Secarik Cerita Pesona di Pulau Seribu

Pantai di sepanjang Pulau Untung Jawa (www.whatzups.net)

 

Kepulauan Seribu tidak lagi 1000

6 hilang pada 1994 kata menteri

dan lebih banyak pada 2020 dan 2040

[Petikan puisi Pemain Kambing Hitam, dalam Puisi-Puisi Remy Sylado Kerygma dan Martyria (Gramedia: 2004)]

KAPAL-kapal cepat mewah bersandar di dermaga Marina Ancol, Jakarta Utara. Mereka menunggu para pelancong yang akan berwisata ke Kepulauan Seribu. Tarif sewanya mahal memang untuk satu kapal, yang bisa mencapai Rp6-10 juta, bergantung ke mana tujuan kita.

Saya beruntung pernah sekali Oktober tahun lalu menaiki salah satu kapal yang akan mengantar kami ke Pulau Untung Jawa. Perjalanan lebih cepat sekitar 60 menit, dibandingkan dengan kapal biasa dari Pelabuhan Muara Angke, yang bisa 1,5-2 jam dan berbiaya murah sekitar Rp10 ribu-50 ribu.

Pulau Untung Jawa, salah satu pulau di wilayah Kepulauan Seribu, yang memesonakan pesisir pantainya. Anda bisa bermalam di penginapan atau homestay berkisar Rp150 – 350 ribu per malam. Hiburan dangdut bisa menjadi alternatif lain, ditambah sajian kuliner pantai.

Saya ke sana waktu itu dalam rangka penanaman pohon bakau bersama sejumlah aktivis lingkungan. Begitu tiba banyak orang berenang di pantai, bermain banana boat, sewa jetski, dan lain-lain. Cukup murah masuk ke pulau ini yaitu Rp3.000 per orang.

Pulau tersebut, seperti dikutip dari http://www.jakarta.go.id, memiliki luas sekitar 40 hektar dengan penduduk sekitar 1.888 jiwa. Pulau ini dekat dengan Teluk Jakarta – dapat dijangkau melalui dermaga Muara Angke, Tanjung Pasir, atau Rawa Saban – sehingga banyak kapal yang singgah atau khusus hanya melayani rute ke pulau ini.

Pantai di Pulau Pari (paketwisatapulaupari.net)

Tak jauh dari sana berdekatan dengan Pulau Rambut di sebelah baratnya. Di sini Anda bisa menjumpai konservasi burung-burung yang indah serta wisata sejarah peninggalan kolonial Belanda.

“Pulau Rambut juga dikenal dengan nama Pulau Kerajaan Burung atau Heaven of Birds alias ‘surga burung’,” tulis Wieke Dwiharti dan Ade Mulyani dalam Jakarta: Panduan Wisata Tanpa Mal (Gramedia: 2011).

Luas pulau ini sekitar 45 hektar diselimuti hutan bakau yang rimbun serta terumbu karang yang menawan. “Orang Belanda menyebut pulau ini dengan nama Nidelberg. Oleh karena itu, Pulau Rambut menjadi tempat tujuan burung-burung yang diperkirakan datang dari Australia,” tulisnya.

Menurut Balai Konservasi Sumber Dalam DKI Jakarta dalam situsnya, pada musim berbiak jumlah burung mencapai 24.000 spesies dan musim biasa sekitar 4.500 spesies.

Di sana juga sebagai kawasan suaka alam habitat mangrove dan habitat burung, khususnya burung-burung merandai dan beberapa burung migran seperti bluwok (Mycteria Cinerea) dan cakalang/angin-angin (Fregata ariel). Suaka Margasatwa ini dikategorikan ke dalam ekosistem lahan basah (wetland), yang dideklarasikan sebagai ramsar site yang ke-1.987 di dunia. Ramsar Site merupakan kawasan pelestarian dan berfungsi lahan basah di dunia.

**

peta pulau seribu (pulauseribupulau.com)

MESKI disebut seribu, bukan berarti jumlah pulaunya benar-benar seribu. Akan tetapi, gugusan kepulauan itu yang terlihat begitu banyak, padahal jumlahnya sekitar 342 pulau, termasuk sejumlah pulau pasir dan terumbu karang.

