Sekelumit Catatan Politik Anas

Judul : Janji Kebangsaan Kita (Kumpulan Esai Sosial-Politik)
ISBN : 978-602-14111-0-0
Penulis : Anas Urbaningrum
Penerbit : Penerbit Sierra bekerjasama dengan Perhimpunan Pergerakan Indonesia
Cetakan : Pertama, September 2013
Tebal : 210 + xxiii
Harga : 49.500

ANAS Urbaningrum memang menarik khalayak. Kicauannya di akun Twitter pun bisa menjadi sebuah berita dan tentunya masih ingat status BlackBerry-nya yang membuat “geger” politik terkait apa dan mengapa ia menulis: Politik Para Sengkuni?, saaat ia “berkonflik” dengan internal Demokrat. Anas memang news maker, apalagi sejak ia diduga menerima gratifikasi dalam proyek pusat olahraga di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Tiga bulan sebelum ia dijebloskan ke tahanan KPK, buku terbarunya, Janji Kebangsaan Kita, dicetak. Tap ia baru diluncurkan pada 17 Januari 2014 bersamaan dengan peluncuran buku Selalu Ada Pilihan karya Susilo Bambang Yudhoyono.

Buku itu merupakan sekumpulan artikel yang ditulis dirinya di sejumlah surat kabar. Ia mengelompokkan tulisannya dalam empat bagian, yaitu Kebangsaan Kita, Politik & Demokrasi, Kesalehan Sosial, dan Membangun Budaya Demokrasi. Dalam prakatanya, Anas menilai bukunya sebagai gugahan untuk mengingat kembali Indonesia. “Menjadi Indonesia adalah pilihan kita,” katanya.

Dalam kaitannya soal politik, ia menawarkan istilah Demokrasi Produktif, karena demokrasi yang berlangsung selama ini belumlah substansial; belum menyelesaikan masalah-masalah konkret. Demokrasi Produktif, menurutnya, adalah tatanan politik yang mampu membagi insentif demokrasi secara proporsional kepada semua peserta di dalam sistem tersebut baik lembaga politik, elite politik, dan rakyat. Baginya Demokrasi Produktif mampu menyediakan solusi bagi rakyat sehingga tujuan berbangsa tidak tenggelam dalam riuh-rendah politik.

Apa itu pembagian insentif? Apakah bagi-bagi “kue” APBN? Anas tidak menegaskannya, tetapi malah mengatakan, pembagian insentif itu dalam bentuk kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Artikel-artikel itu ditulis sekitar 2010 semasa ia menjadi Ketua Umum Partai Demokrat. Ia menyisipkan sejumlah foto kunjungan di berbagai daerah. Bahasa yang dipakai mudah dipahami, agak normatif,  dan terkesan kaku. Seperti orang berceramah tentang makalahnya. Topik yang ia tulis lebih mengulang-ulang sehingga agak membosankan bagi penyuka isu politik. Ia menulis tematik, seperti berkaitan dengan Imlek, Idul Fitri, Nyepi, Idul Adha, Ramadhan. Buku ini pun menjadi sedikit miskin informasi tentang apa gagasan kuat politik kebangsaan atau cita-cita pribadi seorang Anas dalam kiprah politik.

Dalam prakatanya, Anas menyadari betul bahwa buku ini bukanlah “sebuah buku”. “Apa yang saya lakukan sekarang hanyalah menyumbang sekadar catatan kaki dalam perjalanan sejarah kita, menawarkan, dan memberikan makna,” katanya.

Dimuat di Harian Nasional, 2 Februari 2014

sumber gambar: berita.plasa.msn.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s