Mereka Memilih Menjadi Patung

salah seorang manusia patung di Monas, Jakarta Pusat (foto: andisn)

BAGAIMANA rasanya dipanggang Matahari seharian? Tanyalah kepada Sugeng Raharjo (37), yang sehari-hari menjadi manusia patung di Taman Monumen Nasional, Jakarta.

“Risiko panas itu sudah biasa. Saya punya hobi naik gunung, saya pernah jalan Jakarta-Bogor, jadi seperti ini enggak kaget,” ujar Sugeng di sela melayani pengunjung Monas untuk berfoto bersama, Kamis (5/12).

Ia memakai baju ala militer bewarna emas. Sampai wajahnya pun diwarnai emas, hanya giginya yang tak ia warnai. Memanggul bedil layaknya tentara, ia pun mematung. Jika ada pegunjung meminta foto bersama, ia berhenti lalu berpose sesuai selera pengunjung. Hari itu, ada empat orang yang menemaninya. Tiga orang berdandan militer juga, sedangkan satunya ala kuntilanak. Continue reading “Mereka Memilih Menjadi Patung”

Advertisements

Jokowi dan Lelang Jabatan: Sebuah Antiklimaks!

TAK PERNAH ada pelantikan jabatan di era gubernur Jakarta sebelumnya, yang mendapatkan label rekor MURI. Biasanya, pelantikan berlangsung dalam ruangan tanpa embel-embel lainnya. Tapi kali ini, pelantikan para pejabat setingkat lurah dan camat di Jakarta itu berlangsung meriah di halaman Balaikota DKI Jakarta.

Jokowi-Ahok mendobrak budaya birokrasi yang cenderung korup dengan proses lelang jabatan. Ini diharapkan muncul sosok yang ulet, bersih, dan tegas. Dan lelang jabatan tersebut, sebuah ketegasan bahwa posisi lurah dan camat merupakan ujung tombak keberhasilan Jokowi-Ahok.

Sebuah rahasia umum jika kebanyakan masyarakat sering mengeluhkan adanya pungutan liar dan proses pelayanan yang lama. Pembuatan KTP yang harusnya gratis bisa mencapai ratusan ribu bila ditambah mengurus KK. Padahal biaya pengurusan KK paling besar Rp3.000 [1]. Belum waktunya yang bisa mencapai berbulan-bulan. Di masa Jokowi-Ahok ini sebagian sudah ada yang merasakan pelayanan yang lebih baik. Continue reading “Jokowi dan Lelang Jabatan: Sebuah Antiklimaks!”

Dari Johar 8: Twitter dan Teori Getok Tular

ANDA tahu bagaimana kedai kopi Starbucks menggapai sukses? Kedai kecil yang berdiri di Seattle, Washington, Amerika Serikat pada 1971 itu sekarang memiliki 15.013 kedai di 44 negara, termasuk di Indonesia.

Tiga sekawan pendirinya; Jerry Baldwin, Zev Siegl, dan Gordon Bowker, menjadi pengusaha besar berkat promosi kopinya dari mulut ke mulut pelanggannya.

Joseph A. Michelli dalam The Starbucks Experience: 5 Princiles For Turning Ordinary Into Extraordinary (Erlangga: 2007) mengatakan bahwa untuk memberikan kualitas tetap bagi pelanggan, Starbucks menciptakan sebuah pelayanan menyenangkan. Continue reading “Dari Johar 8: Twitter dan Teori Getok Tular”

Dari Johar 8: Puasa dan Jalan Kemerdekaan

DERU politik pemilihan gubernur di Jakarta berhenti untuk sementara waktu dan baru akan berlanjut September mendatang. Selama jeda itu, kita berjumpa kembali dengan bulan agung (syharun adzim mubarok). Juga disebut pula dengan “sayyid al syuhur“; bintang dari seluruh bulan dalam setahun.