Dalam wikipedia, Kepulauan Seribu yang berada di Laut Jawa, terdiri atas pulau-pulau karang sekitar 105 buah dan memiliki luas daratan sekira 8,7 kilometer persegi.

Pulau berpenduduk 21.071 jiwa pada 2010, terbagi dalam dua kecamatan yaitu utara (al. Pulau Kelapa, Pulau Harapan, Pulau Panggang) dan selatan (al. Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa).

Penduduknya tersebar di Pulau Kelapa, Kelapa Dua, Panggang, Harapan , Pramuka, Tidung, Besar, Payung Besar, Pari, Untung Jawa, Lancong Besar dan Sebira. Mayoritas mereka tinggal di Pulau Kelapa, Pramuka, dan Karya. Kebanyakan beragama Islam dan umumnya berasal dari suku Betawi, Bugis, Banten dan Madura.

Kepulauan Seribu ditetapkan menjadi Taman Nasional Laut dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 162/Kpts-II/1995 dan No. 6310/Kpts-II/2002 yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Departemen Kehutanan. Pulau-pulau yang terdapat di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu merupakan tempat ideal untuk snorkeling, berenang, atau menyelam.

**

PADA 2010, tercatat pengunjung Pulau Seribu sebanyak 247.876 orang, di antaranya sebanyak 6.852 wisatawan asing. Pada 2011, sebanyak 558.908 orang, diantaranya 4.293 orang asing, demikian seperti dikutip poskota.co.id, 4 Januari 2012.

Ternyata, minat wisatawan cukup besar ke Pulau Seribu. Kondisi ini yang ke depan terus dikembangkan oleh Pemprov DKI Jakarta untuk menjadikan Kepulauan Seribu sebaga aset wisata.

Pulau Pari, misalnya, menawarkan keasrian alam mulai dari biota laut, tanaman bakau, budidaya rumput laut, dan pemandangan pantainya. Tempat ini juga diminati para peneliti bahari.

Menyelam adalah kegiatan yang menyenangkan untuk melihat keindahan terumbu karang. Di sini kita juga bisa melihat sunrise di dermaga Bukit Matahari. Obyek andalan lain di antaranya, Pantai Perawan dan Pantai Pasir Kresek.

Dalam artikel Yuk, Berkunjung ke Pulau Pari (Kompas.com, 26 Maret 2013) dikatakan, selain pemandangan pantai berpasir putih dan air bening, pengunjung Pulau Pari ditawari paket keliling perkampungan dengan sepeda, menyelam di perairan dangkal (snorkeling), serta menjelajah perairan tepi dengan sampan atau kapal cepat. Seluruh paket wisata diselenggarakan oleh masyarakat sebagai penyedia jasa, mulai dari jasa penyewaan alat, pemandu, dan penginapan.

Pengelola mematok tarif masuk ke pantai Rp 2.000 per orang. Sementara itu, tarif sewa sepeda Rp 20.000 per hari, peralatan menyelam Rp 35.000 per orang, banana boat Rp 35.000 per orang, dan sewa perahu Rp 400.000 untuk 10 orang. Angka ini tak jauh berbeda dengan tarif beberapa penyedia jasa di Pulau Pramuka.

Pulau Onrusts (encrypted-tbn1.gstatic.com)

Kepopuleran Pulau Seribu sudah sejak VOC Belanda. Misalnya, nama Pulau Onrust (Pulau Kapal) itu berasal dari bahasa Belanda berarti tidak tenang, atau rusuh. Ini dikarenakan, tulis wikipedia, pada masanya pulau tersebut selalu terlihat sibuk siang dan malam ada saja pekerja yang beraktivitas. Sehingga sebagian penduduk wilayahnya seperti Pulau Ubi Besar dan Pulau Untung Jawa menyebutnya sebagai Pulau Sibuk. Luasnya hanya 12 Ha, namun menyimpan cerita sejarah panjang.

