Derita Rohingya Mengejar Suaka ke Negeri Kanguru

P1030561
Para pengungsi etnis Rohingya tampak duduk dan tiduran beralas karpet di kantor YLBHI, Selasa (18/7). Anak-anak tampak asyik mewarnai gambar.

LIMA bocah tengah asyik bermain. Seorang yang lebih kecil, seumur lima tahun, mondar-mandir menarik kardus dengan tali rafia- barangkali dipikirnya itu mobil-mobilan. Di sudut lain, seorang bayi sedang tertidur.

Beberapa perempuan hanya duduk-duduk mengobrol dalam bahasa yang tak saya mengerti. Satu keluarga yang berjumlah 18 orang itu merupakan pengungsi etnis Rohingya. Beralas karpet tipis, mereka tinggal sementara di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.

Mohammad Hanif (38), laki-laki yang dituakan dalam keluarga itu gelisah: kapan ia bisa membawa keluarganya sampai ke Australia. Di Malaysia, ia terus mengontak Komisi Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) Malaysia, untuk mendapatkan suaka politik.

Bersama keluarga besarnya (ibu, istri, adik, dan ipar, serta anak-anak), Hanif menjadi pelarian etnis Rohingya di Malaysia.

Tiga dekade lebih mereka menetap di Malaysia sebelum akhirnya sampai di Jakarta, beberapa waktu lalu. Cuma refugee (surat perlindungan pengungsi) dari UNHCR, yang membuat mereka aman dan tak dianggap imigran ilegal.

Sebelum masuk ke Malaysia, mereka sempat hidup beberapa lama di Thailand. Sejak umur tiga tahun, Hanif meninggalkan daerah asalnya di Arakan, Myanmar karena konflik horisontal antara etnis Rohingya muslim dan etnis Rakhine, yang mayoritas penganut Buddha.

Wilayah Arakan saat ini berganti nama Rakhine, yang terletak di pantai barat Myanmar dan berbatasan dengan Negara China di bagian utara. Sejak konflik pecah, terjadi eksodus besar-besaran etnis Rohingya ke beberapa negara kawasan Asia Tengara, termasuk Indonesia. Sebagian mereka ingin mencari suaka politik ke Australia.

Hanif tak begitu paham bagaimana awal konflik itu terjadi. Saudara atau tetangganya mengalami nasib tragis di tanah kelahirannya. Pertumpahan darah tak terelakkan, padahal sesama tetangga. Ia mengetahui hal itu karena masih sering mengontak teman atau tetangganya di Myanmar. “Saya kontak lewat telpun dengan teman atau tetangga di sana. Katanya yang diserang daerah sini, besoknya daerah lainnya,” katanya.

Ia juga tak mengerti apakah persoalan ini berkaitan dengan sentimen agama sehingga mereka dimusuhi. Setahu dia, Pemerintah Myanmar tak pernah mengakui kewarganegaraan etnisnya. Maka, banyak saudaranya yang melarikan diri ke Australia. “Ada dua saudara saya di sana,” kata Hanif .

Selama enam tahun ia menunggu kejelasan dari UNHCR Malaysia: kapan bisa pergi ke Negeri Kanguru karena sudah banyak teman yang diberangkatkan.

Di tengah kegelisahan itu, ia memutuskan untuk membawa keluarganya ke Australia melalui Indonesia. Ia pun menyeberang ke Medan, Sumatera Utara, setelah satu hari satu malam naik kapal dari Kuala Selangor. Menghadapi urusan imigrasi, pintar-pintarnya dia mengelabui petugas.

Sesampainya di Medan, rombongan bertemu dengan seseorang, yang menawarkan jasa ke Australia. Laki-laki yang tak pernah diketahui namanya oleh Hanif itu meminta uang perjalanan sebesar MYR 5.000 per orang atau sekitar Rp280 juta secara keseluruhan. “Tapi saya tak ada uang sebanyak itu, tapi adanya MYR 42.000. Itu jatuhnya MYR 3.000 per orang dewasa dan sisanya MYR 9.000 untuk anak-anak,” kata Hanif yang tak bisa menulis, tapi masih bisa membaca sedikit-sedikit.

