Menjemput Asa Industri Dirgantara

sumber: http://www.dreamstime.com

INDUSTRI dirgantaraIndonesia pernah berjaya di era 1990-an. Ketika itu PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (kini – PT Dirgantara Indonesia/PT DI) memproduksi pesawat yang populer dengan nama N-250 atau Gatotkaca. Selain itu, ada pula produk pesawat CN-235, helikopter, dan lainnya.

Sejak itu produk-produk IPTN banyak dibeli oleh sejumlah negara seperti Brunei Darussalam, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, dan Filipina.

Namun, krisis moneter pada 1998 menenggelamkan laju roda industri. Belum lagi, terseok-seok masalah internal hingga dipailitkan oleh karyawannya sendiri. Meski akhirnya pada 2007, pengadilan mencabut keputusan pailit itu.

Pada 2012, industri PT DI mulai menggeliat dengan memproduksi sejumlah pesawat. Terakhir, Korea Selatan memesan pesawat CN-235 Korea Coast Guard (KCG). Korea Selatan merupakan pasar potensial PT DI, yang sampai kini telah mengoperasikan delapan unit CN235, enam unit versi military transport dan dua unit versi VIP/VVIP.

Mulai tahun lalu, PT DI mengalami untung sekitar Rp 60 miliar, setelah sebelumnya dililit utang. Direktur Utama PT DI Budi Santoso mengatakan tahun lalu perusahaan pun bisa meraup omset sebesar Rp 3 triliun. Ia berharap bisa menambah untung lebih besar lagi tahun ini.

Untuk mendukung daya produksi, PT DI mulai memordenisasi teknologi produksinya. Budi mengatakan selama hampir 20 tahun teknologi PT DI tidak pernah diperbarui. “Tahun depan kami selesaikan modernisasi, termasuk juga software untuk produksi,” ujarnya dalam diskusi Aerospace saat Kongres Diaspora di Jakarta (19/8).

Untuk memperbarui software, pihaknya mendatangkan konsultan dari Airbus sebanyak 20-30 orang ke Bandung, Jawa Barat. “Selama dua tahun membantu sistem kami dengan gratis. Kenapa bisa? Karena mereka ingin suatu saat bisa mempunyai fasilitas produksi di Indonesia,” katanya.

Optimisme untuk bangkit seperti kejayaan dulu masih ada. Presiden Direktur PT Ilthabi Rekatama Ilham Habibie, anak dari Presiden RI ketiga BJ Habibie, memiliki keyakinan itu.

Ia melihat pangsa pasar Indonesia yang begitu potensial. “Saya kira, kita harus belajar untuk berpikir besar, karena biasanya kita berpikir terlalu kecil,” ujar Ilham.

sumber: http://www.network54.com

Memproduksi pesawat terbang adalah suatu lambang. Jika itu berhasil, kata Ilham, tidak hanya berhasil dari segi teknik, tapi juga menciptakan industri. ”Itulah masa depan bangsa. Kita harus menciptakan nilai tambah, di mana salah satunya pesawat terbang,” katanya.

Menurut Ilham, Indonesia memiliki keunggulan pasar yang begitu besar. “Pertanyaanya kenapa kita tidak melihat suatu ‘niche’, peluang tidak hanya sukses di pasar regional, tapi juga di dunia,” katanya.

Pesawat terbang regional sangat dibutuhkan di Indonesia. Karena melihat geografisnya, moda pesawat adalah yang cocok untuk mencapai antarpulau. Maka, untuk mencapai industri pesawat, kata Ilham, perlu dukungan stabilitas ekonomi nasional dan kualitas sumber daya manusia.

Hal itu juga sependapat dengan pemikiran Direktur Utama PT Lion Mentari Airlines Rusdi Kirana. Menurut dia, Indonesia memiliki pasar besar dan itu salah satu kunci dari bangkitnya industri dirgantara. Bayangkan, jumlah penumpang pesawat terbang domestik pada 2012 naik sekitar 15 persen, sedangkan kenaikan regional sebesar 6 persen per tahun. “Ini peluang kita semua. Apakah peluang ini kita hanya jadi operator? Pembeli? Hanya jadi pasar?” kata Rusdi retoris.

Data dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, jumlah penumpang seluruh maskapai secara nasional tahun lalu mencapai 72,4 juta orang. Di mana, jumlah penumpang domestik sebanyak 63,6 juta orang.

Ia menceritakan bagaimana memulai Lion Air pada 13 tahun lalu, hanya bermodalkan US$ 900 ribu. Akhir tahun lalu, Lion Air sudah mengangkut sekitar 24 juta penumpang. Revenue Lion Air pun diperkirakan tahun ini mencapai US$ 2 miliar. “Ini bukan karena saya mampu tapi diberkati negara yang besar, karena negara ini potensial untuk kita maju,” ujarnya.

Ia juga menyinggung rencana pemesanan pesawat N219 kepada PT DI. Ia berharap pesawat itu bisa terbang dua tahun lagi. “Ini tidak saja sebagai kebangkitan industri, tapi kita melanjutkan Pak BJ Habibie punya visi,” katanya.

Untuk membangkit geliat industri, Rusdi menilai PT DI tak perlu harus sama dengan pabrikan Airbus, Boeing atau Embraer. “Karena kita punya market. Tinggal kita mau tidak mendayagunakan kemampuan kita. Dan teknologi sudah dimiliki PT DI,” ujarnya.

Wacana itu ternyata berimbas positif bagi PT DI. Beberapa pembeli pun sudah mengontak PT DI lantaran rencana pembelian Lion Air itu. “Begitu mengatakan ingin membeli (CN219), langsung penjual melihat kita punya leverage (pengaruh),” kata Budi. 

(Dimuat di edisi perdana HARIAN NASIONAL pada 31 Agustus 2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s