Remaja Merokok, Siapa yang Berperan?

sumber: Harian Nasional

PEROKOK remaja (10-15 tahun) tumbuh dua kali lipat lebih dalam jarak 10 tahun. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada 1995 menunjukkan jumlah mereka sekitar 7 persen, sedangkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 20010 sekitar 17,5 persen.

Dari data itu, remaja laki-laki pada naik dari 14 persen menjadi 37 persen, sedangkan para perempuan 0,3 persen meningkat menjadi 1,6 persen. Kondisi ini memprihatinkan, karena generasi ini bakal terbebani masalah kesehatan di masa depan.

Tim Advokasi Komunitas Kretek, Daru Supriyono berpandangan bahwa perokok remaja makin banyak disebabkan kontrol dari orangtua sangat kurang. Menurut dia, sebelum menyerahkan tanggungjawab anak kepada negara, kontrol dan pengawasan orangtua terhadap anak adalah hal utama.

“Harus ada edukasi dari orangtua kepada anak-anak,” kata Daru kepada saya, Minggu (15/9). Ia tidak sependapat jika masalah ini kemudian dibebankan pada perusahaan rokok. Menurut dia, produk rokok sudah dibatasi sedemikian rupa di ruang publik, termasuk iklan di media massa.

Ia juga kurang sependapat dengan hasil survei Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pada 2013 bahwa remaja merokok karena pengaruh paparan iklan rokok. “Saya kira itu berlebihan,” katanya. Ia menganalogikan hal itu dengan anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor, lalu menabrak orang hingga tewas. “Masa yang disalahkan perusahaan motornya,” kata Daru.

Daru mengatakan, komunitasnya tak menampik bahwa masyarakat perlu hidup sehat. Tetapi, masalah rokok ini sebetulnya lebih pada “manajemen asap”. Ia mengusulkan agar diperbanyak ruang-ruang untuk merokok.

Pekan lalu, Komnas PA melansir survei bahwa 15 persen responden tertarik membeli rokok setelah melihat iklan rokok. Sebanyak 9 persen tertarik mencoba rokok dan 3 persen segera memberli rokok usai mengikuti acara yang disponsori perusahaan rokok.

“Sekitar 93 persen responden memiliki kesan positif atas kegiatan perusahaan rokok dan 50 persen di antaranya menceritakan pengalamannya kepada teman,” kata Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait, Kamis pekan lalu.

Arist mengatakan, meski iklan rokok tidak lagi menunjukkan wujud rokok, tapi hal itu masih membuat keingintahuan remaja untuk merokok. Komnas PA meminta agar media massa mematuhi Peraturan Pemerintah Nomor 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif. Juga, membatasi akses pelajar terhadap rokok melalui menaikkan harga rokok dan sanksi.

Arist menilai sudah saatnya Mahkamah Konstitusi dapat menilai kembali undang-undang tentang larangan iklan rokok. “Apalagi setelah ditetapkannya tembakau sebagai zat adiktif dalam UU Kosehatan Nomor 36/2009,” katanya.
Dimuat di HARIAN NASIONAL, 16 September 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s