Bangku-bangku di Trotoar Jakarta

Para pejalan kaki melewati bangku di trotoar Monas di saat gerimis turun (foto: andisn)

SIANG itu, Kamis (4/7/2013), langit Jakarta seperti kanvas gelap. Gerimis yang tak henti-hentinya turun sedari Subuh mulai reda. Mobil-mobil bergerak melambat. Jalanan pun menjadi macet.

Saya duduk di salah satu bangku di sekitar trotoar Monumen Nasional. Untungnya saya tepat di bawah rimbunan dedaunan, sehingga gerimis tak begitu terasa. Bangku-bangku itu berukuran 1,5 meter x 0,5 meter. Berbahan kayu jati dengan penyangga besi cor, bercat putih dan berukir.

Ratusan bangku diboyong Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ke Jakarta. Bangku-bangku taman itu dipasang sepanjang trotoar mulai Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat hingga Jalan Jenderal Sudirman, depan Bundaran Senayan, Jakarta Selatan.

Jokowi ingin mempercantik “kota baru”-nya, yang berulang tahun ke-486 pada 22 Juni lalu. Sepekan sebelum perayaan dirgahayu, bangku-bangku tiba di Balaikota, yang dikirim dari Klaten, Jawa Tengah.

Dinas Pertamanan dan Pemakaman (Distakam) DKI Jakarta mengatakan, sebanyak 354 buah bangku yang akan dipasang. Kini baru sebanyak 260 buah yang terpasang. “Ini masih menunggu kiriman lagi,” kata Mardiyono, staf dinas yang mengurusi pemasangan bangku saat berbincang dengan saya.

Jokowi mengatakan kepada pers, bahwa bangku-bangku itu, sumbangan dari seorang pengusaha furnitur asal Klaten sebagai bagian dari corporate social responsibility (CSR). Bila umumnya perusahaan-perusahaan lain ingin terlihat tampil karena program CSR, tapi Jokowi tak mau membuka nama perusahaan tersebut.

Di sejumlah media online, saya membaca bahwa Haji Salamun, pengusaha UD Buana Jaya, yang mengirimkan bangku itu. Tapi, Jokowi tak pernah mengklarifikasi hal ini.

Di situs penyedia jasa pembuatan furnitur, model serupa itu dibanderol dengan harga sekira Rp1 juta.

Tak berapa lama saat saya duduk, Suwardjiyo (56) menghampiri. Saban hari ia bertugas mengawasi kebersihan taman di sepanjang Jalan Medan Merdeka Barat. Jika ada yang kurang rapi, ia akan memotretnya, cukup dengan kamera handphone kemudian dilaporkan kepada atasannya di Distakam. “Saya cuma honorer, mas,” kata Suwardjiyo yang sebelumnya bekerja sebagai sopir.

P1030462

Suwardjiyo baru enam bulan bekerja di sana. Ia merasa senang ada bangku-bangku di sekitar trotoar Monas. Ia mengatakan, setiap akhir pekan selalu ramai pengunjung yang berjalan kaki, sehingga bangku-bangku itu bisa dipakai untuk melepas lelah.

“Enaklah, jadi bisa duduk di sini sambil lihat taman. Kalau jalan terus kan capek,” kata warga Kelurahan Kalianyar, Tambora, Jakarta Barat ini.

Di sudut lain, tiga perempuan sedang asyik berfoto di salah satu bangku lain. Mereka adalah Firda (19), Evi (20), dan Ida (18), yang berkunjung ke Monas, memanfaatkan masa libur setelah ujian akhir semester di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka.

Firda mengatakan, cukup senang dengan adanya bangku-bangku itu karena bisa dipakai bagi para pejalan kaki untuk melepas lelah. “Monas ini kan luas, halte juga jauh, (bangku) ini meringankan untuk yang jalan-jalan, apalagi kalau lagi cuaca panas,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat ikut merawat bangku-bangku itu agar tidak cepat rusak. “Ini kan tempat umum, jadi ada saja orang iseng,” kata Firda.

Untuk menghindari adanya pencurian, bangku-bangku tersebut dipasang dengan baut di empat sudutnya. Setiap malam, dinas juga melakukan pengawasan keliling beberapa jam.

“Kita keliling. Kalau ada yang tiduran di bangku kita minta jangan tidur di situ,” kata Kepala Seksi Keamanan Distakam, Salim. Ia mengatakan sejauh ini keberadaan bangku-bangku tidak ada yang rusak atau hilang.

Program mempercantik trotoar sudah digagas sejak era Gubernur Jakarta Fauzi Bowo. Di sejumlah wilayah seperti Jalan Cikini, Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, dan Jalan Agus Salim atau kawasan Sabang, trotoar diperbaiki dan dilengkapi dengan tempat sampah dan tanaman. Era Fauzi Bowo, kawasan Harmoni juga digadang-gadang untuk menyaingi Orchard Road di Singapura, dengan melarang parkir pinggir jalan.

“Sebelum Pak Jokowi, (bangku) itu sudah saya bikin, seperti di depan kantor berita Antara,” kata Chatarina Suryowati, mantan Kepala Disatakam DKI Jakarta. Ia memasang bangku berbahan stainless steel.

Sebelum pensiun beberapa bulan lalu, ia sudah mengusulkan idenya itu kepada Jokowi. Untuk mempercantik trotoar di kawasan pusat kota, ia juga sudah berkonsultasi kepada pakar tata ruang. Gubernur pun sepaham dengan gagasan itu. Tapi, Jokowi memilih bangku model lain.

Gagasan Jokowi ini mirip sekali dengan yang pernah dia lakukan ketika menjabat sebagai Wali Kota Solo. Di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, jalan protokol yang membelah kota Solo menjadi utara dan selatan, Jokowi memasang bangku serupa dan melengkapi dengan titik Wi-Fi, bagi warga yang ingin berselancar internet.

Menjelang sore, saya berpamitan kepada Suwardjiyo yang menemani duduk dan bercerita. Langit makin gelap dan gerimis kembali mengguyur agak deras. Bangku-bangku cantik itu menjadi basah tanpa penghuni, meski trotoar mulai ramai pejalan kaki. Mereka sepertinya enggan untuk berhenti sejenak, sekadar melepas lelah sore itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s