Hanif bercerita dengan bahasa campuran, terkadang menyelipkan kata-kata Inggris, meski dia mengaku tak bisa berbahasa Inggris.

Setelah itu rombongan dibawa lagi ke Jakarta menggunakan mobil selama tiga hari tiga malam dan akhirnya mencapai Bogor, Jawa Barat.

“Dia bilang siap-siap untuk ke Australia daripada Bogor ini,” Hanif menirukan orang tersebut. Ia pun dibawa lagi ke tepi pantai untuk naik kapal, tapi rencana itu tidak jadi. Lalu dibawa lagi ke daerah dekat Bandara Soekarno Hatta dan disekap dalam sebuah gedung.

“Di sini dia meminta tambahan uang lagi tapi tak sebut berapa,” kata Hanif. “Tapi kami bilang tidak ada uang.”

Laki-laki itu pun kesal. “Lalu adik ipar saya, Mohammad Qossim dan Nur Mohammad kena pukul di tepi mata, ini baru sembuh dia,” katanya. Ada delapan orang yang memukulinya.

“Ibu saya menangis, anak-anak menangis, adik perempuan saya dan istri saya menangis. Hanya meminta pertolongan Allah SWT saja waktu itu,” ujar Hanif .

Mereka kemudian diperiksa tas-tas bawaannya dan diambil beberapa perhiasannya.

Untungnya, ada seseorang yang melihat kejadian pemukulan itu. Pada malam harinya, ia pun dibantu dan dikeluarkan dari gedung tersebut.

“Ia pecahkan kunci gedung itu. Kami kemudian naik mobil beliau dan mengantarkan kami ke UNHCR di Kebon Sirih (Jakarta). Kami tidak dimintai bayaran,” katanya.

Lagi-lagi, ia tak pernah menanyakan nama orang yang menolongnya itu. Selepas sampai di situ, Hanif dan keluarga pun mendapatkan status refugee dari UNHCR perwakilan Jakarta. Tapi, UNHCR tak bisa memberikan bantuan penginapan.

Ia tak tahu harus menginap di mana. Kemudian ia diantar ke Masjid Sunda Kelapa. Selama dua hari, mereka tinggal di masjid, tapi kemudian diminta pindah oleh takmir masjid karena di bulan Ramadhan akan banyak kegiatan jamaah.

Akhirnya, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menampungnya sejak 5 Juli lalu. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mereka mendapatkan bantuan dari YLBHI, Aksi Cepat Tanggap, Dompet Dhuafa, dan orang-orang dermawan.

Wakil Direktur YLBHI Gatot Rianto mengatakan, pihaknya akan terus mendampingi proses suaka politik para pengungsi. Proses tersebut, katanya, bakal memakan waktu cukup panjang. “Mereka (UNHCR) tidak memberikan kepastian waktu. Tapi, selama sepekan ini kami akan meminta kepastian kepada UNHCR,” kata Gatot.

Gatot bersyukur setidaknya mereka sudah mendapatkan surat dari UNHCR, sehingga memiliki kepastian status sebagai pengungsi di Indonesia. “Jika tidak, mereka bisa dianggap imigran ilegal oleh bagian Imigrasi,” kata Gatot

Ia meminta kepada Pemerintah Indonesia agar memperhatikan para pengungsi tidak hanya etnis Rohingya, tapi suku bangsa lain yang ada di beberapa daerah di Indonesia. Ia khawatir para pengungsi ini bisa dimanfaatkan dalam sindikat perdagangan orang.

Di akhir perbincangan saya, Hanif beharap UNCHR membantu kepastian suaka politik secepatnya. Ia mengucapkan terimakasih kepada sejumlah dermawan yang telah membantunya selama tinggal di Indonesia. “Kami tidak bisa membalas budi. Tolong doa keluarga saya supaya jaya,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s