“Saya Seperti From Hero to Zero

sumber: okezone.com

IRJEN Pol Djoko Susilo mengatakan, dakwaan dan tuntutan jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai sebuah ketidakadilan. Tiga puluh menit sidang berjalan, Djoko sempat tercekat tak mampu melanjutkan nota pembelaannya (pleidoi).

Tapi ia tahan agar tangisnya tak tumpah, lalu melanjutkan kembali dengan suara agak gemetar. Kepada hakim, ia membantah telah mengatur tender dan melakukan mark-up harga, serta menerima uang sebesar Rp 2 miliar.

Ia menilai tingginya tuntutan juga membuat keluarganya terbebani. “Saya benar-benar merasa dijatuhkan dari tempat tinggi ke jurang yang sangat dalam. Kondisi saya seperti ‘from hero to zero’. Karir yang dirintis puluhan tahun, hancur seketika,” katanya di Pengadilan Tipikor, pada 27 Agustus 2013.

Djoko mengatakan, kejadian yang menimpanya adalah kehendak Allah SWT. Ia tak menduga akan mengalami kejadian seperti saat ini. “Saya dituduh (korupsi dan pencucian uang). Saya ikhlas dan memaafkan yang telah mendzalami saya. Astagfirullah, ampuni yang dzalim terhadap saya, ya Allah,” katanya.

Dalam sidang sebelumnya, JPU menuntut Djoko dengan penjara 18 tahun dan denda Rp 1 miliar. Djoko dinilai terbukt melanggar dakwaan pertam primer yaitu pasal 1 ayat 1 junto pasal 18 UU Pemberantasan Korupsi junto pasal 65 ayat 1 KUHPidana. Ia diduga menerima uang sebesar Rp 32 miliar dari Direktur Utama PT Citra Metalindo Mandiri Abadi, Budi Susanto. Djoko diduga memenangkan perusahaan tersebut dalam lelang proyek senilai Rp 200,56 miliar. Ia pun dinilai merugikan negara sebesar Rp 121 miliar.

Dalam perkara pencucian uang pada tahun 2011, Djoko dinilai melanggar pasal 3 UU Pencegahan dan Pemberantasan Tipikor junto pasal 55 ayat 1 junto pasal 65 ayat 1 KUHP. Lalu, terkait dugaan pencucian uang antara 2003-2010, ia dikenai pasal 3 ayat 1 huruf c UU Tindak Pidana Pencucian Uang junto pasal 55 ayat 1 junto pasal 65 ayat 1 KUHP.

Djoko menilai tuntutan jaksa dibuat tanpa memperhatikan fakta-fakta persidangan, bukti-bukti yang ada, rasa keadilan, dan hati nurani. “JPU ternyata memasukan keterangan saksi dalam BAP (berkas acara pemeriksaan) ke dalam tuntutan. Padahal keterangan saksi jelas berbeda di depan persidangan,” katanya.

“Jika memang tidak menggunakan fakta persidangan, lalu untuk apa dilakukan persidangan ini. Lebih baik sejak awal saya dituntut, tanpa melalui proses pengadilan. Lebih singkat, tidak memboroskan anggaran negara..”

Djoko mengakui lalai dalam penggunaan anggaran di Korlantas Polri. “Saya akui bahwa tidak pernah memeriksa hasil kerja anggota saya secara mendetil. Saya langsung teken dokumen yang ditujukan kepada saya,” katanya.

“Dengan kejadian ini saya menyesal. Apabila kelalaian saya dianggap sebagai bentuk kesalahan, saya siap bertanggungjawab selaku kepala Korlantas, penguasa penggunaan anggaran.”

Djoko mengatakan kasus dirinya terlalu diblow-up oleh media, sehingga hukuman sosial terhadapnya begitu besar. “Saya seperti terkena hantaman petir sangat dahysat. Saya berpikir kiamat sudah dekat,” katanya.

Dia menyebut penyitaan sejumlah aset adalah tidak sesuai dengan pokok perkara. “Padahal aset tersebut saya peroleh dengan legal,” katanya. “Pendapat para pakar hukum diabaikan begitu saja, bahwa aset saya tidak perlu disita.”

Ia juga kecewa dengan KPK yang telah mempublikasikan kehidupan pribadinya, yang cenderung sebagai cara pembunuhan karakter dirinya.”Saya telah dihukum opini masyarakat, sebagai penjahat besar. Dicap koruptor besar. Nama baik saya dan keluarga telah hancur,” katanya.

Menurut dia, opini masyarakat yang berkembang seperti sudah memvonis dirinya, padahal proses hukum masih berlangsung. Maka, ia meminta agar Majelis Hakim dalam memutuskan kasusnya menggunakan fakta-fakta persidangan, bukan pada opini atau intervensi kelompok tertentu. “Pemberitaan media sudah memojokkan saya,” katanya.

Ia menyampaikan maaf kepada keluarga dan Polri akibat kasus dirinya mendapatkan stigma negatif. “Saya yakin Polri di masyarakat sebagai pangayom akan berbenah diri,” tuturnya.

Sidang dimulai pukul 14.05, Djoko tampil rapi dengan batik warna emas. Pleidoi yang disampaikan oleh tim pengacara hanya berjumlah 121 halaman. Ini lebih ringkas dibandingkan jumlah keseluruhan yang mencapai sekitar 4.000 halaman. Djoko membacakan pleidoi sekitar satu jam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s