Pono Banoe dan Buku Babon Musik

P1020059
Pono Banoe dan Kamus Umum Musik setebal 1.200-an halaman. (foto: andisn)

DI TOKO-toko buku, kebanyakan yang terlihat adalah buku tutorial bermain alat musik. Sedikit buku panduan tentang pendidikan musik. Di sekolah-sekolah, guru musik juga sedikit sekali. Hal itu dirasakan betul oleh Prof. Dr. Pono Banoe, MA. DMusEd. “Cari guru musik itu susah sekali, terakhir saya seminar di Palangkaraya (Kalimantan Tengah) dari 187 orang, yang ngaku bisa cuma enam orang,” kata Pono. “Pendidikan musik di kita dinomorsekiankan.”

Keresahan itulah yang kemudian membuat Pono serius mendalami dunia musik. “Saya ini mimpinya banyak dari saya enggak bisa musik terus sekolah musik. Lantas saya jadi guru,” ujarnya kepada saya pekan lalu di Jakarta.

Cita-citanya terwujud pada 2005, ia mendirikan Music Education College Suling Bambu bagi guru, mahasiswa, artis, atau musisi yang ingin mendalami musik. Ia mendapat restu dari Kementerian Pendidikan, dengan kurikulum mandiri buatannya.

“Ini wajah saya, ilmu yang saya tawarkan untuk belajar ilmu musik sekolah,” kata Pono sambil menunjukkan sejumlah judul buku karyanya. Ia telah menulis sebanyak 65 buku musik. Buku-buku tersebut banyak dicari para guru untuk dijadikan acuan dalam belajar musik di sekolah.

Salah satu karya yang paling banyak dicari adalah Kamus Musik (Kanisius: 2003). Saat itu, ia diminta untuk memakai nama samaran, tapi ditolaknya. “Ada apa ini. Saya enggak tahu, saya enggak tanya lagi. Lah, nama saya itu,” katanya. Buku tersebut merupakan lanjutan dari Kamus Istilah Musik (CV Baru: 1985). Sebelum itu, sudah beredar buku Kamus Musik Indonesia karya M Soeharto, terbitan Gramedia pada 1978 setebal 169 halaman. Tapi, milik Pono lebih lengkap dengan setebal 400-an halaman.

Ia sedikit kesal karena penerbit Kanisius tak pernah terbuka dengan angka penjualan. “Padahal ini banyak orang yang cari,” katanya. Royalti dari bukunya tak memuaskan. Dalam setahun ia hanya menerima tak lebih dari Rp1 juta dari harga buku Rp70.000. Makanya, kini penjualan buku tersebut disetop olehnya. Ia menarik sejumlah buku miliknya dan menjualnya sendiri. “Dan sisanya itu sekarang sudah habis saya jual,” ujar Sri Rahayu (54), istri Pono yang mendampingi.

Tepat di usia 75 tahun, ia menerbitkan kembali buku Kamus Umum Musik pada 2012. Kali ini, buku ini lebih tepat sebagai buku babon musik karena setebal 1.200-an halaman. Buku ini melengkapi buku kamus-kamus sebelumnya. “Ini semacam kado. Saya bikin 20 buku dibagi terbatas. Saya harapkan kamus ini lebih komprehensif,” ujarnya yang membanderol harga bukunya Rp210 ribu.

P1020058Sebagai guru, ia masih terus menulis dan terbiasa menulis selepas dini hari hingga pagi tiba. Menurut Sri Rahayu, suaminya bila sudah sibuk mengetik tidak bisa diganggu lagi. Pono biasa mengetik menggunakan mesin ketik, kemudian meminta kepada rental komputer untuk menyalin kembali. “Kalau diganggu nanti saya bisa menyusun ulang lagi,” kata Pono.

Untuk buku kamus terakhir, ia dibantu anaknya untuk mengetik di komputer. Kali ini, ia memilih untuk menerbitkan sendiri. Menurutnya, penerbit jarang mau menerbitkan buku-buku musik, yang dianggap tak laik jual. “Penerbit mikir-mikir. Padahal enggak gitu, (buku musik) masih laku kok,” katanya.

Untuk menyusun buku tersebut, ia mendapatkan sumber dari mana saja. Entah saat mengajar, menonton televisi, membaca koran, dan lain-lain. “Dari koran saya himpun, saya ketik. Saya punya kertas berlemba-lembar…,” ujarnya.

Mengapa ingin menulis buku musik? Pono mengatakan, “Saya ini guru. Kalau ngajar ya harus berani tanggung jawab. Patokannya apa, ya ini (buku).”

Pria kelahiran Jakarta 31 Desember 1937, awalnya tak boleh bermain musik oleh orang tuanya. “Orang tua itu sebel kalau saya belajar musik. Orang tua melihat musik itu enggak bisa jadi uang,” katanya.

