Memahami Serba-Serbi Jurnalisme

Judul : 50 Tanya-Jawab tentang Pers
Pengarang : Agus Sudibyo
ISBN : 9789799106650
KPG : 901130760
Ukuran : 200 x 135 mm
Halaman : 226 halaman
Harga : Rp 40,000

APAKAH infotainment termasuk bagian dari jurnalistik? Pertanyaan ini sampai sekarang masih menjadi perdebatan pan jang di kalangan pers. Sebagian kalangan media menilai infotainment hanya mengekspos hal-hal yang berbau privat dan gosip para selebritas yang tidak layak ditonton khalayak.

Agus Sudibyo, anggota Dewan Pers periode 2010-2013, menjelaskan secara lugas persoalan hal itu dalam buku terbarunya berjudul “50 Tanya-Jawab Tentang Pers”  (2013).

Ada tiga tolak ukur yang dipakai Agus Sudibyo untuk menilai apakah produk infotainment termasuk jurnalistik atau bukan.  Pertama , siapa yang memproduksi atau yang bertanggungjawab secara langsung atas program infotainment di stasiun televisi?  Ruang redaksi (newsroom) atau divisi lain? Jika program infotainment dimaksudkan sebagai program jur  nalistik, jelas dia harus melekat kepada ruang redak si, menjadi bagian integral lingkup tanggungjawab penanggungjawab redaksi. “Perlu digarisbawahi, ranah jurnalistik di sebuah stasiun televisi sebenarnya terbatas pada ruang redaksi ini,” tulis Agus. (hal. 37).

Tolak ukur kedua , apakah yang dibahas dalam tayangan infotainment? Perlu digarisbawahi, tidak semua segi dari kehidupan seorang artis bersifat pribadi dan tidak koeksisten, dan tidak bersifat komplementer atau saling menggantikan,” tulisnya (hal. 39).

Tak hanya persoalan itu yang dipaparkan Agus dalam bukunya. Banyak hal tentang jurnalisme yang dibahas seperti budaya amplop, berita negatif, keberimbangan di media siber, kekerasan terhadap wartawan, komentar-komentar di media siber menjadi tanggung jawab siapa, jurnalisme warga, media sosial sebagai sumber liputan, cara pengaduan ke Dewan Pers, fungsi humas, surat pembaca, dan lain-lain. Buku ini disusun dalam bahasa yang populer yang lebih mudah dimengerti pembaca.

Ia menyusun dalam bentuk pertanyaan karena ingin langsung menukik dalam persoalan sehingga lebih mudah diserap pembaca. Dalam buku ini pembaca dapat secara langsung masuk ke dalam persoalan-persoalan yang dilontarkan tanpa harus membaca secara berurutan. Dalam ulasannya, Agus sesekali memberikan dengan contoh-contoh  sebuah berita yang dianggap berita negatif atau bersifat menghakimi.  Ia mengatakan, sejauh ini masih ada banyak salah paham tentang segi- segi kehidupan pers di berbagai kalang an, termasuk kalangan pers sendiri.Menurut dia, besarnya fungsi dan peranan pers belum diimbangi dengan pemahaman yang memadai layak diberitakan media.

Menurut dia, banyak segi kehidupan pribadi seorang artis yang masih layak untuk diberitakan. Misalnya, jika ada artis mendirikan sekolah sepak bola, yayasan amal, menjadi duta lingkungan, menjadi calon legislatif, artis tersangkut kriminalitas. Dalam istilah Agus, hal itu mengandung nilai publik tertentu. Jadi jika infotainment menyoroti hal-hal seperti itu termasuk kategori karya jurnalistik, berbeda dengan berita yang berisi gosip dan privasi selebritas. Agus tak memungkiri kisah pribadi para selebritas banyak disukai khalayak. Persoalannya, fungsi jurnalisme bukan hanya menyajikan sesuatu yang menarik atau yang banyak disukai khalayak.

Ketiga , penentuan infotainment menjadi bagian karya jurnalistik atau tidak dalam dilihat dari segi perilaku awak infotainment di lapangan. Apakah mereka secara konsekuen bekerja berdasarkan Kode Etik Jurnalistik? Apakah mereka pernah mengikuti pelatihan jurnalistik? Apakah mereka dapat menjaga sopan-santun dan menghargai hak-hak subjek berita? Apakah mereka telah melakukan proses mencari, mengolah, dan menyajikan informasi sebagaimana layaknya wartawan profesional?

“Tiga tolak ukur ini harus berjalan secara pararel bersifat koeksisten, dan tidak bersifat komplementer atau saling meng-gantikan,” tulisnya (hal. 39).

Tak hanya persoalan itu yang  dipaparkan Agus dalam bukunya. Banyak hal tentang jurnalisme yang dibahas seperti budaya amplop, berita negatif, keberimbangan di media siber, kekerasan terhadap wartawan, komentar-komentar di media siber menjadi tanggung jawab siapa, jurnalisme warga, media sosial sebagai sumber liputan, cara pengaduan ke Dewan Pers, fungsi humas, surat pembaca, dan lain-lain. Buku ini disusun dalam bahasa yang populer yang lebih mudah dimengerti pembaca.

Ia menyusun dalam bentuk pertanyaan karena ingin lang-sung menukik dalam persoalan, sehingga lebih mudah diserap pembaca. Dalam buku ini pembaca dapat secara langsung ma-suk ke dalam persoalan persoalan yang dilontarkan tanpa harus membaca secara berurutan.

Dalam ulasannya, Agus sesekali memberikan dengan contoh-contoh sebuah berita yang dianggap berita negatif atau bersifat menghakimi. Ia mengatakan, sejauh ini masih ada banyak salah paham tentang segi- segi kehidupan pers di berbagai kalangan, termasuk kalangan pers sendiri. Menurut dia, besarnya fungsi dan peranan pers belum diimbangi dengan pemahaman yang memadai.

Persoalan “amplop” populer di kalangan wartawan. Isitilah lain adalah “jaleh” yang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti jelas. Tapi dalam “permainan” lain tak hanya amplop berisi uang yang diberikan kepada wartawan. Bahkan, melalui rekening pribadi sang wartawan atau dalam bentuk lain sebagai ucapan erimakasih telah “mengamankan” berita sang narasumber dari berita negatif. Ia juga bertanya dengan nada sindiran apakah redaktur, redaktur pelaksana, atau bahkan pemimpin redaksi tak mengharap pula jika reporter sudah menerima amplop?

Dan pada akhirnya, jurnalisme itu, kata Ketua Dewan Pers Bagir Manan dalam pengantar buku, semestinya tidak hanya pelaku pers saja yang memahami seluk-beluk kehidupan pers. Semua kalangan perlu memahami tentang pers sebagai bagian dari kehidupannya. “Pers yang sehat dan bermutu tidak hanya ditentukan oleh tingkat profesionalisme pers. Tidak kalah penting adalah publik yang sehat dan bermutu pula, sehingga dapat mengetahui benar bagaimana menghadapi dan memperlakukan pers secara tepat. Keduanya adalah two sides of one coin ,” kata Bagir.

Dimuat di Harian Nasional, 29 Desember 2013 dalam rubrik resensi buku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s