Ramadan adalah waktunya menanam kebaikan:  fastabiqul khairat; berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan (QS Al Baqarah: 148). Jadikan ini bulan untuk menghapus lumpur-lumpur kemaksiatan politik maupun sosial yang sudah diperbuat. Melepas topeng keberpuraan selama ini sebagai politik pencitraan. Continue reading “Dari Johar 8: Puasa dan Jalan Kemerdekaan”

Dari Johar 8: Ngono Ya Ngono, Ning Mbok Aja Ngono

SEKITAR 16 tahun lalu penyair Emha Ainun Nadjib berkirim surat kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Ia berkeluh, mengapa umat Islam yang tiap tahun bermaulid Nabi, belum juga mengerti betul tentang ajarannya.

…Kami mencintaimu, namun kami belum benar-benar mengikutimu…,” tulis Emha dalam surat itu. Membaca surat itu, sepertinya kita ini sebagai muslim, kok belum pantas menjadi muslim. Yang makin saya sedih, di pemerintahan yang semakin korup ini, kok tiba-tiba: ada anggota DPR menjadi tersangka atas tuduhan terima suap dalam proyek pengadaan kitab suci Al Quran di Kementerian Agama. Astagfirullah!

Apa sudah tidak ada hal yang dikorupsi selain Kitab Suci? “Silahkan korupsi di tempat lain, tapi jangan Al Quran yang dikorupsi,” kata Wakil Menteri Agama Nasarudin Umar, beberapa waktu lalu di televisi. Continue reading “Dari Johar 8: Ngono Ya Ngono, Ning Mbok Aja Ngono

Dari Johar 8: Eling Lan Waspada

 

SELAMA sepekan kemarin orang-orang ribut, bahkan emosional lantaran Tari Tor-Tor dan Gordang Sambilan tiba-tiba diklaim Malaysia. Malaysia bilang bukan diklaim tapi mempromosikan dan melestarikan budaya tanah Batak itu.

Kelakuan negeri jiran tersebut memang berkali-kali membuat suasana jadi gaduh antara saudara Melayu. Dua tahun lalu, alat musik Angklung milik kebudayaan orang Sunda, diklaim pula sama mereka. Sebelumnya, Tari Pendet dan Batik. Bah, macam mana pula ini!

Tak cuma masalah klaim-mengklaim yang lagi di-blow-up media, juga masalah kondom. Sebagian masyarakat menghujat Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi lantaran pernyataannya yang ingin menyosialisasikan kondom kepada anak-anak remaja.

Apes, juga Ibu menteri ini. Belum ada sebulan menjabat, sudah diterpa kontroversi. Memang sebagian dari kita ini suka dengan kontroversi. Kalau enggak begitu, enggak seru sih, katanya. Apa iya, kita harus berkontroversi terus, tapi masalah utamanya tidak pernah diselesaikan. baca selanjutnya

Dari Johar 8: Martabak

SELAMA tiga hari lalu Bude Prada mengajak seluruh keluarga ke Puncak, Bogor. Di salah satu villa, kami tinggal dan bercengkrama. Kata Bude, hidup itu sesekali perlu refreshing, tidak perlu serius-serius.

Sambil lesehan di teras villa kami berbincang ngalorngidul, pokoknya senang-senang sajalah. Sampai suatu kali, Simbok berucap,”Bude, dingin-dingin begini enaknya kalau ada martabak.”

Orang-orang yang ada di situ langsung setuju, tapi namanya di Puncak, mana bisa beli martabak. Mau cari keluar villa tentunya terlalu jauh. Jadi keinginan itu tidak bisa terkabulkan alias gagal. “Sudah-sudah. Simbok, kamu ini juga lucu, di tempat begini kok mintanya yang aneh-aneh. Mana ada martabak,” kata Bude menyela.

“Memangnya enggak boleh ya Bude, punya keinginan itu,” kata sopirnya Bude menyahut. Bude sambil mencomot ketela rebus kemudian mulai memberikan ceramahnya, seperti yang sudah-sudah dilakukan di rumah. Mula-mula ia bercerita bahwa seseorang itu perlu memiliki mimpi, dan itu perlu diraih dengan suatu cara. baca selanjutnya