartini.

“Ada yang bilang, itu cuma cari sensasi, ya biar saja. Hubungan kami sama Tuhan, bukan sama mereka (yang mencibir,red),” ujar Sri Irianingsih saat saya berkunjung ke rumahnya, di kawasan Kelapa Gading, beberapa waktu lalu.

Kini sudah 23 tahun, Rosi-Rian, sapaan wanita kembar itu, mengajar anak-anak miskin di Jalan Lodan Jaya, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. “Saya memang senang mengajar,” ujar Rosi, yang lahir lima menit lebih awal dari Rian, pada 4 Februari 1950.

“Saya melihat guru, itu lebih mulia, karena dia memberikan ilmu untuk bisa meneruskan kehidupan. Membentuk karakter seseorang.”

Perjuangan yang terbilang langka. Di saat pendidikan mahal untuk anak-anak miskin, keduanya merelakan waktu, harta, dan ilmunya kepada anak-anak. “Kasihan mereka ada yang tak punya ibu dan bapak, kadang ikut neneknya,” ujar Rian.

Lelah tidak mengajari mereka? “Enggak, kalau capai ya nanti kerikan. Muridnya yang keriki,” ujar Rian tertawa. Mereka tak berpikir imbalan apa pun atas kerja kerasnya. Seluruh dana sekolah, ia keluarkan dari kantong sendiri. Mereka tak pernah meminta-minta kepada perusahaan, lembaga, atau orang untuk membiayai anak-anak.

Awalnya hanya mendirikan sekolah untuk tingkat TK dan SD. Sekolah ini terseok-seok karena masalah lahan. Ia sempat beberapa kali digusur, sampai akhirnya pada akhir tahun lalu, mereka mendapatkan hibah lahan, yang letaknya tak jauh dari tempat semula.

Lalu, sekolah berkembang sampai tingkat SMP, SMA, D-1, dan D-2. “Semuanya gratis,” kata Rosi. Khusus D-2, ia membuka untuk jurusan Penyiaran. Ini sebagai balas budi, katanya, karena keduanya dibesarkan oleh media massa.

Kerja kerasnya memberikan inspirasi. Ia diundang di acara seminar, perkuliahan, televisi untuk berbagi pengalaman, juga mengajar di sejumlah kampus. Beberapa kali mereka menerima penghargaan. Terakhir, 21 april lalu, keduanya menerima Indonesia Digital Women Award 2013 dari PT Telkom.

“Berbagi itu tidak hanya uang, tapi bisa tenaga dan ilmu, juga cinta kasih,” Rosi menceritakan awalnya mendirikan sekolah itu. Sebelum mendirikan sekolah di Jakarta, Rosi sudah di beberapa tempat mengajari anak-anak miskin.

Setelah menikah pada sekitar 1971, Rosi diajak suaminya Atmiral Marzuki, yang saat itu tugas negara sebagai dokter ke Pasir Belengkong, pedalaman Kalimantan Timur. Hal sama juga dialami Rian, yang diajak suaminya Feizal, seorang TNI Angkatan Laut yang bertugas di Nusa Tenggara Barat.

Karena tak ada kegiatan, Rosi pun memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya untuk berwirausaha bersama masyarakat setempat. “Karena di sana banyak udang, ya kita keringankan menjadi ebi dan lalu kita jual (barter),” ujarnya.

Sri Rossyati (kiri) dan Sri Irianingsih (kanan)

Rosi kemudian mulai mengajari mereka baca tulis. “Saya beli alat tulis dan buku-buku dari jual ebi,” katanya. Hal sama dilakukan Rian di Cakranegara, Mataram, NTB. “Kenapa anak-anak kecil tidak sekolah, saya kemudian mendirikan sekolah di bawah pohon.”

Selama delapan tahun, Rosi kemudian pindah lagi ke Semarang, Jawa Tengah. Di sisi lain, Rian pindah ke Surabaya. Lima tahun di Semarang, Rosi tak meninggalkan hobinya mengajar. Ia mendirikan sekolah keterampilan wanita kartini. Di sini ia mengajar menjahit, rias pengantin untuk anak-anak remaja putri, tanpa dipungut biaya. “Saya terinsiprasi dari Ibu Kartini,” ujar Rosi, lulusan pendidikan guru di IKIP Semarang itu pada 1984. Sementara Rian, mengambil jurusan psikologi.

Pada 1984, ia pindah ke Pemalang sampai 1990. Saat itu, atas jasanya mengajari anak-anak tak mampu itu, ia dianugerahi Upakarti oleh Presiden Soeharto. Di lain tempat, Rian juga mengajari perbengkelan bagi anak-anak pemulung di Surabaya sampai 1996.

Rosi lebih dulu ke Jakarta pada 1990 dan mulai membuka sekolah serupa di beberapa daerah kumuh, seperti Pasar Rebo dan Cilincing. “Kemudian saya minta Rian datang ke Jakarta untuk bergabung pada 1996,” kata Rosi.

Suatu kali pada 1996, keduanya berjalan-jalan sehabis mengajar. Ada tawuran di daerah Pademangan, dekat jalan tol. Menghindari tawuran, mereka masuk ke kolong jalan tol. Dari situlah, mereka baru melihat kenyataan para anak jalanan. “Banyak orang yang kulitnya kotor, tangan dan kukunya item-item. Enggak ada air bersih,” cerita Rian.