Pulau Onrust sudah terkenal sejak tahun 1618, ketika Belanda menjadikannya sebagai basis penting. Menurut catatan nakhoda kapal Endeavor, Kapten James T. Cook yang singgah di Onrust tahun 1770, di pulau ini terdapat tempat penggergajian kayu serta benteng pertahanan Belanda. Tentara Inggris pernah menyerbu pulau ini pada tanggal 8 November 1800 dan membakar habis semua bangunan.

Tahun 1803, Belanda berhasil membangun kembali semua yang di porak-porandakan Inggris. Pada tahun 1810, tentara Inggris kembali menyerang pulau ini dan memusnahkan semua bangunan Belanda. Namun Belanda membangunnya kembali bahkan lebih lengkap dengan sebuah pelabuhan yang terbuat dari beton. Pulau ini lalu semakin penting sebagai pelabuhan yang ramai.

Peranannya sebagai pelabuhan mulai surut ketika tahun 1883 Pelabuhan Tanjung Priok menggantikan fungsinya. Kemudian, pada tahun 1911, Pulau Onrust beralih fungsi sebagai penjara dan pos karantina penyakit lepra.

Ketika pecah perang antara Jerman dan Belanda tahun 1939, pulau ini dipakai Belanda sebagai tempat pembuangan tawanan. Kini, Pulau Onrust, juga Pulau Cipir, Pulau Bidadari, Pulau Kelor dan Pulau Edam, oleh Pemerintah Indonesia dijadikan sebagai daerah Suaka Taman Purbakala Kepulauan Seribu. Tentu berkunjung ke sana tak hanya soal alam yang bakal kita nikmati, tapi berziarah tentang masa lalu Jakarta.

cottage apung di Pulau Ayer (jakarta.panduanwisata.com)

Lainnya, adalah Pulau Ayer. Ia dijuluki sebagai Mutiara Kepulauan, dengan seluas sekira 10 Ha, berjarak 14 km dari Pantai Marina Ancol dan dapat dicapai dalam waktu 30 menit saja dengan kapal motor. Wikipedia menyebutkan, pulau ini mulai dikunjungi sejak 1950, bahkan semasa hidupnya, Presiden Soekarno menjadikan Pulau Ayer ini sebagai tempat peristirahatannya. Bung Karno pernah mengajak Presiden Tito dari Yugoslavia dan Sekretaris Jenderal PBB U Nu berkunjung ke pulau ini.

Di pulau ini kita akan menjumpai cottage apung di atas air dengan gaya etnik Papua. Di pulau ini juga tersedia cottage yang terletak di pantai, fasilitas memancing di waktu malam, jet ski dan banana boat. Pulau ini merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang mempunyai sumber air tawar.

Tak kalah indahnya adalah Pulau Pelangi, apalagi saat sunset. Pulau Pelangi termasuk satu gugusan dengan Pulau Puteri, Pulau Petondan, Pulau Sepa dan Pulau Melinjo. Jarak pulau ini dari Pantai Marina, Ancol sekitar 108 km.

Di pulau ini tersedia pondok wisata juga beberapa restoran yang terletak di daratan maupun yang terapung. Pulau Pelangi ini merupakan tempat kegemaran para wisatawan dari Jepang. Pasangan pengantin baru dari Jepang biasanya memilih pulau ini sebagai tempat bulan madu mereka. “Bahkan, perusahaan penerbangan Jepang – Japan Airlines (JAL), mengatur paket liburan tersendiri ke Pulau Pelangi ini,” tulis wikipedia.

Dalam situs pelangiisland.com, pulau ini dikelola wisata pada 1990, sebagai salah satu wisata pulau pribadi. “(Ini) tempat yang sempurna bagi mereka yang mencari relaksasi dan pergi dari rutinitas sehari-hari,” tulis situs tersebut. Ciri pulau ini adalah berkonsep tradisional bergaya 90-an dengan beberapa bungalow di tengah alam yang rimbun dan sejuk.