Pono berkarier dari Angkatan Darat yaitu Dinas Pengendalian Karier Direktorat Ajudan Jenderal Angkatan Darat. Pangkat terakhirnya adalah Letnan Dua. Dari situ, ia disekolahkan ke Sekolah Musik Indonesia (SMIND/AMI) di Yogyakarta selama lima tahun dan pernah ikut pertukaran pelajar ke Jerman (program Deustcher Akademische Austausche Dienst). Sebelum lulus, ia sudah diminta untuk mengajar para calon perwira.

Ia pernah membuat program acara apresiasi musik di Radio Republik Indonesia antara 1971-1973. Di antaranya, Musik Malam Hari, Musik Petang Hari, Opera dan Penjelasannya, dan Musik Klasik Malam Hari. Ia terkadang sebagai penyiar acaranya. Dari situ, ia juga diminta bergabung di Komisi Orkes Simphoni Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin.

Bersama orkes simphoni itu, ia suka bermain di Istana Negara ketika masa Presiden Soekarno, menjamu tamu-tamu negara. “Di mata Soekarno keroncong itu baik sekali, beda sama musik ngak ngik ngok,” katanya. Tapi, orkes simphoni RRI mati suri ketika era Presiden Soeharto.

Pada 1974, ia kemudian diminta menjadi pengurus Yayasan Musik Indonesia milik Yamaha dan sebagai Chief Instructor Children Music, Drums & Lightmusic Course Yamaha. Ia merasakan pendidikan musik Yamaha di Jepang. Tahun-tahun itu, ia pernah membimbing grup musik Erwin Gutawa dkk, yang masih usia remaja.

P1020047

Keluar dari YMI, ia menjadi Direktur Pendidikan Yayasan Seni Musik Indonesia (YASMI). Meski ia aktif di beberapa yayasan, ia masih tercatat aktif di sekolah musik Angkatan Darat. Ia memang lebih banyak mendidik anak-anak TK dan SD dalam bermain musik. Ia adalah penggagas Festival Drummer di Jakarta pada 1974 dan 1980-an. Pemenang saat itu adalah muridnya seperti Cendy Luntungan (musisi Jazz/drummer) dan Ekki Soekarno.

Pada 1980, ia juga menjadi pelatih Marching Band Pesantren Daar el Qolam Gintung, Balaraja, Tangerang. Ini adalah ponpes tempat (alm) Ustaz Jefri Al Buchori menimba ilmu agama. Masa itu, ia juga ikut menyusun kurikulum musik bagi pendidikan di luar sekolah untuk sejumlah lembaga pendidikan musik/kursus.

Pada 1986, ia mendirikan TK Suling Bambu tapi tidak berjalan lama. Masa itu, ia banyak menjadi konsultan musik juga narasumber di berbagai acara. Pada 1991, ia menjadi pengajar musik di bawah Pupuk Kaltim, Bontang, yang mengajar kepada kalangan guru yayasan dan karyawan perusahaan. Ia menerapkan metode kursus dasar musik anak-anak (Kudama) atau metode Tikitiki. Metode ini disebarkan ke seluruh Indonesia melalui seminar Guru Musik. Ia pun terkenal dengan julukan Pak Tikitiki.

Pada 1995, ia menjadi konsultan musik di Sekolah Pelita Harapan (SPH) Karawaci, Tangerang. Ia mengajar anak TK dan SD dan guru musik. Kariernya pun melonjak, pada 2000, ia ditarik menjadi dosen di Universitas Pelita Harapan (UPH). Di sinilah ia mendapatkan gelar Master of Arts dari Universal Institute of Professional Management (UIPM) dan menjadi guru besar di situ. Ia juga menerima Doctor of Music dari The International University, Missouri, AS. Pada 2005, ia kemudian dianugerahi Doctor Honoris Causa oleh University Network & Research di Singapura.

Ia pernah diminta untuk mengajar di Brunei Darussalam pada 2010, tapi ia memilih untuk tinggal di Jakarta. Di sini masih ada murid,” kata Pono yang tinggal di Jalan Tego Sawa Lama, RT 002/04 Ciputat, Tangerang Selatan

Tak banyak sosok seperti Pono Banoe. Dalam twitter-nya pekan lalu, musisi Addie MS (@addiems) pun terang-terangan mengagumi sosok Pono Banoe. “Kagum pada beliau,” katanya menjawab twit saya. Ia-lah yang pertama kali mengunggah foto Pono dan kamus babon itu ke twitter.

Di Indonesia ini banyak orang mahir bermain alat musik, tapi sangat jarang musisi-musisi yang menulis buku musik. Musik diminati lebih dalam bentuk industri dibandingkan warisan pendidikan bermusik.

5 thoughts on “Pono Banoe dan Buku Babon Musik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s