Kondisi Lapas Kritis

sumber: nasional.news.viva.co.id

JUMLAH penghuni di lembaga pemasyarakatan (lapas) sudah over kuota. Kondisi ini hampir terjadi di kebanyakan lapas yang tersebar pada 33 kantor wilayah Kementerian Hukum dan HAM. Jika tidak segera tertangani akan rentan masalah, baik dari segi penghuni, petugas, maupun pengelolaan sarana dan prasarana lapas.

Minggu (1/9/2013), dua orang narapidana narkotika tewas di LP Cipinang Jakarta, karena masalah kesehatan. Pada Juli lalu kerusuhan juga terjadi di LP Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara, yang berujung pembakaran gedung. Masalah lapas sepertinya silih berganti terjadi di berbagai daerah.

“Memang kami akui rata-rata kondisi lapas sudah over capacity,” ujar Kepala Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Akbar Hadi, Kamis (5/9/2013).

Menurut dia, untuk mengurangi over kuot itu, sudah disiapkan beberapa terobosan. Ia mengatakan, tahun ini mulai pembangunan gedung secara bertahap. Pemberian remisi dilakukan kepada sejumlah tahanan, seperti tahanan anak dan lanjut usia (70 tahun ke atas). “Ini sebelumnya belum ada. Ini karena dalam rangka Hari Anak Nasional,” ujarnya.

Data Ditjen Pemasyarakatan per 5 September 2013, jumlah tahanan anak laki-laki sebanyak 1.788 orang dan perempuan sebanyak 61 orang. Untuk jumlah narapidana anak laki-aki sebanyak 3.245 orang dan perempuan sebanyak 57 orang. (Lihat Tabel).

Selain itu, langkah yang dilakukan adalah melalui pembebasan bersyarat. Proses pengurusan administrasi pembebasan bersyarat narapidana pun mulai dipermudah dan dipercepat melalui sistem online. Tapi, belum seluruh wilayah melakukan sistem online ini, karena baru Kanwil DKI Jakarta sebagai pilot project. Sampai 19 Agustus 2013 sudah sebanyak lapas yang mengajukan pembebasan bersyarat 19.812 orang. “Ini mempersingkat proses, karena selama ini dikirimkan via pos,” ujarnya.

Termasuk juga langkah pemindahan narapidana ke sejumlah lapas yang berpenghuni sedikit. Akbar mengatakan, saat ini juga ada usulan penambahan petugas lapas. Jumlah petugas sekarang sekitar 30 ribu orang dianggap belum ideal. Tuga mereka terbagi dalam pengamanan, pembinaan, dan perawatan. “Petugas pengamanan itu ada 12.552 orang. Ini satu banding 50, jadi satu petugas mengawasi 50 orang. Kami berharapnya satu banding lima orang,” katanya.

Dengan kelebihan kapasitas, otomatis berimbas pada penggunaan anggaran. Beban layanan juga bertambah, seperti pelayanan air, listrik, makanan/minuman, dan perawatan. “Di satu sisi, beban kerja selalu meningkat, anggaran selalu menurun,” katanya.

Sekretaris Jenderal Kementerian Hukum dan HAM Bambang Rantam Sariwanto mengatakan, akan segera membenahi kondisi lapas di seluruh Indonesia. Kementerian telah menyiapkan berbagai strategi, di antaranya pembenahan sarana dan prasarana, penambahan sumber daya manusia, anggaran, dan berkoordinasi dengna pihak lain, seperti Badan Narkotika Nasional (BNN). Menurut dia, khusus tahanan narkoba akan diarahkan ada rehabilitasi. “Ini sedang dibahas dengan BNN,” katanya.

Untuk pengelolaan lapas, pemerintah telah mengalokasikan pada 2013 sebesar Rp 2,6 triliun atau 37 persen dari total anggaran kementeriaan sebesar Rp 7,5 triliun. Pada 2014, kementerian akan mengajukan anggaran sebesar Rp 1 triliun khusus pembenahan dan antisipasi persoalan lapas.

Dosen Hukum Pidana Universitas Islam Indonesia Muzakir mengatakan, untuk mengatasi over kuota penjara, justru bukan dengan memperbanyak jumlah ruangan. Dikarenakan, jumlah orang di penjara bakal makin banyak di masa mendatang.

Maka, perlu antisipasi sejak awal. Menurut dia, semua kejahatan pidana yang terjadi, jangan diarahkan pada hukuman penjara. Ia mengatakan, misalnya, pada pidana ringan bisa menerapkan hukuman denda. ”Ini bisa memberikan efek sama (dengan hukuman penjara) dan keadilan tetap bisa tercapai,” katanya.

Ia mengatakan, perlu adanya evaluasi kembali terhadap PP Nomor 99/2012 terkait dengan pemberian remisi. “Jika tidak ada remisi akan membuat over capacity. Akan menambah gedung, dan sebagainya,” katanya. Di sisi lain, pemerintah juga perlu mempertimbangkan aspek setelah keluar dari penjara. “Apakah bekas narapidana yang keluar, berubah menjadi manusia yang baik di masyarakat. Jika tidak tetapk melahirkan kejahatan kembali,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s