Mereka Memilih Menjadi Patung

salah seorang manusia patung di Monas, Jakarta Pusat (foto: andisn)

BAGAIMANA rasanya dipanggang Matahari seharian? Tanyalah kepada Sugeng Raharjo (37), yang sehari-hari menjadi manusia patung di Taman Monumen Nasional, Jakarta.

“Risiko panas itu sudah biasa. Saya punya hobi naik gunung, saya pernah jalan Jakarta-Bogor, jadi seperti ini enggak kaget,” ujar Sugeng di sela melayani pengunjung Monas untuk berfoto bersama, Kamis (5/12).

Ia memakai baju ala militer bewarna emas. Sampai wajahnya pun diwarnai emas, hanya giginya yang tak ia warnai. Memanggul bedil layaknya tentara, ia pun mematung. Jika ada pegunjung meminta foto bersama, ia berhenti lalu berpose sesuai selera pengunjung. Hari itu, ada empat orang yang menemaninya. Tiga orang berdandan militer juga, sedangkan satunya ala kuntilanak.

Ada 12 orang tergabung dalam Communitas Manusia Batu Monas (Combatnas). Mereka bergantian menjadi patung untuk menghibur pengunjung. Banyak yang ingin berfoto bersama. Setelah berfoto, pengunjung cukup memberi uang sukarela di ember yang disediakan. Tak ada tarif yang ditetapkan, seperti tukang foto keliling yang tak jauh dari mereka.

“Sehari kami bisa mengumpulkan uang Rp 100 ribu per orang,” Sugeng mengatakan, biasanya mereka memulai hari sekitar pukul 10.00 atau selepas zuhur sampai Matahari terbenam. Tak semua anggota turun ke lapangan, tapi biasanya 4-5 orang. “Saya juga masih bekerja sebagai koki di toko roti,” kata laki-laki asal Magelang ini. Ia biasa bekerja jadi koki mulai malam hari, sehingga pagi atau siang bisa menjadi manusia patung. Tetapi, teman-teman lain ada yang bekerja penuh sebagai manusia patung.

Jika akhir pekan, sejak pukul 7.00 mereka sudah berada Monas, karena pengunjung biasanya lebih banyak ketimbang hari biasa. Penghasilan pun bisa bertambah. Orang-orang yang ada dalam komunitas ini sebagian migrasi manusia patung dari Museum Fatahillah di Jakarta Batu. Awalnya tren manusia patung ini memang dari sana. Mereka kemudian ada yang berpindah ke Monas. Tapi, menurut Sugeng, meski tidak satu komunitas, mereka saling membantu bila ada job.

Sugeng mengatakan, seringkali komunitasnya disewa dalam acara-acara baik instansi pemerintahan ataupun swasta. “Kemarin hari disewa Kementerian Kesehatan 7 orang selama tiga jam. Kami dapat Rp 5 juta. Sebelumnya juga oleh Indosat kami bertiga dapat Rp 8 juta,” katanya.

Jika ada job seperti itu, Sugeng mengatakan, diadakan undian seperti halnya arisan, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan. Dalam waktu dekat, mereka juga bakal disewa lagi untuk acara rumah hantu di Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Untuk membuat properti selayaknya patung, memang tak butuh uang banyak. Jaket ala militer bisa dipakai untuk lebih dari tiga bulan. Jika cat di jaket sudah banyak terkelupas, mereka cat ulang. “Ini pakai cat duco,” katanya. Jaket mereka ada yang dicat hijau, biru, hitam, dan emas. “Untuk make-up wajah, ini dari bahan kosmetik seharga Rp 25 ribu, bisa dipakai untuk tiga hari,” katanya.

Memandang mereka dari kejauhan memang layaknya patung yang terbuat dari batu. Mereka bisa mematung dalam waktu cukup lama. Jika sudah tak kuat, mereka istirahat. Begitu seterusnya, mereka menjalani hari di bawah Matahari, untuk memilih menjadi patung-patungan.

Dimuat di HARIAN NASIONAL, Minggu (8/12/2013)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s