Pulau ini memiliki 25 bungalow tipe tulip, 29 bungalow tipe bougenville, dan bungalow eksklusif yang dilengkapi penyejuk udara, dua tempat tidur, tempat pemandian panas dll. “Pulau Pelangi juga dilengkapi dengan rumah makan terapung, toko selam yang menyediakan peralatan diving, snorkeling, banana boat, kano, memancing, lapangan tenis, klinik, dan rekreasi lainnya,” tulis situs pulaupelangi.com.

Pulau Bidadari (duniaoutbound.com)

Tak kalah menarik juga di Pulau Bidadari. Sebelum bernama Pulau Bidadari, pulau ini memiliki dua nama yaitu Pulau Sakit dan Pulau Purmerend. Lokasinya dekat dengan Pantai Marina, dengan jarak tempuh 1,5 jam dengan kapal cepat.

Sepanjang perjalanan menuju ke sana, kita disuguhkan dengan Pulau Cipir (Pulau Kahyangan), Onrus, dan Kelor, yang memiliki nilai sejarah. “Pada abad ke-17, sebagai penunjang aktivitas Pulau Onrust, di Pulau Bidadari ini dibangun Rumah Sakit Lepra (1679) yang merupakan pindahan dari Muara Angke,” tulis Wieke Dwiharti dan Ade Mulyani dalam Jakarta: Panduan Wisata Tanpa Mall.

**

PERSOALAN wisata tak jauh dari ketersedian fasilitas inap, transportasi, hiburan, dan merchandise. Biasanya itulah yang menarik wisatawan berkunjung.

Salah seorang teman saya, Dea Chadiza, memuji keindahan Pulau Seribu. Ia sudah ke Pulau Tidur, Kelor, dan Onrust. “Ke sana asyik banget,” kata perempuan lajang yang berprofesi sebagai wartawan Kontan ini.

Saat snorkeling, katanya, bisa menikmati keindahan bawah laut. Meski hanya di Pulau Seribu, rasa bangganya tak terlukiskan. Ia mengatakan wisata bawah laut di Pulau Seribu potensial untuk liburan, yang tidak memakan waktu lama.

Dermaga di Pulau Pelangi (travelpulauseribupelangi.files.wordpress.com)

“Bayangin, cukup 3-5 jam bisa jelajah banyak pulau, juga ada nilai historis di Pulau Onrust,” tuturnya. Di sini, katanya, bisa dijadikan wisata sekaligus edukasi bagi anak-anak sekolah.

Sayangnya, ia prihatin dengan kondisi rata-rata pulau yang masih kotor dengan serakan sampah. “Dari perjalanan Onrust, Kelor, dan Cipir, banyak sampah yang berserakan di laut,” lanjutnya.

Meski begitu, Dea memuji keindahan Pulau Seribu. Banyak kisah yang bisa dibagikan dari alamnya.

Itulah cerita saya tentang keindahan pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Tak cukup memang untuk mengisahkan cerita keindahannya. Ia menyimpan seribu kisah untuk kita.

Jika boleh saya gambarkan, keindahan pulau-pulau di sana, seperti gambaran salah satu puisi karya M. Husseyn Umar, “Song of The Islands” dalam Kota Matahari, Tiga Kumpulan Sajak (Grasindo: 2006). Puisi itu dibuat Umar ketika berada di Hawaii, Amerika Serikat. Berikut saya kutipkan beberapa bait:

Pantai-pantai terindah di dunia

seperti terhimpun di sini

permadani pasir puti resik

dan laut biru ungu

di kejauah garis-garis ombak memutih

berkejaran dengan pantulan matahari terik

Sepanjang hari dan malam

orang-orang berbagai penjuru

seperti mencari sesuatu untuk melepaskan

keresahan dan keasingan

di celah-celah dunia yang lelah dan resah

di antara kerinduan, kecintaan

pada langit dan pantai yang indah

Dan semoga, petikan puisi Remy Sylado tadi di atas bisa mengingatkan kita akan pentingnya pelestarian Kepulauan Seribu. Tentunya Pemprov DKI Jakarta harus kerja ekstra agar objek wisata di Kepulauan Seribu tetap terjaga keelokannya.

vivalog

enjoy jakarta

andi

One thought on “Secarik Cerita Pesona di Pulau Seribu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s