Mereka kemudian terbersit ide untuk membangun sekolah di situ. “Makanya, nama sekolahnya: Sekolah Darurat Kartini, karena memang kondisinya darurat saat itu,” ujarnya.

Beberapa hari membuka sekolah, ia didatangi sejumlah preman dari lima wilayah seperti Rawa Bebek, Tambora, Angke, Ancol, dan Pluit. “Saya dipanggil Ibu Megawati Kembar, enggak tahu kenapa saya dipanggil begitu,” cerita Rosi. “Mereka bawa parang, minta dibikinkan sekolah sama di lima wilayahnya,” ujarnya.

Keduanya pun tak keberatan saat itu. Ia mengajar selama dua jam per wilayah dalam sehari. “Saya klenger, cuma berdua,” kata Rian. “Tapi kami senang karena yang dididik saat itu cuma TK dan SD.”

Dari mana dana operasional sekolah? Rosi mengatakan, selama ini dana sekolah berasal dari uang warisan orangtua dan suaminya. Rosi sudah menjadi selama empat tahun, sedangkan Rian sudah selama 22 tahun.

“Uang warisan itu didepositokan dan bunganya diambil untuk orang miskin, itu pesan orangtua,” ujar Rosi. Maklum, keduanya berasal dari keluarga kaya. “Suami saya dokter spesialis kandungan. Kami punya rumah lebih dari 10 unit. Gaji dokter spesialis kan besar,” katanya tersenyum.

Tapi, “Orangtua selalu mengajari kami untuk selalu berbagai kepada orang lain.” Rosi tak mau menjelaskan jumlah uangnya, “Tapi cukuplah kalau untuk sebuan Rp20 juta.” Ada sumbangan dari orang lain? “Kalau ada ya silahkan. Prinsip kami tidak boleh mencari. Nanti kalau ketemu saya orang lari, ‘jangan dekat-dekat ibu kembar nanti ndak dimintain duit’,” kata Rian.

Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan sekolah, ada dari penjualan beberapa rumah yang dimiliki. Rian juga memiliki apartemen yang dikontrakkan, sehingga uang kontrakan tersebut bisa menambah dana operasional sekolah.

Rosi mengatakan, apa yang ia kerjakan bersama saudaranya adalah bentuk cinta kasih dan pengabdian kepada Tuhan. “Saya beryukur diberi kesempatan Allah berbagi bersama orang,” kata Rosi. Bagaimana jika miskin, saya mengajukan pertanyaan, “Saya tetap ngajar, sama saja. Kaya itu kan materi. Dengan ilmu kan bisa juga berbagi cinta kasih,” sahut Rian.

Di luar aktivitasnya mengajar, anak nomor 6 dan 7 dari sembilan bersaudara ini memiliki hobi yang unik. “Usai mengajar biasanya jalan-jalan. Seperti ke mal sampai malam,” kata Rian. Apa saja yang dilakukan di mal? “Pokoknya semua dibeli, bikin susuh manuk,” ujar Rosi setengah bercanda.

Pada ulang tahun kemarin, mereka jalan-jalan ke Hong Kong. “Berdua saja,” katanya. “Ngapain ke sana?” tanya saya, “Ya ngabisin duit,” ujar mereka bercanda. Sebelumnya, pada tahun baru 2013, mereka berkeliling Eropa ke Paris, Belanda, dan Jerman.

Sebagai wanita kembar, mereka memiliki kesamaan mulai dari sepatu, baju, topi, tas, dan lainnya. Setiap tampil di televisi, baju keduanya selalu baru. “Semua serba dua. Enggak ada yang beda. Rambut juga sama. Saya selalu dikepang dua dulu. Tapi sekarang rambut sudah tipis, jadi dikepang satu,” kata Rosi.

Keduanya juga memiliki tokoh idola yang selama ini menjadi inspirasi untuk mengabdi kepada kemanusiaan. “Saya suka sama Bunda Teresa,” kata Rosi, meski keduanya berasal dari keluarga muslim.

Mereka juga memiliki hobi yang masih digeluti yaitu berenang dan bersepeda sesekali. “Saya masih kuat 20 kali loh,” kata Rosi diamini Rian.

Rosi dan Rian selalu menanamkan ajaran budi pekerti dan agama kepada anak-anaknya. Menurutnya, agama itu penting sebagai pembentuk sebuah karakater. “Dunia ini, ciptaan Tuhan yang luar biasa. Dan kita wajib bersyukur, sudah di berikan kehidupan. Kelak kita akan mati dan meninggalkan kebaikan, itu yang diwariskan ke anak-anak,” ujar Rian.

One thought on ““Bunda Teresa” dari Kelapa Gading

  1. Saat belajar pun, orang tua yang datang mengantar bisa ikut bergabung di dalam kelas. Tentu ini tidak akan ditemui di sekolah umum. ”Saat puasa sekolah masuknya siang, pulangnya sore. Kalau pagi masa kasih makan pagi. Kita gak ngajarin anak-anak puasa dong. Apalagi, sekarang ini mereka sedang belajar agama Islam,” ujar Rian, sapaan Sri Irianingsih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s